Leadership #4 : Integrasi Konsep Kepemimpinan Profetik dalam Keseharian Mahasiswa


muhPuncak dari segala teori dan motivasi adalah keseharian dan pembiasaan diri. Tidak akan ada yang tau selain diri kita sendiri, apakah telah sampai kita pada tujuan dan penerapan yang sesungguhnya. Orang lain hanya melihat, orang lain mungkin berpikir, orang lain pasti menilai, hanya sedikit yang berpendapat, dan lebih sedikit lagi yang mau mengingatkan kita ketika kita teledor. Tidak sesuai kata dan tindak. Kata kakak saya, kita benar saja kita bakal sering disalahkan, apalagi salah?

Tulisan ini adalah produk akhir dari penyimpulan saya mengenai kepemimpinan. Setelah membahas filosofi nasehat Dewa Ruci yang menitipkan kebersahajaan urip kang sejati untuk mereka yang mempunya kekuatan besar macam Bima. Dan kesederhanaan ilmu dari Sang Pangeran Ki Ageng Suryomentaram yang tidak pernah mau menjadi pangeran, menolak menjadi pemimpin, memilih mencari diri, mencari Tuhan. Serta kajian sederhana nan mengena tentang integritas, sebagai keluasan makna bukan kekakuan tindak. Tulisan ini, mencoba menyajikan kepemimpinan sempurna, kepemimpinan manusia yang sempurna, kepemimpinan ala Rasulullah.

Ciri Dasar

Sejak kecil dalam berbagai pelajaran agama pada sekolah formal, tentu telah dijelaskan secara tersirat mengenai kepemimpinan profetik, namun sepertinya tidak terlalu sakti dalam hal penyampaiannya hingga kala itu sama sekali tidak menginspirasi saya. Benar, saat itu hanya dibahas secara sederhana, dangkal, dan tidak filosofis mengenai sifat wajib Rasul, shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah. Berbeda dengan saat ini, berbagai penjelasan dan kajian mejelaskan secara mutakhir bagaimana konsep yang disebut kepemimpinan profetik telah mampu mewujudkan rule of the world, keteladan transenden – tidak mampu dicapai oleh manusia biasa.

Susah untuk membayangkan bagaimana bentuk keseharian dari shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah, padahal teladan yang paling sempurna adalah Rasulullah. Perlu sebuah pengajian lanjutan dan penafsiran dalam hingga kepemimpinan profetik dalam diterjemahkan ke dalam bahasa kultural. Bahasa budaya, bahasa yang dimengerti semua kalangan, dari yang berpendidikan rendah hingga pendidikan tinggi, dari yang fakir hingga kaya, dari para atheis hingga para ulama. Bahasa kultural, bahasa yang mampu dipahami semua pihak.

Dalam pandangan Ismail A. Said, shiddiq diartikan sebagai kredibel dan berintegritas. Pemimpin yang kredibel akan selalu berada pada jalur yang benar dan tidak tergoda untuk menyimpang, karena ia memiliki integritas. Amanah adalah profesional, setia menjalankan mandat yang diberikan dengan sepenuh hati, tahu konsekuensi dan tanggungjawabnya. Tabligh merupakan bahasa filsafat dari keterampilan berkomunikasi. Lihat saja betapa cepat pertumbuhan Islam di awal masa turunnya, hanya dengan liqo-liqo tersembunyi, ditambah dengan kecerdasan diplomasi Rasulullah, mudahlah menjaring masa untuk keberlangsungan Islam kala itu. Visioner, adalah bentuk sederhana dari fathanah. Bukan berarti dapat meramalkan masa depan, namun mampu merumuskan formulasi tepat untuk mengantisipasi masa depan, mencipta sistem kebijakan yang benar bagi organisasinya hingga tercapai kemakmuran dan kesejahteraan, bukan hanya fisik namun juga psikis.

