Sosok Anomalis : Model Pemimpin yang Dibutuhkan #2


anomBerbicara mengenai sosok anomalis, ada beberapa hal yang harus dikaji secara serius. Sosok yang saya maksud dalam tulisan ini mungkin sangat berbeda dengan berbagai teori kepemimpinan yang sudah ada. Namun teori yang saya nyatakan disini bukanlah sesuatu yang baru, karena sesungguhnya tidak ada satupun hal baru di dunia ini, yang ada hanya kombinasi baru yang menyamarkan bentuk dan ciri hingga tidak kentara persamaannya dengan model lama yang dijadikan acuan.

Beberapa poin yang akan saya bahas dibawah ini sebagian sudah familiar dan terpublikasi secara meluas. Segala pandangan dan persepsi saya mengenai kepemimpinan cultural, kepemimpinan alternatif, dan kepemimpinan spiritualis akan saya leburkan dalam satu kesatuan yang saya sebut sebagai kepemimpinan anomalis. Kombinasi khusus dari berbagai kecakapan kepemimpinan yang pernah ada ditunjang dengan pengetahuan mengenai pengetahuan akan sejarah dan masalah kontemporer serta menyediakan solusi yang ilmiah walau kadang mengejutkan dan bersifat intuitif.

Kepemimpinan Kultural

Kultur masyarakat pedesaan sangatlah ironis bagi saya. Sebagian besar dari mereka menyekolahkan anak-anaknya untuk dapat dijadikan modal saat merantau. Strata pendidikan, pengetahuan, yang dapat menghasilkan uang. Orientasi ini memang keliru dalam pandangan idealis saya. Pendidikan dan pengetahuan yang harusnya digunakan untuk mendidik ulang masyarakat, justru digunakan untuk meraup keuntungan dengan alasan ekonomi semata.

Setelah para pemuda cukup dewasa fisiknya, baik yang berpendidikan atau tidak, semuanyakan merantau, mencari penghidupan dan orang tua berharap mereka dapat mengirim uang tiap bulan untuk biaya hidup orangtuanya. Ini adalah salah satu penyebab kesenjangan sosial yang nyata ada dalam masyarakat. Para pencari kerja bertumpuk di kota besar, pembangunan di pedesaan semakin tertinggal. Tidak ada progres karena tidak ada kaum muda yang mau suka rela memajukan daerahnya.

Ketika budaya dan kepercayaan luhur semakin terkikis, satu-satunya wilayah yang diharapkan dapat mempertahankannya justru dibingungkan dengan urusan perut. Lapar karena tidak ada lahan penghasilan di pedesaan, haus karena dahaga akan kemakmuran tidak juga terealisasikan. Mengharap pada satu fatamorgana, para pemuda yang merantau dapat memperbaiki kehidupan mereka. Pulang dari tanah rantau membawa emas dan membangun ekonomi yang layak.

Ini semua adalah dampak dari kapitalisme liberal. Apalagi masyarakat Indonesia belum siap dengan hantaman globalisasi dan modernisasi. Semua paham individualis yang berorientasi pada keuntungan, mengahancurkan jati diri sosialis. Keuntungan demi memuaskan nafsu terhadap kemajuan zaman, fashion, teknologi, menguras habis nilai luhur, atika, moral yang dahulu disimbolkan dalam tiap tari dan warisan budaya daerah.

Kini, budaya tinggal komersialisasi. Birokrasi saling berlomba merawat warisan sejarah demi investasi dan kunjungan turis. Budaya yang harusnya menjadi penopang dan sumber nilai kehidupan telah kalah oleh gelimangan uang. Berbagai festival kedaerahan dicitrakan, ritual-ritual luhur yang sakral dipublikasikan secara missal untuk menarik perhatian masyarakat yang latah akan tren cinta kebudayaan, budaya dijual murah. Ironi. Kultur kebhinekaan telah hancur ditelan zaman dan kesombongan para pemimpin atas nama pembangunan negara.

Pada muaranya, solusi yang relevan adalah menciptakan pemimpin yang paham. Dibutuhkan puluhan bahkan mungkin juga ratusan pemimpin muda baru yang memahami kultur masyarakat. Yang mampu mengakomodasi kepentingan masyarakat yang rata-rata sangat ortodoks plus konservatif dengan visi masa depan untuk mewujudkan masyarakat madani. Pemimpin yang mampu berbahasa sederhana kepada masyarakat namun mampu mentransformasi pemikiran mereka secara kultural sehingga masyarakat menjadi cerdas dan makin berkembang (Ardika, 2012).

