Menulis : Inspirasi dari Hati #1


insSaya sempat kaget dengan beberapa comment mengenai subjektifitas- subjektifitas saya yang terbubuh pada beberapa lembar karakter digital. Ada yang berkata keren, bagus, ada yang menyanggah dengan pendapat pribadi lainnya, berdasar pengalaman dan pengetahuan yang berbeda. Pada sebuah sudut laman elektronik itu juga ada satu tanggapan dari salah seorang kawan dari UI yang menyebut dengan tegas bahwa tulisan saya harus disederhanakan, agar mudah dipahami, sehingga pesan mudah tersampaikan. Sungguh malu rasanya, tersindir secara intelektual mengingat comment-nya berasal dari kawan dengan kualitas pendidikan yang dianggap salah satu yang terbaik di negeri ini.

Tetapi kemudian dalam beberapa keberlanjutan konsistensi, ternyata niat sederhana dibalas dengan tanggapan luar biasa. Aneh rasanya, jika mengingat salah satu tulisan saya menjadi nominasi pada lomba menulis yang diselenggarakan Unesa dan KPK. Ya, tanggapan luar biasa yang langsung di suguhkan dari Sang Pencipta. Benar, ternyata benar selalu apa yang dikatakan ustadz Yusuf Mansur. Ketika kita menginginkan sesuatu, maka berusahalah, dalam terminologi agama disebut dengan ikhtiar, lalu berdoalah, memintalah dengan segala kerendahan dan pengharapan dan lengkapi dengan sedekah. Dalam closing statement nya disebutkan dengan jelas dan penuh penekanan bahwa sedekah harus dilengkapi dengan ibadah-ibadah sunnah.

Dilengkapi, menunjukkan bahwa ketika tidak terpenuhi prasyarat ini, maka sedekah kita tidak akan lengkap. Dan hasilnyapun tidak akan sempurna. Dalam beberapa kajian mengenai ibadah bahkan disebutkan bahwa salah satu penyebab tidak diterimanya ibadah wajib adalah karena tidak melakukan ibadah sunnah. Begitupun nyata pada kehidupan sosial kita, dalam komunikasi saya ambil contohnya. Formalitas komunikasi dan perkenalan memang cukup dalam membentuk sebuah relasi. Namun bentukan relasi itu tidak teratur, agak lembek mungkin sehingga tidak melekat pada pada kamar-kamar memori manusia. Harus ada karakter, ciri khas yang disajikikan dalam sebuah komunikasi. Ciri khas ini yang saya analogikan sebagai sunnah. “Pahala” tambahannya, orang akan dengan mudah dan sangat muda mengingat kita.

Contoh sederhana, dalam beberapa kesempatan dan forum yang besar, sengaja saya kenalkan diri saya dengan menyebut nama belakang saya, yang untungnya cukup tidak lazim untuk diingat. Orang-orang yang mengenal saya tau dan sering memanggil saya dengan nama depan saya, sehingga ketika saya memperkenalkan diri dengan nama belakang saya, mereka akan kaget tidak menduga dan tertawa. Dan berdasarkan riset saya, ketika kita berkomunikasi dengan orang lain, dan orang lain tertawa dengan apa yang kita lakukan, itu artinya mereka telah nyaman berkomunikasi dengan kita. Dan anda tahu apa keuntungan selanjutnya? Mereka akan menunggu dengan penuh penasaran dan konsentrasi apa yang selanjutnya kita katakan. Dalam arti psikologi, mereka akan mendengarkan kita.

Jika kita berpikir lebih tenang dan dalam, maka akan terlihat berbagai sekat-sekat yang terpisah dengan jelas, mana yang benar dan mana yang salah. Kita tidak akan tersesatkan oleh relativitas massal yang menggiring arah pikir bangsa ini pada logika falasi (kesalahan logika berpikir). Selalu saya jelaskan berbagai latar belakang dan pengetahuan yang mendasari berbagai tulisan saya. Kita semua sepakat bahwa analogi ideal dikatakan bahwa membaca dapat membuka cakrawala dunia, dan salah satu kata-kata kakak saya yang terngiang hingga sekarang adalah, menulis dapat mengubah dunia.

Dasar yang saya jelaskan sedari tadi, mengenai ibadah, komunikasi, berpikir tenang, dan membaca adalah beberapa dari sekian banyak landasan gagasan-gagasan saya dalam menulis. Namun, yang paling saya akui signifikansi pengaruhnya terhadap tulisan saya adalah, semakin banyak kita membaca, semakin banyak kita akan tahu, ketika kita tahu maka kita akan mencoba membuktikan secara praktis pengetahuan teoritis yang kita punya, dalam proses pembuktian itu terjadi diskusi horizontal maupun vertikal untuk mencapai sebuah konklusi dasar. Maka ujung proaksinya adalah menulis (salah satunya). Jadi dengan logika implikasi matematika sederhana, dapat kita sepakati dan harus disepakati karena ini saya anggap sebagai postulat. Semakin banyak kita membaca, akan semakin banyak kita menulis. (Bersambung…)

 

Adi Sutakwa 20121223

 

MENUJU MASTERPLAN, ADISUTAKWA MERDEKA

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s