Pemimpin seperti yang difirmankan Allah dalam surah Al Ahzab ayat 21, “Sesungguhnya telah ada dalam diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu…”, surah yang turun berkenaan dengan kondisi perang Khandak, dimana kondisi saat itu dalam keadaan sangat panas dan kekurangan makanan, masih harus menggali parit untuk perlindungan dari serangan kaum musyrikin. Semua tentara kaum muslim mengganjal perutnya dengan satu batu, untuk menahan rasa lapar. Dan pemimpin mereka, Rasulullah telah lebih dan lebih lapar dari semua prajuritnya, sehingga mengganjal perutnya dengan dua batu. Bahkan dengan kondisi semacam itu, ketika ada batu besar yang menghalangi penggalian parit, dan tidak ada seorangpun yang mampu memecahnya, hadirlah Rasulullah yang mampu menghancurkan batu besar itu. Solutif, dalam bahasa masa kini. Pemimpin yang hingga akhir nafasnya masih juga berkata, “ummati… ummati… ummati…”, pemimpin yang menciptakan model bagi konsep yang sekarang ini disebut sebagai kepemimpinan profetik.

Kutowijoyo bahkan mencipta gagasan baru untuk menerapkan profetikisme dalam kehidupan bermasyarakat, dinamakan Ilmu Sosial Profetik. Terdiri dari tiga pilar penting, humanisasi, liberalisasi, dan transendensi. Humanisasi artinya memanusiakan manusia, menghilangkan “kebendaan”, ketergantungan, kekerasan dan kebencian dari manusia. Liberasi Ilmu Sosial Profetik adalah dalam konteks ilmu, ilmu yang didasari nilai-nilai luhur. Nilai-nilai liberatif dalam Ilmu Sosial Profetik dipahami dan didudukkan dalam konteks ilmu sosial yang memiliki tanggung jawab untuk membebaskan manusia dari kekejaman kemiskinan, pemerasan kelimpahan, dominasi struktur yang menindas dan hegemoni kesadaran palsu. Transendensi merupakan dasar dari dua unsurnya yang lain. Transendensi hendak menjadikan nilai-nilai transendental (keimanan) sebagai bagian penting dari proses membangun peradaban. Transendensi menempatkan agama (nilai-nilai Islam) pada kedudukan yang sangat sentral dalam Ilmu Sosial Profetik. Transendensi adalah dasar dari humanisasi dan liberasi. Transendensi memberi arah kemana dan untuk tujuan apa humanisasi dan liberasi itu dilakukan. Transendensi dalam Ilmu Sosial Profetik di samping berfungsi sebagai dasar nilai bagi praksis humanisasi dan liberasi, juga berfungsi sebagai kritik. Dengan kritik transendensi, kemajuan teknik dapat diarahkan untuk mengabdi pada perkembangan manusia dan kemanusiaan, bukan pada kehancurannya. Melalui kritik transendensi, masyarakat akan dibebaskan dari kesadaran materialistik-di mana posisi ekonomi seseorang menentukan kesadarannya-menuju kesadaran transendental. Transendensi akan menjadi tolok ukur kemajuan dan kemunduran manusia (http://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu_Sosial_Profetik).

Mari lebih dalam membahas dengan mengaitkannya dengan filosofi pewayangan jawa. Sukrasana – sebuah tokoh wayang yang buruk rupa, namun sakti dan berwatak mulia – menurut Damarjati Supadjar, dimaknai dengan “suka sarana” atau memberikan jalan penyelesaian atas masalah. Ia selalu berkorban untuk kepentingan orang lain, atas dasar cinta dan pengharapan mewujudkan dunia yang ideal. Sukrasana memilih, dan pada akhirnya terbunuh oleh kakaknya sendiri, Bambang Sumantri. Padahal sang kakak telah dibantunya hingga dapat menjadi jajaran elit kerajaan Harjuna Sasrabahu.

Sukrasana adalah monumen kesetiaan, integritas dan komitmen yang telah menjadi rujukan bagi semua kebingungan akan teladan (Tranggono, 2012). Sama seperti saat Khalid bin Walid – panglima perang terhebat kaum muslimin saat itu – dengan rela dan rendah hati berkata bahwa posisi apapun, sebagai panglima ataupun prajurit biasa, semua ia lakukan dengan dasar ibadah karena Allah. Sukrasana tampil sebagai pribadi yang terang bendrang, benar dikatakan benar dan salah dikatakan salah. Bukan karena sok suci, tapi karena ia memang telah mencapai titik kesempurnaan diri, melenyapkan ego dan superego sebagai manusia.

Ada, bukan berarti manusia paripurna semacam ini tidak ada. Masih ada, dan akan lebih banyak jumlahnya, memenuhi ruang-ruang korup di berbagai lini sosial Indonesia.  Ada, masih ada, dan akan selalu ada.

