Menulis : Inspirasi dari Hati #2


insMembaca

Kenapa orang malas membaca? Kenapa kita akan mengantuk setelah membaca 5 halaman, dan kemudian tertidur? Apakah karena bukunya tidak menarik, atau kita tidak termotivasi, atau ada problem lain? Salah satu penyebab kenapa orang malas membaca dalah karena mayoritas kita masih membaca lambat. Ketika anda membaca lambat maka sebuah buku akan menjadi sedemikian berat.  Anda butuh waktu berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan mungkin bertahun-tahun. Maka kita perlu menerapkan trik dalam membaca, membaca cepat, akan dibahas dalam beberapa paragraf selanjutnya.

Suatu kali pernah saya ditanya oleh salah satu teman saya, “apa sih yang kamu baca?” Lalu secara singkat terjadi proses mengingat kembali pengalaman-pengalaman yang saya lakukan sebelum menulis. Proses ini menjadi fase yang sangat lucu bagi saya, mengingat apa yang saya baca ketika SD, SMP dan SMA. Banyak yang saya baca dan tulis saat itu berbeda secara makna dan karakter.

Tak perlu saya ceriterakan apa yang terjadi saat itu karena itu adalah masa lalu, kata seorang kakak saya. Jangan hanya bercerita, cerita adalah pekerjaan orang tua, cerita adalah kewajiban orang tua untuk membekali para muda yang selalu bersemangat dan ambisius. Dan kita para pemuda, tugas kita hanya satu untuk dapat disebut sebagai pemuda, gagasan. Gagasan adalah bukti bahwa kita pemuda, kita mencipta gagasan, merangkainya dengan perencanaan detil mengenai beberapa instrumen, parameter, dan amunisi yang mesti dilakukan. Relevansinya harus jelas sehingga gagasan kita tidak hanya ideal, namun juga real. Nyata, sesuai, tepat waktu, dan tepat guna dengan yang dibutuhkan masyarakat.

Untuk dapat merangkai ceceran pengalaman, pengetahuan, dan analisa subjektif menjadi satu gagasan utuh yang dapat diterima secara objektif, ada beberapa hal yang mesti dilakukan. Setelah kita membaca dan memiliki pengetahuan mengenai konteks yang kita bahas, maka secara otomatis hal-hal baru yang kita tahu dari bacaan kita akan lebih mudah tersimpan dan lebih mudah “dipanggil kembali” untuk dapat digunakan sesuai kondisi. Dalam salah satu buku yang saya baca, Brain Rules, disebutkan bahwa semakin sulit, terkode secara rumit, dan tidak lazim, maka kata itu akan lebih mudah diingat pleh otak kita. Hal ini sering saya praktikkan secara praktis.

Mengingat

Tulisan yang terkode, lebih mudah diingat oleh otak. Suatu kali saya pernah mengodekan password ­akun-akun internet saya, semua password saya bedakan dan tidak menggunakan tanggal lahir seperti orang kebanyakan. Maka ketika saya akan login di forum A, misalanya, akan dengan mudah saya ingat kode yang pernah saya buat. Ingat, mengodekan bukan berarti membedakan. Pada dasarnya, semua password saya adalah sama, namun dikodekan secara berbeda hingga display fisik yang nampak sangat berbeda dari kata awalnya. Sebagai contoh, kata “boy23golden” dapat dikodekan menjadi “gtd78ltpijs” dan banyak bentuk yang sangat berbeda dengan menggunakan Caesar Code (kode yang digunakan Julius Caesar untuk mengirimkan pesan rahasia pada orang-orang kepercayaannya). Kode yang saya contohkan diatas menggunakan Caesar Code dengan kunci 5, setiap huruf dan angka bergeser lima huruf/angka. Ya, semua kode selalu disertai dengan decode-nya.

Inti yang ingin saya sampaikan adalah untuk dapat mengingat banyaknya pengetahuan baru yang masuk pada otak kita, kita harus melakukan beberapa treatment khusus pada diri kita sendiri. Saah satunya dalah mengodekan setiap informasi yang kita dapat, dengan cara mencatatnya sebagai inti, bukan narasi. Inti yang ditulis dengan karakter yang dapat anda pahami dan anda ingat dengan mudah, karakter yang terkodekan dengan kode anda sendiri, kode ciptaan anda sendiri.