Hal ini semestinya dapat menjadi bahan kontemplasi untuk kita bersama yang terkadang terobsesi oleh kepemimpinan dan politik yang bahkan kita semua belum sepenuhnya mengerti apa makna dari semua itu. Kepemimpinan bukanlah skill yang dikejar untuk definisi diri. Kepemimpinan juga bukan keahlian yang hanya digunakan untuk mendecak persepsi orang lain. Kepemimpinan adalah mata uang yang dicairkan dari segala akulturasi pengorbanan dan pengabdian dengan keseluruhan keikhlasan harta, raga, dan jiwa. Mata uang yang mungkin akan tenggelam dalam kegelapan konspirasi dunia, namun akan hidup dalam kemurnian nurani dan histori sebuah bangsa. Kemuliaan tertinggi dalam sisi surgawi duniawi.

Kepemimpinan Alternatif

Puncak dari multikrisis di Indonesia sebenarnya terkait krisis kebangsaan atau nasionalisme. Asumsinya, kalau nasionalisme (dalam pemahamannya yang substantif) dari seluruh komponen bangsa ini masih kuat, beragam persoalan bangsa masih bisa diurai untuk dicarikan solusinya.

Krisis kebangsaan tentu bukan sekadar memudarnya batas-batas negara (terkait globalisasi dan kemajuan teknologi) atau ancaman separatisme, tetapi melelehnya nilai-nilai luhur yang dulu mendasari terbentuknya Indonesia sebagai negara bangsa. Nilai-nilai kebersamaan, toleransi, dan dialog yang kelak berguna menjaga keutuhan bangsa dicampakkan dan disubstitusi dengan kultur dan nilai-nilai egoistis, pragmatis, dan oportunistis. Pada aras sosial, misalnya, kebebasan pasca-Orba telah membuat kohesi antarwarga bangsa meluntur. Potensi titik-titik api konflik sosial tak kunjung hilang. Belum sembuh luka akibat konflik bernuansa sara di beberapa daerah, potensi pertentangan fisik baru kini muncul lagi ke permukaan menyusul aksi-aksi main hakim sendiri dari sekelompok masyarakat yang memaksakan kehendak. Celakanya, pemerintah dan aparat sendiri tidak tegas. Dalam batas tertentu, pemerintah bahkan terkesan ‘mengambangkan’ persoalan, seperti kasus Ahmadiyah dan beberapa permasalahan lain terkait kepercayaan (Iskandar, 2008).

Berbagai desakan akan munculnya kepemimpinan muda yang dapat memecahkan masalah bangsa seakan tidak tahu arah. Karena tidak ada criteria yang jelas mengenai kepemimpinan muda yang kerap disebut kepemimpinan aternatif ini. Edukasi yang perlu untuk mencipta para pemimpin ini juga terkabur tanpa suatu luaran yang jelas. Masalahnya, jika ternyata para pemimpin muda ini belumlah siap untuk mengganti dan mengisi kursi kepemimpinan. Yang terjadi adalah generasi yang korup, kalut karena tidak siap oleh desakan moral dan pergaulan global yang serba kapital.

Pemimpin muda yang diharapkan adalah mereka yang bisa menggerakkan potensi bangsa, memiliki kecakapan dan kapabilitas relevan dengan kebutuhan bangsa. Mempunyai kepekaan batin sosial, untuk mau berpikir dan memahami kebutuhan bangsa, hingga dapat bergerak dengan cepat dan tepat guna menyelesaikan masalah bangsa ini, bukan sekaligus namun akumulatif, berkala sesuai waktunya dan tepat waktunya.

Pembangunan pemimpin muda ini harus dilakukan sekarang, melalui berbagai proses edukasi kebangsaan, character building, dan praktek-praktek nyata dalam masyarakat secara langsung serta mengena membasahi grass root. Berbagai beasiswa memang telah ada saat ini yang secara program sangat membantu pembentukan pemimpin muda. Program-programnyapun dilaksanakan secara berkala dan teratur dengan konsekuensi hasil yang sudah ditetapkan dan diwajibkan bagi para pesertanya. Salah satunya adalah Beasiswa Aktivis Bakti Nusa Dompet Dhuafa. Program pembinaan para pemimpin organisasi di beberapa kampus besar di Indonesia. Membina bibit-bibit unggul dengan posisi strategis yang diseleksi dengan ketat dengan harapan akan dapat menjadi penggagas-penggagas bangsa yang menyelesaikan keruwetan kebangsaan.

Kepemimpinan Spiritualis

Pemahaman akan makna hidup sangat memudar dirasa dalam keadaan bangsa yang sekarang ini. Kemajuan teknologi membuat manusia Indonesia lupa akan spiritualitas yang harusnya tetap digenggam dengan penuh perawatan. Kita melihat petani bertani untuk uang. Kita melihat guru bukan lagi profesi mulia. Kita mendengar lulusan SMA terobsesi masuk fakultas kedokteran untuk jadi dokter yang kaya. Kita menyadari para aktivis memperkaya kecakapan diri demi kehidupan politik parlemen yang penuh konspirasi.

