Sebuah Segmentasi Berpikir #1


uniCara berpikir mahasiswa, sebuah ranah penuh dinding pembatas yang secara nyata namun kasat mata telah membentuk segmentasi-segmentasi berpikir yang sempit dan statis. Hal ini disebabkan oleh cara pandang yang tertutup dan terhabituasi dalam kurun waktu tertentu. Terakumulasi menjadi kelumrahan toleransi tanpa ketegasan menuju perubahan yang terbuka.

Sifat puas diri dan persepsi keberhasilan yang semu menyebabkan pencapaian pencapaian kecil dipandang secara hiperbolik sebagai pencapaian yang besar dan final. Beranggapan telah melakukan yang terbaik dan mendapatkan yang terbaik, evaluasi yang dilakukan hanya dijalankan sebagai keteraturan prosedural ketimbang keutuhan esensi dan makna perbaikan.

Mainset ini terus dipertahankan dalam kehidupan berorganisasi yang akhirnya semakin menjadi konsepsi yang abstrak berhambur tanpa tujuan yang jelas. Parahnya lagi kakak-kakak senior di lingkungan interaksi kampus memberikan pandangan-pandangan yang terikat oleh kebiasaan pendahulunya dan sangat kaku tanpa perbaikan yang sesuai. Hal ini semakin membatasi cara berpikir para mahasiswa baru yang notabene baru saja mengalami masa peralihan dari rutinitas organisasi sekolah menuju kompleksitas pergerakan kampus. Dinamisasi tidak dapat bertahan lama dan justru mati karena kekacauan dan kekakuan cara pikir mahasiswa senior. Mahasiswa baru hanya menjadi robot-robot yang berusaha keras menjalankan program kerja organisasi secara benar, membabi buta, tanpa mengerti inti dan esensi dari program tersebut. Rutinitas semu tanpa maknawi bermutu.

Rutinitas ini berlangsung terus menerus membentuk sebuah lingkaran yang tak terputus. Diwariskan kepada generasi selanjutnya tanpa tujuan seutuhnya, semakin memojokkan dinamika berpikir yang semakin pudar dan nyaris menghilang. Wabah akut organisasi seperti ini membuat para aktivis seakan ‘tidak aktif’ dan cenderung statif. Dampak lanjutannya adalah segmentasi berpikir yang berkutat dalam kepentingan lembaga, kepentingan kelompok, bahkan kepentingan pribadi, tidak sedikitpun menyentuh tanah subur nan produktif bernama kepentingan bersama, kepentingan orang banyak, kepentingan masyarakat, apalagi kepentingan negara.

Hasil akhirnya adalah perpecahan, bukan hanya riak kecil yang mudah hilang namun kehancuran massif yang merusak segala lini keharmonisan interaksi antar lembaga. Perpecahan besar ini umumnya diawali oleh hal hal sepele semisal benturan waktu pelaksaan program kerja yang semestinya dapat diselesaikan dengan lobi lobi diplomasi sederhana tanpa egoisme etnis sebuah lembaga. Benturan ini menyebabkan perebutan massa sehingga terjadi sebaran massa yang tidak terkonsentrasi pada satu event saja. Akibatnya timbul kecurigaan antar organisasi yang terlanjur dianggap sebagai kompetitor perebut massa dan penghambat kaderisasi. (Bersambung … )

Sebuah Segmentasi Berfikir (bagian 2 – end)

Konstelasi berpikir harus dibangun. Singkirkan segala cara berpikir praktis yang merenggut segala karakter kritis. Konstelasi yang dimaksud adalah sebuah tatanan berpikir yang berorientasi pada tujuan akhir dan kode etik yang telah disepakati bersama. Untuk membuat kesatuan berpikir yang tidak memisahkan berbagai kepentingan, harus ada sebuah tujuan bersama. Masalah bersama, hingga tercipta kesadaran secara luas terkait permasalahan yang ada.

