Mewujudkan Kebenaran Tanpa Pembenaran : Hati Aktivis Sejati


truthHendaklah engkau menjadi seorang pemberani dan tahan uji. Keberanian yang paling utama adalah sikap terus terang dalam kebenaran dan ketahanan dalam menyimpan rahasia, mengakui kesalahan, adil terhadap diri sendiri, dan menguasai diri ketika marah. (Hasan Al-Banna)

Ketika seorang pemuda terjun ke dalam lingkungan yang asing, jauh dari keluarga dan kawan-kawan kepercayaanya, maka akan nyatalah baginya bahwa itu adalah ujian bagi ideologi dan keyakinannya sebagai pemuda. Mereka yang memutuskan untuk menjadi penggerak lingkungannya maka akan dengan otomatis melekat padanya predikat aktivis. Orang-orang yang dengan kerelaan mengaktifkan berbagai sendi kehidupan disekitarnya dengan berbagi kebermanfaatan lewat pemikiran dan tindakan-tindakannya.

Mereka yang memilih untuk menjadi aktivis adalah pribadi yang mau dan mampu membangun sebuah konstelasi berpikir. Konstelasi yang dimaksud adalah sebuah tatanan berpikir yang berorientasi pada kode etik dan tujuan akhir yang telah disepakati bersama (atau disepakati dengan diri sendiri, janji pribadi). Konsisten dan dinamis, menyatu dalam serangkaian solusi yang ideal dan harmonis dengan realitas kemasyarakatan dan relevansi peradaban. Untuk membuat kesatuan berpikir yang menjadi perekat berbagai kepentingan, harus ada sebuah tujuan bersama dan masalah bersama, hingga tercipta kesadaran secara luas yang membangkitkan spirit perbaikan tindakan.

Sesungguhnya mereka yang berpikir bukan untuk diri sendiri, adalah bagian penting dalam membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Para muda yang tegas merumus solusi untuk kemajuan negeri. Hanya saja terkadang pemuda pada umumnya dan mahasiswa pada khususnya yang memang bersemangat tinggi dan penuh ambisi tidak diimbangi dengan tindakan yang mengacu pada kebijaksanaan dalam berpikir. Padahal dengan dasar fisik dan pikir yang produktif, lebih dari cukup sebagai modal utama dalam memecahkan beragam permasalahan kebangsaan.

Mesin Pergerakan

Dalam dunia aktivis telah diketahui sebagai rahasia umum bahwa selalu ada mesin yang bekerja sebagai opinion leader dalam dunia keaktivisan. Menurut pandangan politik, hal ini disebut mesin politik. Di setiap kampus, mesin inilah yang menjadi sumber pergerakan mahasiswa, sekaligus sebagai sarana penyampaian pandangan diri mengenai idealitas Indonesia. Jika dicermati secara seksama maka ada perbedaan yang mendasar terkait karakteristik mesin politik di kampus-kampus yang ada di setiap daerah. Tentulah politik yang dimaksud adalah politik ekstra parlemen.

Di daerah Jawa Barat, yang cenderung dekat dengan ibukota, maka kondisi dan kecenderungannya cukup sulit untuk diprediksi, mahasiswa melakukan demo tiap hari dan terkesan reaktif, karena dominasi mesin politik sangat fluktuatif di daerah multibudaya. Namun, semua tindakan yang dilakukan mengena dan tepat pada isunya. Di kawasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, suasana agak berbeda, atmosfer mesin politik sangat kuat tertanam dengan pola kaderisasi yang rapih terstruktur hingga jarang sekali terjadi gejolak maupun kekacauan pergerakan. Keuntungannya adalah suasana yang kondusif dan terkendali hingga lebih mendukung kegiatan akademik serta keleluasaan analisa. Namun ada ancaman internal berupa keterlenaan akan keadaan, tidak ada lawan yang dapat dipelihara hingga timbul stagnansi dan muncul konflik internal, hancur dari dalam.

