Menakar Arti Pahlawan : Komparasi Sejarah, Idealita, dan Realita


heroSepuluh November, 83 hari setelah proklamasi yang heroik. Hari yang sangat spesifik dan mengandung makna historis yang sangat dalam bagi bangsa ini. Saat itu, terjadi peperanag pertama setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Banyak nyawa yang gugur demi mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan yang baru saja diteguk. Mereka yang gugur saat itu, baik yang tercatat dalam buku-buku sejarah ataupun yang dilupakan seiring kemajuan zaman, akan terus dikenang, dihormati, dan diteladani menjadi percikan-percikan semangat kebangsaan, dengan gelar pahlawan.

Indonesia adalah Negara yang sudah tua, secara usia. Namun masih muda dalam kosa kata. Kita tau bermasa bahwa sebagian besar bahasa Indonesia adalah serapan dari berbagai bahasa, mulai dari bahasa sansekerta, arab, jawa, inggris menyatu menjadi bahasa yang kita sebut sebagai bahasa persatuan bahasa Indonesia. Kata pahlawan ini juga termasuk kata serapan, berasal dari bahasa sansekerta, pahlawan atau phala-wan yang berarti orang yang dari dirinya menghasilkan buah (phala) yang berkualitas bagi bangsa, negara, dan agama) adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani.
Pada saat itu, buah-buahan atau tanaman yang bernilai tinggi adalah tanaman yang berkarakteristik sebagai rempah. Filosofi buah pala ini sesuai dengan nilai komoditas saat itu ketika rempah-rempah menjadi emas bagi seluruh manusia. Itu pula yang menjadikan Indonesia bernilai emas dimata para penjajah saat itu. Buah ini ternyata punya karakteristik unik, layaknya pahlawan, panen pertama dilakukan 7 sampai 9 tahun setelah pohonnya ditanam dan mencapai kemampuan produksi maksimum setelah 25 tahun. Tumbuhnya dapat mencapai 20 meter dan usianya bisa mencapai ratusan tahun.
Buah dengan masa panen yang lama dari awal tanamnya, dan berusia hingga ratusan tahun seolah selaras dengan sosok pahlawan. Mereka, manusia-manusia berkualitas tinggi yang tidak hadir dalam setiap masa,namun ada di setiap momentum. Manusia yang melakukan langkah revolusif dan reformatif dengan kalkulasi dan implikasi yang dipikir dengan matang melalui analisis ilmiah. Manusia yang berkualitas, menjadi inspirasi dan teladan untuk diri sendiri, golongan, hingga tataran masyarakat dengan perbedaan sosial yang variatif. Merekalah, manusia yang layak dan mampu memimpin Indonesia yang berusaha dewasa. Mereka yang berkorban bukan mengorbankan. Mereka yang bertanggungjawab, bukan mengkambinghitamkan. Mereka yang mempersatukan, bukan memecah kebhinekaan.
Namun, ada satu kekeliruan dalam cara pandang kita bersama dalam memaknai arti pahlawan. Sejak kecil, putra-putri Indonesia dibiasakan enerima pelajaran sejarah yang teoritis, bukan kepada pemaknaan yang dalam terhadap kejadian masa lalu. Kita terbiasa memahami bahwa pahlawan adalah mereka yang gagah berani memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan, dan pasti mati. Walaupun kemerdekaan memang terwujud dan berhasil dipertahankan. Diperparah dengan adanya hari pahlawan.

Menurut saya, keseluruhan hari-hari nasional yang diperingati di Indonesia terlalu banyak. Efeknya, itu hanya menjadi seremonial dan rutinitas tahunan bersama, tanpa ada pemahaman dan pemaknaan yang mendalam. Di setiap upacara peringatan, hanya dibacakan pidato birokratif yang bahkan para pejabat tersebut tidak membuatnya sendiri. Lalu menyanyikan bersama lagu-lagu nasional dengan nada sedih dengan alas an mengenang dalam jasa para pahlawan. Internalisasi palsu bagi saya. Pemuda-pemudi kita belum paham benar akan arti seorang pahlawan, ini membuat keseluruhan proses seremonial tahunan itu tidak begitu tertanam menjadi penyadaran pikir dan tingkah laku.
Model ideal dari adanya pahlawan adalah generasi-generasi yang tahu arti. Mengerti akan warisan cita-cita para pendiri bangsa. Karena tiap pemikiran mereka adalah nafas yang meresap memenuhi interaksi antar sel. Menjadi prinsip hidup yang diimplementasikan dengan penuh tanggungjawab pada diri, keluarga dan negara. Hal-hal inilah yang harusnya dapat tercermin dari setiap masa tumbuhnya generasi bangsa. Sejarah yang dipahami secara utuh, tak ada yang perlu disembunyikan, biarlah konspirasi jadi konsumsi public, biarlah yang benar katakana benar dan yang salah mengakulah karena itu semua sejarah, kita harus bersama-sama mengambil maknanya bukan menyalahkannya. Sejarah ada untuk membimbing kita menuju masa depan.

