Menerabas Pesimisme : Urgensi Keberadaan Pemuda dalam Jajaran Pengambil Keputusan


winn

Pemuda adalah pemimpin masa depan. Begitu selalu dicitrakan, pemuda yang kuat secara fisik yang mampu belajar dan menempa mental agar dapat memberikan jiwa dan raga yang kokoh saat dibutuhkan oleh negara sebagai pemimpin. Para pemuda ini, dalam bimbingan yang benar, dapat menjadi opsi-opsi alternatif untuk mengisi posisi-posisi strategis yang mengharuskan kombinasi kompetensi analisa kontempoter dengan dasar disiplin ilmu dan kreativitas yang segar dan orisinal.

Jika dicermati dari segala sisi, maka jelaslah superioritas pemuda yang patut diberi ruang ekspresi dan aplikasi untuk membuktikan kapabilitas sebagai sosok pemimpin. Hidup di era informasi, maka berbanggalah karena mayoritas pemuda telah melek teknologi. Ini adalah bekal yang sangat strategis dalam menentukan langkah-langkah taktis menyiapkan diri sebagai pemimpin. Teknologi dan informasi adalah nilai jual yang wajib dimiliki. Dengan statistik yang menunjukkan bahwa 90% pengguna internet berusia dibawah 35 tahun, padahal pada tahun 2011 telah mencapai 80 juta pengguna, maka jelaslah sudah bagaimana pemuda benar-benar menguasai dan mampu memaksimalkan media teknologi sebagai added value dalam kompetensi diri.

Ilmu. Edukasi yang didapat pemuda saat ini terbuka dalam semua ruang interaksi. Mulai dari sekolah, internet, komunitas sosial, rumah-rumah ibadah, dan organisasi pemuda, semua dapat menjadi sarana kaji untuk menimbun pengetahuan dan keterampilan yang tepat guna sesuai ruang-ruang yang relevan. Yang dapat disarikan dari ini semua merujuk pada satu kata, kontemporer. Pemuda kita beruntung, telah melewati berbagai fase sejarah, baik yang gelap penuh konspirasi politik, hingga terang yang menyerang tanpa diduga dan dinyana. Pemuda kita telah kuat, hingga mampu menghayati masa lalu untuk konklusi soslusi masa kini, bahkan visi dan ideologi untuk masa depan yang lebih ideal.

Praktik-praktik publik secara langsung, lebih-lebih telah menempa para pemuda dengan pengalaman otodidaktis yang agaknya telah mendekati paripurna. Beasiswa, organisasi pemuda, dan lomba-lomba dari lembaga pemerintah maupun swasta telah sedemikian rupa menempatkan mahasiswa dalam berbagai kondisi dan situasi penuh tekanan dan persaingan. Hal ini secara pasti telah terbukti menciptakan mental kontributif dan solutif untuk kepentingan kelompok – pada awalnya – namun jika diarahkan secara benar, kerelaan terjun demi kesejahteraan rakyat bukanlah mimpi di siang bolong.

Pemuda dan Bisnis

Sepertinya pantas jika masa sekarang ini dianalogikan sebagai masa 84 tahun lalu. Masa-masa deklaratif kebangkitan pemuda lewat kesakralan Sumpah Pemuda. Meski tidak pernah ada hitam di atas putih dalam periode ini, namun seluruh pelosok Indonesia telah melihat, bahkan dunia menyaksikan bagaiman pergerakan-pergerakan revolutif lahir dari suara-suara pemuda. Revolusi, perubahan seluruh tatanan kehidupan secara cepat dan integral, mengakar menjadi nilai dan budaya yang diakui dan diyakini semua pihak.

Masuk pada kamar bisnis, lihatlah betapa prestasi telah dituai, apresiasi meluap membanjiri, dan inti esensi menjadi sebuah keniscayaan intisari. Tengok salah satu yang tersukses, Maicih. Produk makanan ringan yang berkarakter dengan khas pedasnya tersegmentasi dalam beberapa level. Sebuah branding yang mengerikan, hanya dengan social media yang semula diremehkan sebagai sarana sosialita biasa kini menjelma menjadi salah satu instrumen bisnis yang sakti mandaraguna. Menyebarnya informasi dengan mudah, cepat, dan menggurita nampaknya sangat efektif sebagai amunisi propaganda bisnis yang penuh fluktuasi dinamika.

