Social Media : Social Movement, Education, and Character Building


moveIndonesia adalah negara yang besar, hingga saat ini tercatat lebih dari 220 juta jiwa merupakan warga negara Indonesia. Menarik ketika membicarakan Indonesia dan perkembangan teknologi. Dalam bahasan ini akan di kerucutkan menjadi kajian mengenai perkembangan penggunaan internet di Indonesia. Pada tahun 2011 pengguna internet di Indonesia mencapai angka 80 juta pengguna.
Satu yang paling menarik ketika membahas penggunaan internet, adalah data data mengenai penggunaan social media, jejaring sosial. Pengguna facebook di Indonesia ada 31 juta, angka terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Twitter digunakan oleh 6,2 juta orang di Indonesia, nomor tiga terbesar di Asia. Aktivitas twitter (nge-twit) di Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia , yaitu pada angka 20,8 %. Amerika hanya 11,9 % dan Brazil ada di posisi kedua dengan 20,5%.
Karakteristik Indonesia yang sosialis dan komunal begitu nyata dalam aplikasi dan keseharian masyarakat. Budaya gotong royong yang mendarah daging menciptakan sebuah ikatan batin sosial yang saling berpengaruh pada kualitas kehidupan masyarakat. Mengacu pada karakter dasar ini semestinya Indonesia mampu dengan mudah melakukan perubahan dan kesadaran akan keterpurukan keadaan saat ini. Ini merupakan modal berharga dan sangat tepat untuk menjadi dasar berbagai pergerakan massa yang bersifat revolusioner.

Social Movement
Menurut Enda Nasution, social media tidaklah sama dengan media-media tradisional yang selama ini telah diciptakan oleh manusia. Yang dimaksud dengan media tradisional adalah televisi, print, telepon, dan radio. Media tradisional tidak pernah dapat mengombinasi antara komunikasi dua arah dengan group making. Telepon misalnya hanya dapat menyajikan komunikasi dua arah, tanpa kebersamaan grup tertentu. Sedangkan televisi mampu membuat sebuah grup dalam model komunikasinya (sekumpulan orang menonton tv), namun tidak dapat dijadikan alat komunikasi dua arah.
Dengan adanya social media, semua kebutuhan komunikasi manusia dapat terpenuhi, baik dalam komunikasi dua arah maupun dalam segi group making. Melalui facebook misalnya, dengan mudah dapat dibuat grup chat yang berisikan oarang-orang tertentu saja, atau dalam facebook biasanya lebih lazim untuk membuat grup dengan nama tertentu dengan anggota grup tertentu. Lebih mudah lagi dalam twitter karena sebuah grup dengan mudah terwakili hanya dengan hashtag (tanda ‘#’) yang diikuti beberapa huruf.
Salah satu cerita yang menarik dan tentunya nyata nyata telah terjadi Indonesia adalah kisah gerakan koin Prita. Tanpa direncanakan, tanpa dikoordinasi, tanpa instruksi muncul pos pos pengumpulan koin di berbagai daerah di Indonesia. Itu semua bukan hanya atas dasar keinginan membantu orang lain, namun ini adalah saah satu bukti bahwa jati diri bangsa yang komunal dan sosialis mulai berpikir, ada sesuatu yang salah dan masyarakat ingin melakukan sesutu untuk memperbaikinya. Masyarakat tidak lagi menunggu namun langsung turun tangan secara langsung dalam penggalangan koin untuk Prita.
Prita Mulyasari kala itu melakukan komplain melalui surat elektronik pada sebuah rumah sakit swasta di Tangerang. Dengan UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), pihak rumah sakit menggugat pidana dan perdata, hingga Prita dipenjara 3 minggu dan membayar denda sebanya 204 juta rupiah. Lalu dengan tiba tiba terciptalah gerakan dukungan lewat social media. Menurut Enda Nasution, para pengguna internet saat itu dalam hal ini komunitas yang berkecimpung secara khusus dalam penggunaan internet sempat kaget karena ada seorang ibu yang dipenjarakan selama 21 hari dengan UU ITE.
Fokus gerakan social media saat itu adalah membebaskan Prita, lalu dengan cepat informasi menyebar ke seluruh lini perbincangan masyarakat melalui internet. Saat itu bisa dikatakan rakyat Indonesia bangga menjadi rakyat Indonesia. Yanuar Nugroho berpendaat ada sebuah konvergensi media dalam kasus Prita sehingga keberhasilan mobilisasi dukungan sangatlah kentara. Kesuksesan ini ditunjukkan dengan banyakanya jumlah koin yang terkumpul. Media konvensional seperti televisi, koran, radio beresonansi dengan para pengguna internet, hal ini mengakibatkan informasi tersebar sangat cepat melalui media digital. Informasi, menginspirasi masyarakat Indonesia untuk bergerak, secara nyata. Melakukan sebuah social movement yang fenomenal.

