Nasihat Terbaik dari Guru Terbaik


chancTempo hari dikejutkan oleh cerita dari kawan lama saya. Terinspirasi dari kakak-kakak saya, selalu saya azzam-kan untuk mencari inspirasi di dunia luar, mendengarnya dari kawan-kawan lama, atau dari orang-orang baru yang baru saya temui. Umumnya kawan lama saya menjawab apa adanya dan tidak mengerti apa inspirasi mereka. Itu yang membuat saya terkejut dengan kawan saya yang satu ini, dia bercerita panjang lebat lewat jendela chat di sebuah media sosial. Dan benar, apa yang dia ceritakan adalah makna, inspirasi. Begini isi ceritanya,

“Assalamu’aliakum wr wb

Perjalanan ini aku awali dari lulus SMK, tepatnya saat darahku mendidih ingin masuk perguruan tinggi. Dengan penuh semangat aku belajar, belajar, dan belajar. Tanpa disadari aku telah menetapkan sifat egois dalam hati ku ini. Banyak hal yang tidak aku lihat saat itu. Keadaan ekonomi orangtua, kakak masih sekolah, adik mau masuk sekolah tahun selanjutnya dan masih banyak lagi. Saat-saat yang mem

buatku senang ketika aku telah daftar jalur undangan SNMPTN , aku sangat berharap didalamnya. Namun itu hanyalah hal konyol yang akan aku lakukan. Bapak bilang kalau Bapak belum ada uang untuk membayar pendaftaran sebesar Rp. 150.000,-. Aku mengikuti permintaan Bapak, untuk menunggu satu tahun lagi. Aku putus asa saat itu, namun ibuku menguatkan ku. Ibu bilang, nanti daftar jalur tertulis pakai uang ibu. Aku senang sekali saat itu. Aku pun daftar SNMPTN jalur tertulis. Menjelang tes bapak bilang kalau bapak belum siap. Motivasiku saat itu menurun, tidak bisa menyerap apa yang aku pelajari. Bapak bilang kalau bapak bisa biayai kalau aku sekolah di UT. Aku tau saat itu bagaimana UT. Aku benar-benar bingung. Apa yang harus aku lak

ukan? Sampai aku tidak ketrima jalur tertulis. Aku menangis saat itu. Lagi-lagi ibu yang menenangkanku. Ibu nyuruh kakak untuk cari formulir pendaftaran UMS. Awalnya bapak setuju, namun kesininya setelah tahu berapa biaya per semester dll jadi berubah. Sulit sekali saat itu perjuanganku. Tanpa mengurangi sedikitpun, aku terus mendekatkan diri kepada Allah. Dalam suatu malam aku merenung dalam kamar yang senyap. Aku pikirkan semuanya dengan matang tanpa menggunakan keegoisanku. Aku akan kuliah di UT.

Suatu hari saat di rumah bude ku, ada teman bude yang tanya, aku mau melanjutkan dimana? Knpa tidak di UT saja? Jlep… aku menangis disitu… bukan karena pertanyaan teman bude ku namun jawaban bapak yang sangat menyakitkan…. sakiiiiiiiit sekali hingga sampai saat ini aku masih mengingatnya. Kata-kata itu adalah “ mintanya di swasta bareng kakaknya, mungkin kepengen bunuh bapaknya”. 


Ibu menemukanku, aku sedang menangis. Ibu tanya mengapa aku menangis, aku pun cerita sambil menangis. Aku juga cerita sebenarnya aku sudah mau di UT. Lalu aku diajak masuk ibu kekamar. Setelah kejadian itu aku takut sama bapak, mau melakukan apa-apa aku pikir-pikir lagi. Komunikasi jarang.aku hanya jawab apa yang ditanyakan bapak. Karena aku benar-benar tertekan mengenai ucapannya.
Kebayang tidak kata-kata itu muncul bukan dirumah namun di rumah bude ku yang saat itu ada mbak, ada teman bude, dan bude sendiri. Sampai rumah aku langsung menuju belakang sambil menangis. Hati ku saat itu hancur, mendenngar orangtuanya berbicara saperti itu. Aku tahu ini salahku yang terlalu egois mementingkan keinginanku semata. Stres, pusing, pikiran kosong, kecewa, putus asa itu yang ku rasakan. Sampai magrib aku belum juga masuk rumah, yang ada masih menangis. Saat itu ibu benar-benar kawatir dan aku tidak memikirkan itu. Astaghfirullah…

