Leadership #2 : Menemukan Arti Manusia dan Memanusiakan Manusia


nafsSepertinya, kajian dan pembacaan mengenai kepemimpinan telah membuat manusia lupa – dalam hal ini saya. Lupa akan sebuah titik balik dari persamaan kalimat, lupa akan hitam yang selalu ada sebagai bayangan disetiap putih. Berbagai training dan motivasi kepemimpinan tidak dapat disikapi secara bijak, karena memang tidak mengerti apa itu bijak. Semua kentara congkak dan overconfidence berpikir bahwa diri telah siap dan mampu, hanya dengan satu modal yang selalu digembargemborkan disemua training-training motivasi confidence.

Beberapa kali saya telah larut dalam kekalutan, ketakutan dan penyesalan pribadi karena terlanjur memimpin suatu kelompok, dalam kondisi tidak layak, tidak pantas. Takut dan menangis tiap kali diceritakan bahwa ulama-ulama dahulu selalu menangis ketika dipasrahi kewajiban memimpin. Dan tempo hari telah saya saksikan sendiri bagaimana pemimpin yang pantas, ketika terpilih dari sebuah mekanisme, dia menangis, ketakutan dalam keberanian. Dia berani untuk takut. Lalu apakah kita terlalu congkak atau bahkan menantang sebuah amanah? Kesalahan besar, overconfidence, nafsu. Di tengah zaman penuh motivasi – yang kadangkala menyesatkan – maukah kita memberanikan diri untuk takut?

Ketika confidence telah berubah menjadi overconfidence maka berhati-hatilah karena yang anda percayai sebagai confidence bukan lagi confidence tetapi tidaklah lebih hanya sebuah nafsu. Benar, kesalahan persepsi ini sangat sulit dimengerti karena kita tidak akan pernah sadar, apakah kita dalam keadaan confidence atau overconfidence. Batasannya sangat tipis, perlu kesadaran yang dalam dan pengingatan dari orang lain karena dalam posisi ini kita terjebak dalam fanatisme diri sendiri.

Menurut Ki Ageng Suryomentaram – salah satu murid KH Ahmad Dahlan, salah satu anak Sri Sultan Hamengkubowuno VII, salah satu pendiri Taman Siswa,  penggagas tunggal tentara sukarela (tentara PETA setelah diresmikan jepang, dan cikal bakal TNI yang hingga kini menjaga kedaulatan negeri) – tahu itu tanpa batas, karena sampai pada titik tidak tahu, toh kita masih bisa tahu juga. Yaitu tahu bahwa kita tidak tahu. Ketika meneliti suatu kejadian, kita akan meneliti detil besar dan kecil, yang akan bermuara pada titik ketidaktahuan. Tetapi jika ketidaktahuan itu kita paksaan, lantas kita pun menjadi mengira tahu, dan mengira tahu hakikatnya adalah tidak tahu. Jadi, mengira tahu sesungguhnya adalah ketidaktahuan yang dipaksakan, hanya untuk memenuhi pengharapan untuk dapat mengetahui segala hal sehingga mencari-cari tamsil, tanda-tanda, persamaan-persamaan, dan menjadikannya sebagai ilmu keyakinan jadi-jadian.

Sama halnya dengan confidence, ujung dari kebablasan keyakinan adalah overconfidence, dalam hal ini saya menyederhanakannya dalam sebuah frasa, nafsu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dideskripsikan sebagai dorongan hati yang kuat untuk berbuat kurang baik. Dorongan hati, ini yang membuat nafsu sangat berbahaya. Karena ilmu tentang penguasaan hati tidak bisa dipejari, namun hanya bisa dipraktikkan secara berkala, kontinu, dan tanpa akhir. Ilmu untuk memahami hati adalah ilmu sabar dan ilmu ikhlas. Pengetahuan yang parameternya hanyalah Sang Maha Tahu yang tahu.

Bukan berarti kita tidak bisa keluar dari kesesatan nafsu. Diciptakan Kitab Suci, adalah untuk mengendalikan hawa nafsu. Semua agama pastilah menempatkan hal ini pada grade yang tinggi dalam keharusan penaerapan agama, bahkan dalam agama Islam, jelas dikatakan bahwa Al Quran diturunkan sebagai software pengendalian hawa nafsu. Maka, jika memahami dan mau sedikit berpikir, sesungguhnya manusia diciptakan benar-benar dalam bentuk dan berbagai fitur yang sempurna, baik fitur utama (jiwa, raga, akal, hati, nafsu) maupun fitur tambahan (Al Quran, makhluk seisi dunia, dan berbagai hal dari luar diri).

Jadi, dalam memanusiakan manusia bukanlah hal yang bisa dilakukan secara teoritis dan praktis. Namun, kesatuan dari pengalaman dan kajian menahun dari berbagai “manusia sungguhan” dan literatur rujukan. Dan ingatlah bahwa Allah berfirman dalam Surat Cintanya, “…Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi…” – Al Quran 2:30. Perhatikanlah diri, perbaikilah diri, sebelum berkelakar atas nama kompetensi dan humanisme, cermatilah apakah kalian siap dan sanggup menjadi khalifah dari banyak khalifah? Menjadi pemimpin dari sekumpulan pemimpin? Karena Allah telah menakdirkan manusia sebagai pemimpin, maka sesungguhnya tiap-tiap kalian adalah pemimpin, persiapkanlah diri untuk kelayakan memimpin para pemimpin. Pantaskah kalian memimpin para pemimpin? Jangan tertipu oleh nafsu!

Adi Sutakwa, dalam penuh ketakutan.

20120107

MENUJU MASTERPLAN, ADI SUTAKWA MERDEKA

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s