Dengan lingkungan semacam ini, mahasiswa memang akan berkembang sesuai pada tempatnya. Pada titik tertentu mahasiswa akan mengetahui bahwa mereka terikat dengan sebuah sistem yang berdasar keberpihakan yang mengatur dan mengelola lingkungan kampus secara integral dan terstruktur. Bagi pribadi yang kaku dan prinsipal, akan sulit memahami bahwa sesungguhnya politik adalah tentang siapa yang disepakati. Politik bukan tentang siapa yang pantas atau mampu, tetapi politik adalah tentang siapa yang disepakati. Mengapa penulis membahas lebih mengenai politik dalam kehidupan aktivis, karena penulis berharap dengan opini mengenai keterikatan aktivis dengan politik dapat menjadi petunjuk awal bagi para pemula yang baru saja menjalani masa transisi dari keseharian sekolah menuju tanggungjawab sosial dalam tridharma perguruan tinggi.

Aktivis Sejati

Aktivis yang sejati, bagi pandangan penulis adalah mereka yang mampu menjadi kebenaran diantara kekacauan pembenaran. Mereka yang menikmati ketiadaan dan keterasingan dengan persiapan dan kesiapan diri. Mengambil dan mencipta momentum, tidak meremehkan momentum kecil namun menimbunnya sebagai bangunan pokok keterciptaan momentum besar yang menjadikannya seorang pahlawan. Pahlawan bukanlah mereka yang selalu melakukan hal-hal besar dan menakjubkan, tetapi mereka yang mengudara di waktu yang tepat, mempersiapkan momentum dengan paripurna. Lengkap, cukup dengan satu langkah besar, penuh resiko, penuh ketidakpastian. Namun dikalkulasikan dengan cermat, melalui analisa sosial dan analisa potensi.

Menjadi aktivis yang mampu mengaktifkan kehidupan masyarakat adalah latihan bertahap dan konsisten dengan kedisiplinan serta ketekunan. Mau melakukan hal hal kecil, mau memperhatikan hal hal detil. Perbaikan diri adalah kewajiban yang harus dipenuhi. Karena sadar akan kenyataan, banyak yang berpikir dan bertindak untuk mengubah dunia, tapi hanya sedikit yang mau dan merendah untuk merubah diri. Menempa diri dengan keteraturan yang membudaya, membiasakan kebenaran bukan membenarkan yang biasa. Membiasakan hal-hal yang tidak biasa hingga tercipta serangkaian luar biasa. Dan kesatuan prinsip yang utama, berprinsip bahwa kebenaran adalah kebenaran, haruslah dikatakan walau pahit, begitu kata Rasulullah saw. Kebenaran bukanlah pembenaran.

Seperti telah digaris bawahi oleh Imam Syahid Hasan Al-Banna bahwa menjadi seorang pemberani dan tahan uji adalah prasyarat utama dalam menghadapi dunia. Keberanian yang paling utama adalah sikap terus terang dalam kebenaran dan ketahanan dalam menyimpan rahasia, mengakui kesalahan, adil terhadap diri sendiri, dan menguasai diri ketika marah. Aktivis sejati memiliki hati untuk berani berkata benar dan tidak tunduk oleh pragmatisme dan oportunisme politik praktis. Menjadikan lembaga sebagai sarana, bukan gaya hidup. Rela dilumuri rasa malu demi mengakui kesalahan, dan bangkit melakukan perbaikan. Satu lagi sikap alami seorang pemimpin, adil. Bersikap adil pada diri sendiri akan mencipta karakter adil terhadap orang lain, aktivis sebagai pemimpin perubahan tentulah mutlak berlaku adil, perubahan haruslah adil, proporsional dan tepat guna.

Maka sampailah pada satu konklusi mengenai aktivis sejati. Bangsa ini telah menanti, pahlawan yang tak dikenal berpeluh di pedalaman. Menjadi pelita bagi kegelapan akan pengetahuan. Bangsa ini telah mengharap, ksatria tak berpedang bertempur dengan kesesatan zaman. Membina putra bangsa di bilik-bilik sederhana terhimpit pembangunan di pinggiran kota dan kota pinggiran. Dan bangsa ini telah berdoa, hingga Tuhan menurunkan malaikat-malaikat pencabut sengsara bernama aktivis, pemuda, mahasiswa. Membanjiri ruang-ruang tanpa harapan, di istana, di kantor walikota, di gedung dewan yang mulia, hingga seluruh lini kehidupan bangsa. Indonesia memanggil, dan mahasiswa memilih. Menjadi aktivis sejati, dengan hati mewujudkan kebenaran tanpa pembenaran.

-Dalam penuh kejujuran, Adi Sutakwa 20121208 2218-

MENUJU MASTERPLAN, ADI SUTAKWA MERDEKA

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s