Mahasiswa dan Kepemimpinan Profetik

Pernah dan hingga saat ini saya berinteraksi dengan sorang kawan, yang belakangan saya tahu lebih tua dari segi umur namun kebetulan masuk bersama ke universitas dengan saya, berada di organisasi yang sama dengan saya, dan bekerja bersama saya. Dia sosok yang saya kagumi, tidak banyak berkata, hanya “iya..” dan berlalu, menggarap apa yang mesti dia selesaikan. Tak pernah dijadikan top leader, namun saya pahami bahwa dialah salah satu sosok yang mendekati konsep kepemimpinan profetik.

Kredibel, mengerjakan dan menyelesaikan tugasnya tanpa banyak keluh dan protes. Profesional, bekerja dengan hati, bertanya jika tak mengerti, dan menuntaskan apa yang diemban. Mengkomunikasikan segala hambatan dan perkembangan tugas. Dan, mendapatkan hasil yang sesuai, sesuai kebutuhan. Sosok profetis yang masih ada di dunia yang serba oportunis.  Mungkin dia tidak sempurna dengan segala keterbatasan dalam ketegasan, namun dia adalah sosok yang dibutuhkan saat ini, di semua tempat, sebagai pengingat dan ukuran tentang bagaimana seharusnya mahasiswa bersikap, dalam diri sendiri, kepada masyarakat.

Kentara, bagaimana sikap peka adalah keseharian dari kepemimpinan profetik. Peka akan ketidak teraturan, peka akan ketidakefektifan, peka akan kejanggalan, dan turun bertindak tak anyak cakap. Menjadi teladan, bukan mengajarkan keteladanan. Karena satu keteladan (mencontohkan dengan melakukan) lebih baik dari seribu nasihat. Mesti disadari secara kolektif, bahwa kepemimpinan profetik adalah sebuah keniscayaan yang exceptional di tengah zaman yang hambar tidak ada kemajuan dalam berpikir.

Apa yang bisa dilakukan seoang mahasiswa untuk dapat mencapai atau paling tidak mendekati keprofetikan? (1)Perbaiki diri, membaca, belajar, mengkaji berbagai pengalaman dan disipin ilmu untuk dijadikan landasan berpikir. (2)Berkomunikasi, berdiskusi, menyebarkan kegelisahan akan berbagai permasalahan bangsa, bertukar pikiran dan saling melengkapi gagasan demi terwujudnya idealitas solusi dalam aktualitas sehari-hari. (3)Bergerak, menjadi mesin penggerak, mengispirasi dengan tindakan, turun tangan dalam berbagai ruang dan panggung permasalahan masyarakat, mengaplikasikan gagasan yang telah dirancang dengan matang. (4)Berkomitmen, menjaga diri dan lingkungan dari ancaman korupsi – bukan hanya pada hal fisik, namun juga dalam hal psikis, korupsi psikis – memosisikan diri sebagai legislator, eksekutor, dan yudikator. Semua aturan dipahami sendiri, dilaksanakan sendiri, dan diawasi sendiri. Jujur pada diri sendiri jauh lebih sulit ketimbang jujur pada orang lain. (5)Beribadah, untuk dapat memimpin ala nabi, kita mesti paham bahwa Rasul selalu terkoneksi dengan Allah lewat Jibril, selalu diingatkan dalam kebaikan oleh Jibril, selalu dihindarkan dari kejahatan oleh Jibril. Maka meski kita bakan nabi, ajaran dan anjuran nabi, sunnah dan wajib agama mesti ditegakkan sebagai “Jibril” yang selalu megingatkan kita pada kebodohan manusiawi, pada kecerobohan duniawi, dan pada kesesatan nafsu dan emosi.

Dan itulah, keseharian yang relevan berdasar kombinasi sintesis saya. Kepemimpinan profetik, adalah sebuah keniscayaan bersyarat. Yang mesti dihormati – komitment – dan dijunjung tinggi sebagai instrumen utama dalam mewujudkan keteraturan peradaban, keteraturan kehidupan, dan khususnya keteraturan Indonesia. Indonesia, dalam jalan menuju kepemimpinan profetik. Sudah saatnya, Indonesia melakukan integrasi konsep profetik, Indonesia Madani, melalui kepemimpinan profetik. Bergerak, untuk Indonesia profetik!

Dalam penuh kerendahan, Adi Sutakwa

20130111 2249

MENUJU MASTERPLAN, ADI SUTAKWA MERDEKA

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s