Education
Berbagai keberhasilan mobilisasi massa lewat social media lainnya bahkan telah difilmkan dalam film dokumenter yang digarap oleh tim ICT watch dan WatchdoC. Film berjudul Linimas(s)a telah dibuat sebanyak dua sekuel, berisi dokumentasi dan analisis sosial mengenai peran social media dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Bahkan berita yang terbaru mengatakan bahwa film Linimas(s)a ini dimasukkan ke dalam salah satu mata pelajaran di sebuah sekolah menengah atas di Australia. Mengagumkan, bagaimana referensi mengenai social media dan berbagai kisah inspiratifnya terjadi Indonesia dan dihargai oleh negara lain sebagai salah satu instrumen pendidikan.
Inilah yang menjadi ide dasar bagi penulis bahwa social media berpeluang besar menjadi bagian dari perubahan peradaban bumi Indonesia yang saat ini sedang ditimpa musibah kebingungan orientasi, ideologi dan inspirasi. Angka 84 juta pengguna internet di Indonesia adalah angka yang cukup besar, asumsi optimisnya pada tahun 2014 akan mencapai angka 150 juta pengguna. Itu artinya pengguna internet di Indonesia telah mencapai angka 40% (sama seperti pengguna internet Amerika saat ini) dari seluruh penduduk Indonesia. Dalam angka 40% akan banyak sekali terjadi perubahan dalam cara masyarakat mengonsumsi informasi, menggunakan informasi, dan pengaruh informasi pada kehidupan masyarakat Indonesia sehari-hari.
Dengan tingkat aktivitas penggunaan internet di Indonesia yang sangat tinggi, ledakan spontan social movement sangatlah mudah terjadi. Social media nampaknya benar-benar mengakomodir kebutuhan manusia Indonesia. Menjamurnya komunitas dan grup di ranah social media menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia merasa ingin belong to something. Manusia Indonesia butuh wadah sebagai sarana shared interest and shared goals, keseharian dan karakteristik budaya masyarakat benar-benar dipenuhi oleh berbagai fitur social media.
Dalam setiap peradaban, progresifitas perubahan selalu disulut oleh satu kecenderungan, pencerahan pengetahuan. Pengetahuan adalah sintesis dari pengalaman masa lalu dan prediksi atau rumusan masa depan, satu yang dibutuhkan untuk mendorong internalisasi pengetahuan pada diri manusia, adalah inspirasi. Penulis membayangkan bagaimana social media dapat menjadi salah satu penunjang pendidikan yang dewasa ini semakin hopeless dengan keterkacauan kurikulumnya. Belum selesai bukti Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006, muncul dan hampir dipastikan adanya penerapan kurikulum baru bernama Kurikulum 2013.
Dalam pandangan Anies Baswedan, permasalahan sebenarnya bukanlah pada sistemnya, namun pada objeknya. Objek yang digarisbawahi secara kontekstual sebagai guru. Perbaiki gurunya, maka siswanya akan secara otomatis menjadi baik. Keteladanan, jika harus disimpulkan dalam satu kata tersistem. Guru, dalam arti luas adalah siapa saja yang ditiru oleh siswa. Maka dengan statistik yang menunjukkan bahwa 90% pengguna internet berusia dibawah 35 tahun, tepatlah jika social media menjadi salah satu aplikasi pendidikan yang relevan.
Social media telah menjadi rumah yang sangat luas dan terkoneksi satu sama lain penggunanya. Informasi dapat masuk dan keluar tanpa terkendali, semua pihak dapat ikut berpartisipasi. Analoginya, jika dalam rumah yang luas ini diciptakan ruang-ruang khusus yang sesuai fokusnya, maka semua kalangan akan dengan mudah memilih ruangan mana yang akan dimasukinya. Bayangkan di sudut lantai bawah ada sebuah ruangan dengan ukuran yang cukup, berisikan buku-buku pengetahuan. Lalu di sudut yang lain ada sebuah ruangan penuh warna pada dinding-dindingnya, tanpa pintu hingga semua orang dapat masuk mengambil pelangi yang bergelayutan di langit-langit ruangan itu. Dan akan banyak lagi ruangan-ruangan dengan ciri fisik yang berbeda hingga mempengaruhi sikap mental para pengunjungnya.
Itulah pengetahuan, dan ruangan yang penulis gambarkan adalah gurunya. Jika ada beberapa orang yang memulai gerakan pendidikan lewat social media maka ruangan-ruangan penuh warna yang telah penulis deskripsikan akan dengan mudah tercipta. Tercipta grup-grup dengan ketertarikan yang sama, mempunyai shared interest pada dunia pendidikan, memiliki shared goals tentang kemajuan insan melalui pendidikan, serta meluangkan kesibukan virtualnya untuk bergerak meski dalam ranah digital untuk mengampanyekan pendidikan lewat social media. Seperti analogi ruangan, guru bukan robot yang menuntun para peserta didik untuk mengisi serangkaian blangko, namun guru hanya menjadi teladan. Benar, teladan. Tingkah dan lakunya ditiru dan dikagumi. Sifat dan sikapnya menjadi pembanding diantara kerancuan norma budaya. Keseluruhan hidupnya menjadi cita dan asa bagi anak-anak desa. Satu keteladanan, lebih baik daripada seribu nasehat.

