Strategi EDIPLICASSI sebagai Upaya Pencegahan Timbulnya Mental Korup pada Pemuda


corrupPemuda adalah pemimpin masa depan. Begitu selalu dicitrakan, pemuda yang kuat secara fisik yang mampu belajar dan menempa mental agar dapat memberikan jiwa dan raga yang kokoh saat dibutuhkan oleh negara sebagai pemimpin. Pada masa sekarang ini, banyak orang yang pesimis dengan kejayaan negeri ini. Salah satu alasannya adalah karena para pemimpin negeri sudah terlalu sakit, bukan secara fisik namun secara moril.
Penyakit para pemimpin kita terletak pada moralnya yang rapuh, hingga korupsi dengan mudah mengendalikan pikiran dan tingkah laku para pemimpin kita untuk berbuat korup pada ibu pertiwi. Namun, sebenarnya bukan hanya para pemimpin kita yang berlaku rusak, para pemudapun calon pemimpin bangsa selanjutnya turut berbuat korup dalam keseharian kecial mereka. Maka pantaslah jika korupsi yang disebut telah menjadi budaya justru menggurita dan berubah menjadi budidaya pada masa ini.
Ada beberapa penyebab spesifik yang menyebabkan perilaku korupsi,
1. Sejarah.
Korupsi dilahirkan oleh sejarah, telah ada sebelum bangsa ini menjadi Indonesia. Sistem kerajaan yang dianut pada masa itu telah menjadi sumber dari segala sumber kebencian duniawi. Posisi raja yang amat dekat dengan definisi tuhan adalah rangsangan yang sangat kuat untuk sekedar menciptakan rasa iri pada mereka yang mempunyai peluang untuk menjadi raja. Perebutan kekuasaan di kerajaan Singosari telah membuncahkan perang saudara hingga tujuh keturunan. Hal menarik lainnya dapat diketahui pada interaksi petinggi kerajaan dan orang suruha kerajaan. Terlahir sifat oportunisme, para “abdi dalem” cenderung bersikap manis untuk dapat menarik hati raja. Inilah janin yang nantinya terlahir sebagai kalangan oportunis berjiwa korup dalam kehidupan pemerintahan bangsa ini.
2. Kekeliruan pemahamam ideologi
Dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan dengan tegas berulang kali disebutkan bahwa ideologi bangsa Indonesia adalah ideologi Pancasila. Pancasila, ideologi yang mampu bertahan melalui perkembangan zaman. Ideologi yang fleksibel hingga dapat menyaring globalisasi yang tidak terelakkan. Tetapi, celakanya semua definisi dan keyakinan itu hanya sebatas kepercayaan bahkan bisa disebut dogma. Karena tidak ada teknis edukasi yang jelas, yang diimplementasikan secara nyata dalam sistem pendidikan di Indonesia. Pancasila tidak meresap ke dalam hati dan jiwa manusia Indonesia, hingga tidak mampu menjadi ideologi yang ideal dalam mencegah kerusakan moril di Indonesia. Maka mari tanyakan bersama, fleksibilitas Pancasila, masihkah mampu menjadi kumpulan konsep bersistem secara integral yang menjadi asas untuk menentukan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup bangsa ini?
Penafsiran nilai Pancasila belum mampu menyentuh manusia Indonesia. Barangkali karena masyarakat bingung oleh membanjirnya teori dan kandungan Pancasila, atau malah karena biasnya penafsiran oleh para petinggi negeri ini. Bagaimana mungkin masyarakat tidak bingung, nilai budaya dan jati diri Indonesia yang terangkum dalam Pancasila dibenturkan dengan ideologi liberal dan kapital yang dihalalkan menggerogoti ruh kebhinekaan atas nama pembangunan. Liberalisme yang lebih dekat dengan individualisme akan menimbulkan kekacauan yang parah jika dikawinkan dengan kapitalisme. Dan kabar buruknya, itulah yang terjadi di Indonesia masa kini, perkawinan antara individualisme dan kapitalisme.

Hasil perkawinan itu adalah karakteristik individu yang akumulatif dan terobsesi pada kepemilikan. Akumulasi adalah tambahan secara berkala atas suatu jumlah pokok. Kepemilikan diartikan sebagai tindakan memiliki dan mengendalikan suatu properti atau yang lainnya. Padahal, sifal lokal Indonesia adalah sosialis dan komunal, menjunjung tinggi gotong royong. Apa jadinya jika dibenturkan dengan akumilasi dan kepemilikan? Keserakahan. Sifat dasar koruptor, keserakahan yang membudidaya karena dorongan dari sifat individualisme dan kapitalisme. Maka jadinya adalah manusia yang meraih akumulasi dan kepemilikan sebanyak-banyaknya untuk dirinya sendiri dan keluarganya atau orang lain yang mempunyai hubungan dengannya. Ideologi yang fleksibel, bukan berarti meloloskan semua perkembangan yang terjadi tanpa kajian moril dan sosial yang jelas.

Ini yang saya maksud, bahwa ideologi Pancasila yang dikatakan fleksibel jangan sampai kita lupa diri dan salah kaprah dalam mengartikannya. Pancasila bukan ideologi yang dengan jargon “fleksibilitas tanpa batas”. Harus dipahami bahwa fleksibel berarti “dapat menyesuaikan diri”, bukan “dapat mengikutkan diri”. Maka pemahaman akan Pancasila adalah sejauh mana masyarakat berpegang pencasila dapat menyesuaikan diri, beradaptasi dengan kondisi globalisasi tanpa mengesampingkan nilai dan esensi dari Pancasila yang sakral. Jangan sampai Indonesia hidup bukan sebagai Indonesia namun sebagai bangsa antah berantah yang tidak mengerti akan tujuan dan arah, budaya dan jati diri, makna dan kedalaman arti sebagai sebuah bangsa, Indonesia.