Mengenai membaca, sebuah penelitian di Amerika Serikat menyatakan, 1 dari 4 orang dewasa tidak membaca 1 bukupun dalam satu tahun. Itu di Amerika, negara yang berpredikat negara maju, lalu bagaimana di Indonesia? Anda bisa memperkirakannya sendiri. Hal lain yang pasti pernah anda terima teorinya semasa SMP atau SMA adalah membaca cepat. Saya masih ingat bahwa saat itu dikatakan kecepatan membaca rata-rata yang ideal (manusia Indonesia) adalah 200 kata/menit. Lalu setelah di tes, hasilnya semua murid tidak pernah dapat mencapai rerata tersebut. Cukup menggelitik ketika beberapa saat yang lalu saya mengunjungi youtube untuk mencari update video-video kesukaan saya yang bertajuk TEDx, dan salah salah satunya membahas tentang membaca cepat.

TEDx adalah forum yang ditiru dari luar negeri, TEDx semacam penyampaian materi satu arah dengan pembicara-pembicara yang luar biasa expert dibidangnya, audience­-nya mayoritas anak muda, dan dibawakan dengan gaya santai kadang penuh candaan. Beberapa yang pernah saya tonton adalah, TEDx dengan pembicara Sujiwo Tejo, Ridwan Kamil, Enda Nasution, Anies Baswedan, Zaini Alif, Wisnu Jatmiko dan masih banyak lagi. Seperti yang saya katakan, mereka ahli di bidangnya, dan yang lebih penting lagi, mereka menginspirasi. Kesemuanya minimal mempunyai gerakan yang diciptakan sendiri untuk kemajuan Indonesia, contoh yang paling mencolok tentu saja Anies Baswedan dengan Indonesia Mengajar-nya dan Ridwan Kamil dengan Bandung Kreatif Forum dan Indonesia Berkebun. Pahlawan-pahlawan muda Indonesia.

Kembali pada persoalan membaca cepat, dengan kecepatan rata-rata 200 menti/kata maka yang bisa kita baca adalah 2 menit untuk 1 halaman, dan 3,5 jam untuk menyelesaikan buku setebal 100 halaman, dengan catatan bukunya dibaca tuntas tanpa jeda sama sekali. Kecepatan itu ternyata tidak jauh beda dengan kecepatan membaca siswa sekolah dasar. Mengejutkan? Tidak, karena memang kita tidak pernah lagi belajar membaca setelah kita lulus SD. Lalu bagaimana kita dapat membaca cepat dengan benar?

Ada beberapa tips sederhana yang dituturkan Mohammad Noer pada forum TEDxJakarta. Pertama, jangan bersuara. Ketika anda membaca  sambil mengeluarkan suara, maka kecepatan membaca anda akan tersendat maksimal setara dengan kecepatan berbicara. Padahal, membaca tidak butuh mulut, membaca hanya butuh mata dan kepala. Kedua, jangan membaca kata per kata. Karena ini yang dilakukan kebanyakan orang, mata kita berpindah satu kata ke kata yang lain.

Membaca cepat bukanlah membaca dengan cepat semua kata per kata sehingga orientasinya adalah efiensi waktu. Membaca cepat adalah membaca inti kalimat, dengan konsep membaca cepat yang benar, kita dapat membaca – dan tentu saja memahaminya sehingga mudah mengingat kembali – dua kali lebih cepat dari kecepatan rata-rata orang (200 kata/menit). Mohammad Noer menambahkan, dengan membaca cepat anda akan belajar menjadi pembaca cerdas, untuk menangkap inti dari sebuah persoalan bacaan. Membaca cepat juga akan membantu anda memiliki pemahaman yang tinggi, aneh? Alasannya sederhana, otak kita menangkap dan memahami sesuatu secara kontekstual, makna. Dengan memasukkan banyak kata secara sekaligus, maka otak kita akan terbantu untuk menyimpulkan intisari dari sebuah bacaan. Kemudian, kita akan jauh lebih mudah mengambil keputusan berbekal pengetahuan dan intisari yang didapat dari bacaan-bacaan kita yang dipahami secara cepat, dan anda akan mencintai keseharian dan rutinitas membaca hingga anda akan menjadi pribadi unggul dengan segala hal yang anda pelajari dari bacaan bacaan anda.

Mari ingat kembali, dua metode membaca – atau hal-hal yang berkaitan dengan membaca – yang saya jabarkan disini. Pertama, mengodekan yang kita tulis/baca, ini akan berpengaruh pada proses mengingat kembali apa yang kita tulia/baca, begitulah otak kita bekerja. Kedua, membaca cepat dengan benar. Tidak bersuara dan jangan membaca kata per kata. Jangan malas membaca karena postulat awal pada tulisan ini adalah, semakin banyak kita membaca, akan semakin banyak kita menulis. Maka bacalah, dan menulislah, dengan sangat mudah, penuh makna dan inspirasi. (Bersambung…)

Adi Sutakwa 20121224

MENUJU MASTERPLAN, ADI SUTAKWA MERDEKA

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s