Leadership #1 : Memahami Nasihat Dewa Ruci


ruciBeberapa kali saya berdikusi, dan beberapa kali yang lain, lainnya, dan lainnya tak akan habis bahan dan pengalamannya, adalah mengenai kepemimpinan. Dari  ujung pertanyaan mendasar pada para pemimpin kampus, celetukan penasaran pada kawan-kawan seperjuangan, pembacaan ilmu melalui buku dan media tiru, hingga kontemplasi dalam yang mengusik eksistensi kemanusiaan diri.

Pada suatu kali saya bertemu dengan ingatan tentang masa sekolah menengah. Saling menyapa dengan lembar-lembar peristiwa pengajaran oleh guru-guru yang sesungguhnya. Selalu saya nanti jam pelajaran bahasa jawa. Ya, dialah Mirin Darmanto, guru ekonomi yang merangkap sebagai guru bahasa jawa di sekolah saya yang kekurangan guru. Agak lucu, padahal di jawa, kok kekurangan guru bahasa jawa.

Dia selalu datang tepat waktu. Integritas tergambarjelas dalam hal itu, dan yang lebih jelas, dia lucu – untuk mayoritas murid, mungkin krik-krik dimata minoritas. Selalu berkata, “ok, ada yang mau ditanyakan?”, setelah membuka kelas dengan salam. Tentu saja semua murid tertawa, cukup ampuh untuk mencairkan suasana peperangan matematika dengan berbagai bom persamaan dan angka-angka peledaknya – bagi yang tersiksa oleh matematika, hahaha.

Lalu apa setelah itu, “karena tidak ada yang ditanyakan, maka saya yang tanya, hahaha”, “atau kita cerita saja, wayang, lagi, hahaha karena ini pelajaran bahasa jawa, bukan ekonomi.” Sebenarnya, bosan juga kalo gaya ngelawaknya itu terus, hahaha. Baiklah itu tidak penting, yang penting adalah kajian filosofis yang selalu dia sajikan dalam setiap cerita dan bahasan mengenai bahasa jawa. Baik dari tata bahasa jawa, cerita dan ciri kebudayaan jawa, maupun dari religiusitas jawa.

Urip kang sejati, yaiku urip kang bisa nguripake samubarang kang kudu urip lan diuripake. Petuah yang membuat Ksatria Penegak Pandhawa menangisi kekasarannya dalam penghancuran apa saja. Nasehat itu bahkan hingga sekarang masih saya ingat dan saya anut sesuai porsinya dalam berbagai laku tindakan saya. Hidup yang sejati, adalah hidup yang dapat menghidupkan segala hal yang harus hidup dan dihidupkan.

Sekiranya kita drag and drop pada kotak bahasan kepemimpinan. Maka akan menjadi, pemimpin yang sejati adalah pemimpin yang mampu memelihara apa saja yang harus dipelihara dan dilestarikan. Bukan pemimpin yang haris dengan tatanan baru dan menghapuskan konstelasi lama. Bukan pemimpin periodik yang cenderung simbolik seperti masa kekaisaran. Bukan pemimpin yang seolah hadir dengan ciri khasnya sendiri dan menafikan progresi masa sebelumnya demi eksklusifitas diri – bedakan ciri khas dengan karakter. Ciri khas yang saya maksud disini bukanlah karakter.

Tapi pemimpin yang wajar. Solusinya wajar. Mereka nguripake samubarang kang kudu urip. Apa yang mesti dan harus di lakukan – diuripake – ya dilakukan sesuai proporsi dan kebutuhannya. Tidak mencederai kreativitas dan ide gagasan orang-orang yang dipimpinnya. Tapi menghidupkan, meluruskan, memberdayagunakan, megarahkan, membina, membekali mereka yang dipimpin. Leave legacy, pernah saya sebut dalam tulisan saya yang terdahulu.

Pemimpin yang mewarisi watak humanis. Menghidupkan pelita dikala gelap, dan mematikan cahaya tambahan dikala benderang. Itulah inti, filosofi dari deretan bangku coklat perkuliahan anak sekolahan. Filosofi mengenai hidup, hidup yang wajar, hidup sebagai manusia yang bersikap sebagai manusia. Dan hidup yang penuh dengan makna, bukan hanya ketersesatan tujuan.

Ya, Urip kang sejati, yaiku urip kang bisa nguripake samubarang kang kudu urip lan diuripake, nampaknya harus kita pahami bersama, sebagai prosesi internalisasi mengenai eksistensi diri, manusia yang memahlukhidupkan apa apa yang patut dimaklukhidupkan. Bagaimana kalian memimpin diri sendiri, menunjukkan bagaimana kalian memimpin orang lain.

Adi Sutakwa 20120103

MENUJU MASTERPLAN, ADI SUTAKWA MERDEKA

Advertisements

3 thoughts on “Leadership #1 : Memahami Nasihat Dewa Ruci

  1. tadinya lagi nyari pemilik kata-kata “Urip kang sejati, yaiku urip kang bisa nguripake samubarang kang kudu urip lan diuripake.”, eh malah ketemu blognya kakak seperguruan di Smansa 😀
    Makasih untuk infonya mas. Sangat membantu mengurangi rasa penasaran saya akan maksud dari kata-kata penuh makna tersebut.

    Like

  2. iya mas 😀
    waktu itu lagi beres2 buku SMA, terus nemu tulisan itu, tapi lupa kata-katanya siapa, hehe. Pas browse di gugel, blog ini muncul. eh taunya punya masnya 😀

    blognya bagus mas, isinya agak ‘berat’ tapi menarik. jadi ketagihan baca tauk :3

    Like

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s