Mari tarik benangnya ke masa 67 tahun setelah itu, tepatnya sekarang, pada masa ini adakah esensi, nilai, dan cita yang tersirat dalam mayat-mayat para pejuang itu telah terejawantahkan dalam kehidupan pribadi, kehidupan keluarga, kehidupan masyarakat, atau bahkan kehidupan berbangsa? Jawabannya, ada. Mungkin ada, menurut saya. Tapi, itu semua belum sampai pada taraf membumi dalam masyarakat. Ada beberapa orang yang benar memahami arti kepahlawanan, mereka yang mengerti sejarah dan berbagai rahasianya. Namun, kebanyakan mereka lebih banyak diam, karena mereka menganggap diri sebagai pelaku sejarah yang tidak dapat berbuat apapun untuk mengubah apapun.
Pada kenyataan kekinian, para pemuda kita yang terlanjur bingung, terlahir dalam keadaan yang kacau, pahlawan yang hidup pada masa tumbuh mereka adalah kegelapan birokrasi dalam sistem patronage, lalu seolah terjadi masalah yang lebih meluas menjadi krisis ekonomi dan puncaknya adalah reformasi. Lalu jauh hingga sekarang setelah melewati proses restrukturisasi dan redefinisi arti kenegaraan, Indonesia justru terjatuh dalam masa ini, puncak dari adiksi teknologi, kenarsisan massif yang merusak jati diri pemuda.

Narsistik. Satu kata yang memampatkan segala sifat dan sikap mayoritas pemuda Indonesia saat ini. Narsistik berasal dari sebuah mitologi Yunani, Narcissus yang begitu bangga akan ketampanan dirinya. Suatu hari, ia berjalan-jalan ke dalam hutan dan bertemu dengan peri bernama Echo. Tertarik dengan ketampanan Narcissus, Echo menyatakan cinta, namun ditolak. Penolakan ini menyakiti hati Echo, dan membuat ia menangis. Aphrodite, dewi Cinta, mengetahui hal ini dan berusaha membalas Narcissus. Kala Narcissus minum di sebuah sungai, Aphrodite meminta Cupid untuk memanahnya dengan panah cinta. Narcissus pun jatuh cinta pada bayangannya di sungai. Ia mati dengan memandang bayangannya sendiri.

Dalam kajian psikologi, orang-orang dengan gangguan kepribadian narsistik memiliki ego serta kebutuhan untuk dipuji yang tinggi. Ciri lain dari gangguan kepribadian narsistik percaya bahwa mereka lebih superior dibandingkan orang lain dan cenderung kurang peka terhadap perasaan orang lain. Namun, dibalik egonya yang tinggi, mereka tidak suka dikritik.
Mereka pemuda yang lemah, jatuh motivasi saat mendapat sedikit saja tekanan hidup. Bukan seperti pahlawan yang dulu kala rela meninggalkan anak istri, menyerahkan jiwa raga untuk kemerdekaan negeri. Pemuda kini, adakah harapan? Maka, kawan pemuda semua, mari kembali mencari, bangkit dan temukan. Temukan nilai kepahlwanan, nilai yang mengikat pengabdian dan pengorbanan dalam satu kesatuan. Dalam takaran yang pas. Tidak lebih dan berlebihan, tidak kurang dan mengurangi. Mari menakar arti pahlawan dengan segala daya yang kita mampu. Selamat Hari Pahlawan!
Untuk seluruh jiwa dan raga yang tetap hidup disana. Mengawal kedewasaan kami para pemuda, untuk menjadi pahlwan selanjutnya. Merdeka Indonesiaku.

Adi Sutakwa 20121110 —-

MENUJU MASTERPLAN, ADI SUTAKWA MERDEKA

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s