Berpikir Ulang : Leave Legacy


legSejenak terlintas mengenai kewajiban memimpin, sebagai pemimpin. Dan kewajiban membekali, sebagai seorang kakak. Akan saya kaitkan dengan beberapa kata, iri, ambisi, bakat, dan cinta. Memang tak pernah ada bahasan tentang ini, dan tak sedikitpun tersirat ketercocokan pada empat kata ini.

Iri

Pada sebagian pribadi, memimpin adalah tentang iri. Melihat kawan kita lebih “acceptable”, maka akan timbul rasa iri. Akan timbul beberapa pertanyaan seperti, “kenapa dia?”, “padahal saya yakin mampu”. Orang-orang dalam posisi ini akan tersiksa dan cenderung destruktif. Ikut bukan untuk memajukan, tapi memercikkan api “like and dislike”. Orang-rang semacam ini membutuhkan pendekatan secara personal, harus dimengerti dengan pembicaraan intrapersonal. Menurut Weiner (1992), pahamilah bahwa setiap manusia adalah “scientist”, trying to understand themselves and their environment and then acting on the basis of this knowledge. Manusia adalah makhluk yang mencoba mengerti tentang dirinya dan lingkungannya untuk bertindak berdasarkan pemahamannya mengenai diri dan lingkungannya. Maka, untuk membebaskan orang macam ini dari ketersiksaannya, harus didekati, dimengerti dan dipahamkan mengenai diri dan lingkungannya, dia butuh tujuan. Kita beri dia tujuan.

Ambisi

Orang orang yang ambisif adalah sebuah model pemimpin yang “Super Successor”, tapi juga bias jadi “Super Loser” jika tidak dibina dengan baik. Ambisi yang mereka punya harus diarahkan agar terarah dan tidak merusak lingkungan sekitarnya, karena orang seperti ini bisa jadi “vision oriented” yang merancang detail masa depan dengan kalkulasi yang terintegrasi dengan probabilitas dan serangkaian alternatif. Namun, jika “over ambisi”, dia akan juga mampu merancang konspirasi multifungsi yang menghancurkan keseluruhan sistem yang sudah mandiri. Jika Anda menjadi pemimpin yang memimpin orang seperti ini, ada beberapa hal yang mesti dilakukan. Pertama, berpikirlah. Hitung denga teliti mana yang lebih baik untuk dia dan lingkungannya, apakah untuk menjadi “Super Successor” ataukah “Super Loser”. Kedua, jika pilihannya untuk menjadi “Super Succesor”, maka jadikan dia “Top Leader” di setiap kesempatan sesuai proporsinya. Jika memilih untuk menjadikannya  “Super Loser”, maka keluarkan saja segera dari system, segera. Karena jika tidak, dia akan mengacau secara revolutif menurutnya. Bahkan dia bias punya pendukung yang banyak dan mampu dikendalikan secara structural dan strategis, untuk melancarkan serangkaian konspirasinya. Karena itu, hati-hatilah memilih konsep pembinaan yang benar untuk orang-orang seperti ini. Pilihlah dengan bijak, “Super” or “Loser”.

Bakat

Anda akan menjadi pemimpin yang sangat bahagia jika mendapat staf semacam ini. Dia berbakat, ditempatkan dimanapun, dia akan optimal dalam segala hal. Ketika menjadi staf, dia akan mudah diatur dan menjadi eksekutor yang handal, beberapa idenya membuatnya menjadi konseptor yang baik. Ketika dia menjadi pemimpin, dia akan berwujud sebagai bagian yang melengkapi bagian lain. Mengatur dengan tepat, membaur dengan lekat. Ya, oaring seperti ini memang berbakat. Tapi selalu ada tapi disetiap kesempurnaan manusia. Karena manusia memang sempurna dengan segala ke-tapi-annya. Dia, yang berbakat sebagai pemimpin, tak akan menjadi “Super” seperti orang-orang ambisif. Dia memimpin sesuai proporsinya, sukses memang tapi tidak begitu mempesona. Beri pengarahan tak perlu berlebihan, karena dia yang berbakat sudah tau bagaimana harus berbuat. Tak akan terlalu banyak konflik dalam setiap kebijakannya, karena semua ternetralisir dengan “bakat”-nya. Konflik yang ada teredam oleh “acceptability”-nya oleh lingkungan. Orang-orang disekelilingnya akan bergerak ketika dia berkata, mereka akan ada ketika dia butuh massa. Anda beruntung, jika punya orang seperti ini. Berbakat. Tepat.

Cinta

Mereka yang ditakdirkan untuk ini, seperti dibisiki oleh tuhan “kamu akan jadi pemimpin di tempatmu”. Iya, dia sesuai dengan karakteristik masyarakat. Dia memimpin dengan cinta dan dicintai ketika mempimpin. Bahkan, ketika melekukan kesalahan mereka yang dipimpin hanya akan memakluminya, seolah terhapus oleh hempusan angin. Ini adalah tipe pemimpin yang membuat seluruh stafnya merasa nyaman. Suasana optimal dan produktif menggema disetiap kehadirannya. Dia didoakan oleh tuhan untuk menjadi seorang pemimpin. Tapi begitulah bumi, selalu ada yang tersembunyi dibalik segala yang tersembunyi. Dia yang dapat memimpin dengan cara ini dapat berbuat satu kesalahan prinsipal yang membuatnya tidak lagi dicintai. Membuat tuhan mencabut doanya. Untuk membimbing orang seperti ini cukup dengan memberi pengetahuan mengenai konsep memimpin yang ideal, eksekusinya akan mudah, karena apa yang dia lakukan dicintai para pendukungnya bahkan orang yang tidak mengenalkan akan simpati. Yah, selamat jika anda memimpin orang seperti ini, tak perlu lagi memikirkan siapa yang akan memimpin tahun depan.

Sintesis

Anda pembaca akan menjadi sempit dan terdoktrinasi oleh tulisan yang dangkal ini. Karena itu perlu dilakukan penggalian  secara sadar. Penggalian akan nilai, makna, dan relevansinya pada kehidupan fana.

Satu pertanyaan, akan jadi seperti apa orang yang dapat mensintesis keempat sifat ini?

Dia punya iri yang terarah, didukung dengan bakat yang ditakdirkan, diselimuti dengan cinta yang didoakan tuhan, dan dilengkapi dengan ambisi yang “future constructed” dengan dasar “vision oriented”. Dia, “Super Leader”.

Adi Sutakwa 20121126

MENUJU MASTERPLAN, ADI SUTAKWA MERDEKA

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s