Kita tidak memahami keberadaan kita dan keadaan kita yang sebenarnya. Sekulerisme telah mengkotakkan kita dalam paradigma ketidaksesuaian kehidupan sosial dengan kehidupan spiritual. Padahal telah bersama diketahui bahwa agama dan kepercayaan kita, meski berbeda-beda adalah sebuah kesatuan moral yang sempurna, mengedepankan tanggung jawab sosial dan kesadaran spiritual yang luhur.

Dahulu, karakteristik Indonesia yang sosialis dan komunal begitu nyata dalam aplikasi dan keseharian masyarakat. Budaya gotong royong yang mendarah daging menciptakan sebuah ikatan batin sosial yang saling berpengaruh pada kualitas kehidupan masyarakat. Sementara dengan berangsur masuknya paham demokrasi, terjadi kesalahan definisi dalam masyarakat kita. Secara langsung nilai-nilai kapitalisme muncul di tengah masyarakat, menciptakan egoism individual yang sangat tinggi, manusia Indonesia yang tadinya berbudaya, bingung dengan tuntutan zaman.

Tuntutan yang mengharuskan tingkatan pendidikan sebagai tolok ukur utama dalam segala pekerjaan. Maka jadilah sekarang karakteristik manusia yang kapital, belajar bukan sebagai kemurnian luhur untuk memahami dunia dan merawatnya. Namun, sebagai formalitas dan desakan zaman demi memenuhi syarat mendapatkan pekerjaan. Mendapatkan uang. Untuk hidup, harus belajar, lalu bekerja, dapat uang hingga bias senang-senang. Tidak karena panggilan pada pemahaman kesatuan rohani dan ragawi.

Keharusan yang sesungguhnya adalah setiap manusia Indonesia tetap mempertahankan idealisme sosialis dan komunal. Disinilah dibutuhkan edukasi yang berkala dan terus menerus untuk kembali menenemkan nilai spiritualitas. Apalagi jika pemimpin yang ada merupakan pemimpin yang mengrti akan hal ini dan dapat bersikap tanggap mengenai pentingnya keluhuran nilai spiritual yang menopang segala sisi kehidupan bermasyarakat.

Pemimpin yang mengajarkan para petani untuk bertani bukan karena uang, tapi karena kesediaan menghidupi bangsa. Pemimpin yang menjadi guru bagi para guru yang sekarang terobsesi dengan sertifikasi dan uang yang mengikutinya. Pemimpin yang memberikan keteladan kepada para aktivis muda agar berani merawat idealitas untuk relevansi penerapannya di kehidupan politik selanjutnya. Pemaknaan hidup yang dalam dan jauh dari kapitalisme, akan membawa Indonesia pada jati diri sesungguhnya. Pada spirit yang dulu secara sempurna dapat menyatukan nusantara dalam kebhinekaan bahasa, kulit, dan agama. Spiritualitas kebersamaan, spiritualitas kebangsaan.

Kombinasi Solusi: Kepemimpinan Anomalis

Seluruh detail komparasi yang telah dijelaskan secara luas diatas akan membentuk suatu kesatuan solusi. Kombinasi dari segala persepsi dan definisi kepemimpinan yang relevan. Tercipta sebagai insan kamil yang hadir tepat waktu dan tepat guna menetralisir segala kepahitan pragmatisme dan individualisme duniawi yang hingga kini nyata menggerogoti Indonesia.

Maka semoga dapat terangkum dalam beberapa rentetan frasa ini. Pemimipin anomalis, pemimpin muda yang hadir bukan tanpa kesengajaan namun telah dipersiapkan. Persiapan edukasi dan aksi. Pembangunan jati diri dan penggalian jati diri. Pematangan character building dengan metode yang teratur dan berkelanjutan demi kesempurnaan pribadi yang diharapkan. Penyederhanaan kekaburan informasi hingga tidak menyalahi budaya dan warisan kebhinekaan Indonesia.

Kombinasi khusus dari berbagai kecakapan kepemimpinan yang pernah ada ditunjang dengan pengetahuan mengenai pengetahuan akan sejarah dan masalah kontemporer serta menyediakan solusi yang ilmiah walau kadang mengejutkan dan bersifat intuitif. Menyiapkan solusi cepat dengan kalkulasi yang tepat untuk merangkainya menjadi gambar utuh bukan lagi puzzle pecah berbau konspirasi.

Maka dengan ini, saya ramalkan Indonesia akan keluar dari keterpurukan cara pandang. Beranjak bangkit menjadi teladan dan acuan oleh negara-negara asia, menjadi kiblat bagi negara-negara eropa, bahkan menjadi pahlawan untuk Amerika. Kita lihat bersama, mungkin sepuluh tahun lagi, atau duapuluh tahun lagi. Siapa yang tau? Maka mari persiapkan diri, biasakan diri, dan budayakan pribadi menjadi pemimpin anomalis. Indonesia, dalam kepemimpinan anomalis. Insya Allah!

Adi Sutakwa 20121106 1302

MENUJU MASTERPLAN, ADI SUTAKWA MERDEKA

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s