Saat dalam suatu wilayah terdapat beberapa organisasi yang telah lama terbentuk bahkan secara program telah dapat mapan, akan sulit untuk merombak dari awal dan membentuk tatanan structural yang baru. Apalagi telah terjadi kecemburuan posisi diantara beberapa organisasi tersebut, diperparah dengan ketidakmerataan kaderasi yang mengancam kelangsungan hidup sebuah organisasi.

Dengan kompleksitas ini, maka dibutuhkan sebuah penyatuan pikiran dan penyatuan tujuan yang tak akan mungkin dapat diwujud dengan satu atau dua tahun saja. Perjalanan saya ke salah satu universitas terbaik di Indonesia telah memberi saya pencerahan bagaimana masalah yang ada antar organisasi harusnya dapat dicegah dengan kejelasan dan ketegasan struktural.

Adanya pembagian kerja yang jelas membuat batas antar organisasi,namun sekaligus membuat semua organisasi bersikap sesuai porsinya, saling menghargai dan menghormati, bahkan men-support organisasi lain yang membutuhkan bantuan, bukan hanya sekedar support fisik berupa peminjaman inventaris, namunsupport moril dan edukasi mengenai organisasi.

Salah satu faktor penting yang harus diperhatikan dalam merancang struktur organisasi adalah seberapa jauh kebutuhan untuk melakukan diferensiasi dan integrasi. Diferensiasi dibedakan menjadi 3 yaitu,  Horisontal (pembagian kerja didasarkan pada spesialisasi). Vertikal (pembagian kerja didasarkan pada hirarkhi, otoritas, atau rantai komando). Spasial (pembagian pekerjaan didasarkan pada wilayah geografis) (Kumorotomo, 2007).

Keseluruhan proses yang terjadi pada tiap interaksi pribadi dalam organisasi ini membutuhkan koordinasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, koordinasi diartikan dengan mengatur suatu organisasi atau kegiatan sehingga peraturan dan tindakan yg akan dilaksanakan tidak saling bertentangan atau simpang siur. Tidak saling bertentangan artinya ada beberapa prinsip (peraturan) yang sengaja dibuat sebagai pembatas dalam melakukan tindakan keorganisasian. Tidak simpang siur, artinya ada sejumlah aturan yang jelas dan terjelaskan secara eksplisit sehingga seluruh anggota organisasi dapat memahami apa-apa yang boleh dilakukan, dan apa-apa yang tidak boleh dilakukan, tentunya paham juga akan hak dan kewajiban dalam segala pelaksanaan rutinitas  organisasi.

Untuk menciptakan atmosfer seperti yang diharapkan diatas, maka perlu ada sebuah gerakan penyatuan. Gerakan yang moderat dan mampu memikat segala sisi kehidupan dan ego organisasi. Gerakan yang mengatasnamakan kepentingan bersama, tanpa ada unsur pencitraan sementara. Komunikasi yang dibutuhkan adalah komunikasi intensif para calon pemegang kepemimpinan organisasi. Karena pada posisi ini, ego pribadi dan golongan tidak terlalu fanatis. Bahkan dengan kepolosan idealisme yang dibawa dari SMA, hal ini justru dapat menyatuka pemikiran para pelaku yang nantinya diharapkan akan memegang tampuk kepemimpinan organisasi.

Dengan  kesatuan visi dan misi, tatatan kehidupan antar organisasi akan terwujud secara lengkap dalam 2-3 tahun. Waktu yang dibituhkan memang cukup lama, karena hal ini perlu komunikasi intensif antara kaderisator dan calon pemimpin. Namun, dengan spirit perbaikan dan kesatuan, segalanya dapat dicipta dengan berkala. Akumulasi akan terjadi, penanaman esensi akan lancer dan terinternalisasi. Hingga akhirnya, budaya mandiri dan madani akan menjadi cirri khas dalam kehidupan berorganisasi. Mencipta insane paripurna dalam upaya pencerdasan Indonesia, menuju peradaban dunia. (bersambung…)

Adi Sutakwa

20120623

MENUJU MASTERPLAN, ADI SUTAKWA MERDEKA

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s