Hidup Itu Berubah, Siapkah Kita?


chanBerita duka itu datang, pada akhirnya semuanya memang akan seperti ini, tangis di sudut ruangan mewarnai episode baru dalam hidup seseorang. Episode yang lebih sedikit aktor pemerannya, episode yang lebih sepi – mungkin – atau malah episode yang dimulai dengan kedatangan aktor yang baru. Cerita yang sangat sulit dipahami oleh para aktornya, karena mesti menangis dengan perasaan, tertawa dengan perasaan, marah dengan perasaan, dan pada akhirnya cerita bukanlah hanya cerita. Pada akhirnya, aktor hidup pada cerita, dan karena mereka hidup, maka ini tidak lagi bisa disebut cerita, ini adalah kehidupan.

Saya hidup – sebagai aktor – dengan jalan cerita yang aneh. Tiba-tiba saja dewasa – meski mampu mengingat proses kedewasaan – dan merasa semuanya sangat cepat, sampai pada kemarin ketika berita duka itu datang, semua tiba-tiba menjadi lambat dan mendadak muncul gambar flashback dalam cerita ini, ingatan akan masa kecil, keberjalanannya, dan detil tindak tanduknya muncul bersamaan, cepat tapi tepat, persis walau tak pernah sadar bahwa ternyata semuanya tersimpan. Dan sebuah peristiwa – goncangan – dapat membuat semuanya terlihat. Jelas.

Sepertinya, ini akan menjadi tulisan saya yang paling random, hampa, abstrak, dan obscure. Saya memulainya dengan judul yang tidak berinti, pertanyan dasar yang normatif, dan sering dipertanyakan dalam kelas-kelas motivasi. Dan anehnya lagi tiba-tiba saya memulai dengan bahasan tentang cerita dan aktor – yang lebih ga jelas lagi – dan segala tetek mbengek­-nya. Semua adalah muara dari kekacauan emosi dalam menyikapi sebuah fase dalam kehidupan, – atau bisa juga disebut babak akhir bagi kalangan atheis – kematian.

Saat diberitahu kabar duka itu, saya sama sekali tidak menangis, entah karena hati saya yang telah kaku dan membatu – tidak punya perasaan – atau karena ketahuan saya akan sesuatu yang belum saya tahu – prediksi. Sepertinya alasan saya tidak menangis lebih condong pada yang kedua. Sejak kecil mengonsumsi komik detective conan sepertinya telah mengasah kepekaan saya – prediksi – pada hal-hal yang belum daat dipastikan kebenarannya. Bukan firasat, tapi prediksi – kalkulasi dari sekumpulan bukti fisik maupun nonfisik sehingga memperoleh hasil hitungan yang mendekati kenyataan.

Naif memang, ketika saya anggap ini adalah kepekaan, sebenarnya mayoritas orang telah menganggap ini ketidakpekaan. Berbagai hal tentang eksistensi – hidup, mati, senang, benci, suka, marah, takut, dan lainnnya – selalu dikaitkan dengan urusan perasaan, dan bermuara ada subjektifitas, ego, dan superego. Tidak salah memang, karena itu adalah ilham yang dianugerahkan Allah pada kita manusia – atau bolehkah saya sebut nafsu. Perasaan yang dianugerahkan Allah pada kita manusia, dengan congkak saya sebut sebagai nafsu. Jadi dalam kesadaran dan pemahaman saya, semua yang dianggap oleh mayoritas orang berhubungan dengan perasaan – senang, benci, suka, marah, takut, dan lainnya – saya anggap sebagai nafsu. Jadi dalam pandangan saya, hati itu tidak ada, yang ada hanyalah akal dan nafsu. Nafsu bisa ke arah baik, juga bisa ke arah buruk.

Mayoritas menganggap hati itu selalu baik, hingga dalam berbagai sinetron layar kaca dan film layar lebar disebutkan “tanya pada hati mu..”. Dan nafsu selalu diangap buruk, hingga dalam beberapa drama teatrikal dan panggung-panggung musikal dikatakan “jangan turutkan nafsumu…”. Saya bilang itu adalah kesalahan deskripsi. Jika disamakan dalam frame  berpikir saya, maka nafsu dan hati – dalam anggapan mayoritas – saya mampatkan dalam satu kata, nafsu. Yang bisa baik dan bisa buruk. Nafsu yang baik misalnya damai, senang, suka, terhadap hal-hal yang benar. Namun bisa menjadi jahat ketika damai, senang, dan suka itu dikaitkan dengan hal buruk. Senang ketika terjadi perpecahan suka pada perkelahian, maka itu nafsu buruk. Hal yang sama berlaku pada sifat lain seperti benci, marah, takut, dan lainnya.

Apa kaitannya dengan berita duka? Dan apa kaitannya dengan kepekaan ala detective conan? Kaitannya adalah apapun beritanya, duka, suka, jika disikapi dengan nafsu yang benar – nafsu baik. Maka kita akan mengerti, dan memahami, bahwa sungguh semua adalah baik. Mati itu baik, sakit itu baik, benci itu baik, sekarat itu baik. Karena sudah waktunya, sudah waktunya hidup berubah, dan kita mesti siap.

Orang bilang, kita tidak akan tahu apa yang kita miliki, kita akan tahu apa yang kita miliki saat kita kehilangan. Sangat sulit dimengerti, namun dalam pandangan kasar saya, sesungguhnya kepemilikan dan kehilangan adalah dua kutub yang sama besarnya. Jadi hasilnya adalah nol – sama seperti kita menjumlahkan 1 dengan -1, hasilnya nol – artinya, kita sebenarnya tidak memiliki apapun. Rasa memiliki hanyalah egoisitas kita untuk mengaku-ngaku sesuatu sebagai milik kita, karena kita takut kehilangannya, maka rasa takut itu kita hilangkan dengan meng-klaim bahwa itu milik kita.

Apapun itu, kalian bisa anggap pandangan saya sesat, abstrak, freak? Itu – pandangan kalian – tidak berarti apapun bagi saya. Karena tujuan dari semua frame berpikir saya diatas adalah, kerendahan hati untuk menerima bahwa semua hal fisik maupun non fisik adalah bukan milik kita. Semuanya – dari rasa ngantuk sampai rasa marah, dari debu sampai istana – adalah milik Sang Pencipta. Pahamilah, kalau Dia disebut Sang Pencipta – semua, maka Dia-lah yang memiliki – semua. Dia-lah Sang Pemilik. Allah subhanallahu wa ta’ala.

Dalam penuh kerendahan,

Adi Sutakwa

20130114

MENUJU MASTERPLAN, ADI SUTAKWA MERDEKA

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s