Menulis : Inspirasi dari Hati #3


insKomunikasi lintas dimensi

Dalam tulisan yang pertama, pernah saya sebut mengenai diskusi horizontal dan vertikal. Ini adalah hal yang sangat penting dalam membangun suatu konstruksi dasar pemikiran kita ada sesuatu. Berpikir adalah hal pertama dan utama yang dilakukan dalam segala bentuk tingkah laku dan sikap kita terhadap segala hal. Jika pintu pemikiran yang kita buka salah, maka proses dan akhir yang didapat akan melenceng pula, ini bukanlah sesuatu yang baik untuk sikap kita selanjutnya – menulis salah satunya.

Diskusi horizontal adalh diskusi kita dengan lingkungan sekitar, dengan objek yang dapat memberikan feedback pada ide dan pengetahuan kita. Diskusi dapat dilakukan dengan kawan sebaya, – pada wanita biasanya dilakukan dengan sahabatnya – orang yang dianggap lebih tahu (lebih senior/tua), atau dengan orang yang dianggap tidak tahu (lebih muda). Hal yang perlu diperhatikan dalam diskusi semacam ini adalah umpan balik yang diberikan kawan bicara – kebanyakan orang menyebut lawan bicara, tapi saya lebih suka menyebutnya kawan bicara. Otak kita memproses segala makna yang masuk dan mengurainya kembali dalam bentuk perilaku, maka jika kita menyebut orang yang kita ajak bicara sebagai “lawan” bicara, secara otomatis otak kita akan memerintahkan atau mengeluarkan respon “mengalahkan lawan”. Namun jika kita menyebutnya sebagai “kawan bicara”, maka dengan “ramah” pula otak kita akan menyambutnya dengan sikap terbuka dan kooperatif terhadap apa yang dikatakan kawan bicara kita. Terbuka, untuk tahu.

Diskusi membuat kita tahu apakah teori yang didapat dari apa yang kita baca benar dan relevan dengan kondisi kekinian masyarakat. Akan ditemukan hal-hal yang sesuai dengan teori dan mungkin lebih banyak yang menyimpang dari teori. Keduanya penting, karena dalam proses pembuktian ini kita dapat melakukan analisa pada pengetahuan yang kita dapat, dan pada kesimpulannya dapat menentukan sebaya apa porsi yang masih relevan dengan kondisi masyarakat, sehingga pengetahuan yang kita punya dapat bersifat aplikatif dan tepat guna. Bukan latah dan ceroboh mengikuti konspirasi propaganda media. Diskusi horizontal, interaksi antar manusia, membuat kita sadar untuk tidak melangit terbang tinggi hingga tak ada lagi yang mempu menemani kita diatas awan.

Mari melangkah pembahasan kedua, diskusi vertikal. Dengan berbagai subjektifitas saya, terdefinisi dalam beberapa persepsi mengenai diskusi vertikal. Pemaknaan, pemikiran kembali, komparasi, dan konklusi dengan dasar agama Ilahi adalah inti dari vertikalitas diskusi. Diskusi vertikal membuat kita merendah sebagai makhluk yang serba tidak tahu, – rendah hati – mengerti asal dan usul, masa lalu dan masa kini, kemampuan dan disabilitas, perbedaan antara kita dengan Tuhan. Semua pengetahuan yang kita tahu, akan dikembalikan pada pemaknaan mengenai hidup, pertanyaan tentang eksistensi dan kesadaran akan perbedaan penciptaan manusia dan seluruh isi alam semesta. Dengan pemahaman semacam ini, segala apa yang kita tulis – dan kita lakukan – akan didasari dengan kesadaran eksistensial, untuk memeberi kebermanfaatan terhadap manusia sebanyak-banyaknya.

Eksistensi, manusia adalah makhluk yang penuh tanda tanya, hingga dirinya sendiri selalu bertanya untuk apa dia hidup. Sense of belonging memaksa manusia untuk mencari sebuah komunitas, atau kumpulan, atau bahkan menciptakannya. Dengan memberi, berbagi, dan berkarya pada manusia lain, akan timbul suatu perasaan “saya dihargai, saya dibutuhkan”, mereka memaknai sikap dan pemikiran dengan benar. Memahami penuh kerendahan pada Ilahi, dan menjalankan penuh penghargaan dan tanggung jawab pada manusia. Inilah yang saya maksud sebagai komunikasi lintas dimensi. Diskusi vertikal, menyempurnakan pikiran dan sikap kita.

Sintesis

Maka dalam setiap gagasan selalu saya selipkan konklusi, akhir pemikiran yang merangkum rencana relevan keseluruhan perbuatan. Postulat utama, semakin banyak membaca, akan semakin banyak menulis. Instrumen dan amunisi pendukungnya, ibadah (ikhtiar, doa, sedekah), coding (meng-kode-kan), membaca cepat dengan benar, dan komunikasi lintas dimensi (diskusi vertikal-horizontal). Tulis saja, apapun yang kalian tahu, tulis saja. Jangan pernah skeptis untuk menulis, apalagi pragmatis dan oportunis. Menulis, bukan hanya sekedar menulis.

Itulah konklusi, inti yang harus tercapai dalam segala teknis pelaksanaan. Membaca, yang saya tetapkan dalam postulat, bukan hanya membaca buku, tapi membaca alam. Bacalah, dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Tulislah, tinggalkan gagasan untuk keberlanjutan zaman. Indonesia, menuju peradaban sesungguhnya!

Adi Sutakwa

20121224

–       Terinspirasi oleh orang-orang di sekitar saya, yang selalu ada dan bertanya, menyemangati saya, dan membuat saya terharu dengan mengatakan “di, aku terinspirasi dengan apa yang kamu lakukan, tulisanmu di, menginspirasi aku. Terima kasih.” Sungguh, kawan-kawan yang tak tergantikan. Tetaplah indah, jadilah bunga yang menyembuhkan dengan warna dan mekarnya, jadilah bunga yang menyembuhkan dengan manis sari bunganya, dan jadilah bunga yang menginspirasi dengan senyumnya, pada dunia. Terima kasih kawan-kawan tercinta.  Inspirasi lahir dari inspirasi. 🙂

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s