Character Building
Maka muara dari kesemuanya, bermula dari social movement yang nyata, dipelihara dengan keluhuran niat memajukan education untuk Indonesia, akan berhimpun menjadi satu tubuh paripurna, kontinuitas character building lewat social media, aktif, massif, dan progresif. Ini adalah puncak pemecahan berbagai kekalutan bangsa, pembangunan manusia mulai dari awal mula terbentuknya nilai dan norma. Pembangunan karakter yang sempat terkabur dalam ketersesatan demokrasi tidak sempurna dan modernisasi yang tak berbudaya.
Karakter menurut Erie Sudewo dalam bukunya Character Building (Menuju Indonesia Lebih Baik), adalah bagian dari attitude yang baik, berbeda dengan ‘tabiat’ yang termasuk jenis attitude yang buruk. Karakter merupakan kumpulan dari tingkah laku baik dari seorang anak manusia. Karakter dibedakan menjadi dua kategori yaitu karakter pokok dan karakter pilihan. Karakter pokok harus dimiliki oleh tiap orang, sedangkan karakter pilihan adalah perilaku baik yang bekembang sesuai dengan profesi pekerjaan.
Karakter pokok dibedakan menjadi tiga bagian penting, yaitu karakter dasar, karakter unggul dan karakter pemimpin. Karakter Dasar menjadi inti dari karakter pokok, karakter inilah yang harus menjadi pondasi bagi karakter-karakter selanjutnya. Baik buruknya, maju mundurnya, santun liarnya serta dermawan tamaknya seseorang ditentukan dari karakter ini yaitu: tidak egois, jujur dan dsipilin. Karakter Unggul dibentuk oleh tujuh sifat baik yaitu: ikhlas, sabar, bersyukur, bertanggung jawab, berkorban, perbaiki diri, dan sungguh-sungguh. Ketujuh sifat tersebut harus dilatih setiap hari sehingga akan menjadi kebiasaan yang akan membentuk karakter yang unggul. Karakter Pemimpin merupakan karakter yang dapat dibentuk jika kedua karakter di atas dapat diamalkan secara baik, karakter ini yaitu: Adil, arif, bijaksana, ksatria, tawadhu, sederhana, visioner, solutif, komunikatif, dan inspiratif.
Kompleksitas yang uraiannya merupakan proses perbaikan diri yang tak pernah usai. Namun ingat satu titik bahwa perbaikan diri selalu dapat dilakukan lebih cepat dan tepat apabila ditunjang dengan situasi lingkungan yang sesuai. Maksudnya adalah ketika konvergensi dan resonansi media menjadi keseharian masyarakat, maka ledakan social movement dapat dengan mudah menciptakan titik-titik lingkungan yang mendukung proses character building.
Social movement menjadi sebuah tren, dan siapapun tahu bahwa tren sangat mudah dan cepat ditiru oleh berbagai kalangan mulai dari publik figur hingga kalangan bawah yang hanya mendapatkan sedikit informasi, hebatnya lagi adalah jika gerakan yang ditawarkan positif, seperti gerakan aplikasi pendidikan, hal ini dapat menjadi semacam lingkungan yang terintegrasi dan terkoneksi satu sama lainnya (walaupun hanya sebatas informasi) dalam semua tataran kehidupan bermasyarakat. Informasi, terkoneksi dari hulu hingga hilir. Informasi, dalam bentuk massif dapat menjadi sebuah lingkungan edukasi.
Dalam persepsi Onno W. Purbo, Bangsa Indonesia mungkin bukan bangsa yang kaya, bangsa Indonesia bangsa yang miskin. Tapi, bangsa Indonesia bukan bangsa yang bodoh, bangsa Indonesia bangsa yang pandai. Indonesia seharusnya menjadi contoh bagi negara-negara di seluruh dunia bagaimana social media diperdayagunakan untuk berbagai hal, untuk bencana kemanusian, penegakan keadilan, untuk gerakan anti korupsi, bangsa Indonesia sudah mampu menggunakan social media dengan optimasi daya guna.
Mengambil sintesis solusi dari Enda Nasution, satu konklusi akhir adalah, revolusi. Indonesia butuh revolusi, Indonesia sudah dibekali masyarakat komunal yang berpotensi revolutif, diberkahi karakteristik sosial multikultural yang mampu bergerak massif. Revolusi yang terjadi di Indonesia terjadi satu demi satu terjadi sebuah titik demi titik terjadi dari hal hal yang sangat kecil. Dan kemudian revolusi terjadi di dalam diri sendiri. Revolusi, adalah diri sendiri. Social media for revolution of Indonesia.

Adi Sutakwa
20121216 2400

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s