Mereka adalah anak muda, berada pada tingkatan jajaran pengambil keputusan. Top leader yang tercerahkan oleh berbagai trial and error dengan penuh kalkulasi dan konsistensi untuk mencapai sebuah tujuan yang dijunjung tinggi dengan penuh tanggung jawab, pada Ilahi dan makhluk penghuni bumi. Mereka perlu ditelanjangi, disiapsediakan ruang aksi demi optimasi kompetensi dan kapabilitas berekspresi. Tetapi satu ancaman yang tak boleh dilenakan, kurangnya pengalaman dan daya tahan.

Dunia bisnis sesungguhnya, nyaris seperti hitamnya lumpur politik. Penuh tekanan dan permainan modal dan pasar. Bagi mereka yang tidaklah kuat, – secara mental dan fisik – akan gugur di tengah jalan tanpa mereguk manisnya kesuksesan. Benarlah anjuran Imam Syahid Hasan Al-Banna, bahwa menjadi seorang pemberani dan tahan uji adalah prasyarat utama dalam menghadapi dunia. Keberanian yang paling utama adalah sikap terus terang dalam kebenaran dan ketahanan dalam menyimpan rahasia, mengakui kesalahan, adil terhadap diri sendiri, dan menguasai diri ketika marah.

Maka untuk melawan arus deras persaingan, bukanlah dengan menantang, tetapi meresapi, mengalis bersama, mencari celah melalui kreativitas diri. Memenuhi kapasitas dengan mengaji ilmu secara komprehensif dan terstruktur. Butuh kesabaran dalam mencapai sebuah tujuan. Dalam Brain Rules, jelas bahwa keperluan untuk memiliki pola piki yang inovatif. Thinking out of the box but execute inside the box. Berpikir di luar kebiasaan, tetapi tetap sabar dan tidak ceroboh dengan mengevaluasi strategi diri.

Cara pikir kreatif yang divergen dan lateral, mengharuskan kita untuk dapat menghubungkan ide dan gagasan yang sebelumnya tidak terhubung, menjadi kesatuan konklusi yang mendasarisebuah solusi. Banyak alternatif pemecahan masalah, eksplorasi hasil edukasi adalah cara yang tepat untuk menemukan kretivitas baru. Sesungguhnya, tidak pernah ada sesuatu yang baru sepanjang sejarah manusia. Hanya menunggu waktu sampai manusia sadar, bahwa yang ada hanyalah kombinasi baru, bukan hal yang baru. Kombinasi baru, mendukung perkembangan peradaban manusia. Kretativitas, adalah satuan dari kombinasi baru.

Solusi

Terisinya jajaran pengambil keputusan bisnis oleh para pemuda adalah sebuah keniscayaan zaman. Terskenario dari evolusi dan revolusi pada momentum yang tepat, telah membentuk pemuda sebagai “sebuah” bukan lagi “seorang”. Sebuah, adalah sintesis dari kompleksitas edukasi, experience, dan praktik berkelanjutan dalam proses pembentukan “pemuda”. Para pengambil keputusan, bukan hanya mereka yang duduk nyaman di empuknya kursi direktur perusahaan, namun juga mereka yang berjuang merangkak dari pelosok desa, memulai dari pinggiran kota, dan berdikari pada kehidupan urban yang keras, underpressure, dan tanpa ampun. Bisnis, bukan main-main, bukan hanya tentang uang, namun mengenai inti dan esensi dari keluhuran berpikir sebgai sebuah jati diri yang membangsa, Indonesia.

Sudah saatnya, pemuda menopang Indonesia. Lewat spirit bisnis yang tidak berorientasi pada materi pribadi, namun berprinsip menjadi bagian dari gerakang pembangunan ekonomi Indonesia, pembangunan peradaban Indonesia. Pemuda, layak, dan mampu untuk Indonesia yang lebih maju. Indonesia yang merdeka, seutuhnya. Pemimpin dunia, adalah pemuda Indonesia. It is, time to be The Boss. Right now, right away!

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s