Solusi yang ditawarkan penulis bertumpu pada dua titik besar yang dapat diperbaiki, yaitu moral dan karakter. Indonesia butuh sebuah sistem perbaikan moral dengan pondasi kuat pembentukan karakter. Jadi, moral yang unggul dapat terwujud dengan pembinaan karakter secara serius dan terstruktur. Konsep hanya tinggal sejarah jika tidak ada relevansinya secara nyata, maka konsep ini tidak penulis tawarkan pada pemerintah, tapi saya suguhkan dengan penuh harapan pada para pembaharu, mahasiswa. Metode ini diaplikasikan pada pemuda, khususnya pada mahasiswa dan anggota karang taruna.

Strategi yang penulis tawarkan dinamakan EDIPLICASSI (EDucatIng, aPLICating, dan ASSIsting).
Memberikan pengajaran dan pemahaman (EDucatIng) pada kelompok mahasiswa dan anggota karang taruna terkait sejarah, jati diri dan tujuan bangsa. Edukasi seperti ini dapat dilakukan lewat berbagai pertemuan pemuda. Dalam lingkungan kampus, nilai nilai dan tujuan kebangsaan dapat diinternalisasikan dalam kegiatan berorganisasi. Orientasi mahasiswa baru merupakan sarana awal yang krusial dalam menanamkan kesatuan makna jati diri bangsa, karena dalam kondisi ini mahasiswa dihadapkan pada situasi baru yang membingungkan sehingga perlu adanya pengarahan adaptif untuk mengisi kekosongan eksistensial yang sedang dialami mahasiswa baru. Sedangkan dalam tataran bermasyarakat, pemahaman ini dapat diberikan pada pertemuan karang taruna dan mahasiswa di daerah hunian mahasiswa. Agen EDIPLICASSI haruslah mampu masuk pada kehidupan sosial sekitar hingga mampu berkontribusi dalam berbagai aktualisasi pada kehidupan bermasyarakat. Untuk dapat melakukan edukasi, maka harus dapat memahami karakter dan posisi diri dalam masyarakat. Sehingga dengan memahami karakteristik masyarakat, pesan yang ingin disampaikan dapat mengena secara benar dan menyeluruh.

Selanjutnya adalah proses penerapan (aPLICating) produk edukasi secara konsisten dan bertahap pada tatanan kehidupan berorganisasi dan bermasyarakat. Berbagai proses edukasi yang telah melewati bermacam-macam pengajaran, diskusi, teori dan penggalian kembali terhadap sejarah jati diri bangsa harus segera dipraktikkan secara bertanggungjawab. Pembiasaan karakter unggul, seperti kejujuran, kedisiplinan, kebersamaan, persatuan, dan produktifitas harus dimassifkan dalam kehidupan sehari-hari. Media pendukung juga wajib tersedia sebagai propaganda untuk membentuk lingkungan edukasi yang sesuai. Sosial media, adalah salah satu bagian penting yang mewarnai rutinitas pamuda Indonesia. Mayoritas informasi didapat dari sosial media, para pemuda lebih nyaman berada pada interaksi virtual yang membuatnya terkoneksi dengan seluruh komunitasnya. Dengan bantuan sosial media, pembiasaan dan internalisasi serta aplikasi nilai unggul dapat dilancarkan tanpa penghalang. Maka jika kebiasaan telah mendarah daging, jadilah budaya. Tinggal lakukan pendampingan sebagai upaya budidaya budaya unggul untuk terciptanya moral unggul.

Dengan itu semua, hal akhir yang harus dilakukan adalah kemauan dan kerelaan untuk melakukan pendampingan (ASSIsting). Pendampingan yang dapat dilakukan adalah membukakan jaringan pengetahuan sebagai kajian lanjutan mengenai moral dan karakter unggul. Pendidikan karakter unggul yang mendasari keunggulan moral harus menjadi prioritas utama. Pedampingan pada berbagai progam keorganisasian dan kemasyarakatan dimaksudkan untuk mengawasi dan mengevaluasi aplikasi nilai karakter unggul pada setiap kegiatan yang dilakukan. Keberlanjutan internalisasi ini butuh waktu yang lama dan berkelanjutan agar dapat menjadi kultur yang dapat diterima di tengah masyarakat. Sehingga keseluruhan strategi EDIPLICASSI dapat diterapkan secara menyeluruh dan menghasilkan produk yang unggul. Pemuda unggul, mahasiswa unggul.

Satu hal yang tidak boleh terlupa adalah bahwa subjek dan objek dari strategi ini adalah pemuda pada umumnya dan mahasiswa khususnya. Oleh karena itu, keterlibatan yang sinergis harus disiapkan secara serius dengan sikap fisik, sikap mental dan intelektual untuk dapat menyatu dengan masyarakat dalam upaya menuju keunggulan moral Indonesia baru. Indonesia masa depan. Indonesia yang kuat dengan jajaran pemuda dengan mental bersih, tidak rusak, tidak akumulatif, tidak oportunis tetapi heroik, sosialis dan komunal. Sesuai dengan jati diri bangsa, jati diri unggul tanpa jiwa korup. Indonesia bermoral.

Adi Sutakwa 20121114

MENUJU MASTERPLAN, ADI SUTAKWA MERDEKA

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s