Politics : Pride, Love, and Dignity


Sdignaya mengamati, bagaimana mereka menata tingkah dan laku dalam keseharian politik itu. Gejala awal adalah muda yang ideal dan tulus memperbaiki lingkungan. Namun keluaran akhir tak lebih dari sekumpulan orang kebingungan, ada disana tanpa mampu memberi makna. Mereka, hanya berkumpul untuk mengobati hati yang kesepian, bertemu dan berjumpa dengan lingkungan hanya demi eksistensi murahan. Ironi. Padahal Indonesia berharap banyak pada mereka.

Kehormatan, awalnya bukan itu yang mereka pikirkan. Adalah ketulusan berkarya untuk nusa, yang lebih mereka kedepankan. Hingga tibalah mereka pada suatu titik pergulatan bathin, “apa ini? Diskriminasi!” mungkin itu yang tersurat dari pikiran mereka. Tidak lagi perjuangan, tapi kepentingan. Dan dorongan untuk menegakkan kebenaran. Kebenaran yang tidak pernah ia tahu kebenarannya. Karena semua yang mereka lakukan kini, hanyalah pembenaran. Iya, mereka membenarkan yang biasa, dan bukannya membiasakan kebenaran. Itu, sebuah kemunduran.

Cinta, mereka pikir mereka telah berjuang dengan benar, selaras dengan cinta untuk semua kalangan. Maka percayalah, itu cinta yang palsu. Cinta yang didasari kekacauan berpikir relatif. Kalian tahu bahwa relativitas telah membunuh kita semua dalam penjara definisi. Berkat adanya relativitas, pikiran kita dipaksa untuk tidak mau membedakan ‘yang buruk’ dan ‘yang baik’. Semua dimaklumi sebagai sesuatu yang sesuai kadarnya, relatif. Maka apa kalian sadar apa muaranya? Manusia akan kehilangan sisi kemanusiaannya, manusia tanpa moral. Jika terus berpikir relatif, maka tunggu saja ketika kalian menganggap korupsi itu relatif dan sah-sah saja asal sesuai porsinya. Omong kosong! Mana ada korupsi yang sesuai porsinya. Korupsi itu ya salah. Korup itu artinya rusak. Kalo dianggap korupsi itu relatif, maka pantaslah jika saya sebut akal kalian telah rusak.

Dignity. Martabat. Harga yang tersemat pada sesosok makhluk penuh kekurangan, manusia. Konsep harga diri telah menyesatkan banyak jiwa di dunia ini. Apalagi laki-laki yang sok kuat dengan segala kelebihan fisik, mental, dan akal. Sesekali, amatilah seorang laki-laki dan seorang lagi, lihat bahwa mereka para laki-laki selalu melakukan persaingan yang tidak akan pernah berakhir. Ada yang terlihat mengalah dan merendah dengan gaya moderat. Itu bohong, itu adalah bentuk pertahanan diri seorang laki-laki dan untuk menggalang empati dari lingkungan, lalu menyusun rencana yang lebih rapi dengan dukungan lebih banyak demi keberlangsungan masa depan yang dia impikan. Masa depan dengan dignity yang diagungkan semua laki-laki. Ada juga yang terang-terangan membahanakan genderang perang, setidaknya mereka tidak bersembunyi di balik kamar mandi. Perang yang disulut tanpa maksud yang jelas, laki-laki memang tidak pernah mengerti tentang perasaan, apalagi pemaknaan. Mereka tidak paham bahwa wanita, wanita adalah penguasa dunia. Wanita adalah penguasa dunia.

Akhirnya, apakah kalian terjebak dalam pertarungan bodoh ini?

Kawan-kawan, keluarlah, lihat dunia sekitar. Apa kalian tidak sadar di perempatan lampu merah banyak adik-adik kita butuh perhatian? Apa kalian tidak peka di pinggiran bengawan berjajar saudara kita mengharap perbaikan? Dan apa kalian buta akan kehormatan, cinta, dan martabat palsu? Ingat satu kata saya.

Pejuang sesungguhnya, tidak akan menampakkan batang hidungnya. Karena dia sibuk tenggelam dalam pengabdian tiada akhir. Pengabdian pada mereka yang pantas mendapatkan, pengabdian kepada Tuhan, dengan penuh kesyukuran.

Adi Sutakwa 20121204

MENUJU MASTERPLAN, ADI SUTAKWA MERDEKA

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s