Suatu waktu bapak bilang kalau bapak sudah bilang ke kakak untuk carikan formulir UMS. Tapi itu sudah tidak berlaku lagi bagiku. Dengan segala kekuatan yang ku punya, aku bilang kalau aku ma ke UT saja agar bapak ringan dan cari-cari kerja. Pendaftaran UT januari tahun 2012. Namun dari bulan november aku sudah mengirim berkas-berkasku dengan sahabatku yang sangat elegan yaitu sepeda biru yang membuatku bertemu seseorang. Ini adalah upaya agar bapak tidak menganggapku seperti apa yang beliau pikirkan. Sampai februari tidak ada panggilan dari pihak UT. Lalu bapak bilang kalau aku boleh daftar SNMPTN jalur tertulis tahun itu. Betapa senangnya aku saat itu. Aku pun belajar dengan giat, bertukar ilmu dengan teman-teman yang sudah duluan menjejakkan kakinya di tanah yang ku nanti “ Perguruan Tinggi Negeri”.

Singkat cerita, alhamdulillah aku ketrima di Unnes jurusan Pendidikan Luar Sekolah. Saat ini, disini, dan sampai kapanpun aku akan terus berkarya. Tidak peduli jika harus mengorbankan jiwa dan raga. Aku ambil jurusan yang benar-benar membukakan pikiran dan hati ku saat ini. Impianku ada didalamnya. Suatu saat aku akan memberdayakan masyarakat seluruh penjuru Indonesia. Dan akan bolak-balik luar negeri dengan mudah seperti keluar dari kamar mandi. Impian ku bukan hanya itu, banyak sekali yang ada dalam hatiku yang ingin aku wujudkan.

Oiya, aku tadi buka facebook dan aku tahu bahwa teman-teman ku sudah duluan membuktikan menjadi pemuda yang sesungguhnya. Ada yang jadi ketua hima, ada yang sekarang menjadi sangat kritis akan hal apapun, ada juga yang membuktikan bahwa dia tidak hanya pandai intelektual namun juga spiritual dan kreativ. Sekarang giliranku…. menuju sosok yang memasyarakat, pandai intelektual, spiritual, emosi dan kreativ serta mandiri. Yang dulu aku jadikan pelajaran tanpa terus larut didalamnya, sekarang adalah untuk masa depanku. Dan masa depanku adalah masa depan negeri ini.

Oke kawan ini kisahku, mudah-mudahan bisa menjadi pelajaran dan bisa mengambil hikmah dari ini semua. Lalu bagaimana kisahmu?

10 tahun lagi kita bertemu di depan gerbang sekolah kita tercinta SMP N 2 TAMAN dengan membawa suami atau istri masing-masing dan anak yang sholeh, sholeha. Aamiin…”

Ini kisah nyata ya, tidak saya kurangi atau tambahi, bukan omongan kosong dari orang banyak omong. Semua orang megakui kalau guru terbaik adalah pengalaman, namun mereka lupa dan mengira yang dimaksud “pengalaman” dalam pepatah ini adalah pengelaman pribadi. Padahal maksudnya adalah pengalaman pribadi dan orang lain. Maka ketika kita kebingungan mencari pengalaman pribadi yang menginspirasi, carilah pemgalaman orang lain untuk menginspirasi kita. Karena pengalaman adalah guru terbaik.

Maka, belajarlah kita untuk memaknai sebuah kesempatan, apapun. Bukan hanya kesempatan pendidikan, kesempatan berorganisasi, kesempatan berprestasi, kesempatan bicara, mendengar, dan belajar. Karena di luar sana, banyak yang tidak mendapatkan kesempata itu, kita tak akan tahu sampai benar-benar melihatnya, kita tak akan percaya sampai benar-benar mendengar dari saksi hidupnya. Jadi, maknailah sebuah kesempatan. Karena dengan itu, kita telah belajar untuk bersyukur pada Sang Pemberi Kesempatan.

Adi Sutakwa

Dalam lautan inspirasi oleh kawan lama

2013 01 17

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s