Comfort Zone or New (Comfort) Zone?


COMFSeringkali kita terlalu nyaman di zona subur. Banyak diantaran kita tertipu oleh zona subur. Yang saya maksud zona subur adalah, zona baru – setelah kita meninggalkan zona nyaman – yang membuat kita berkembang, namun kita tidak tidak sadar bahwa perkembangan kita disana sudah cukup dan mesti mencari zona lain. Zona subur itu tidak lagi subur dan berubah menjadi zona nyaman.

Misalnya, ketika baru menjabat sebagai mahasiswa baru, kita tidak mampu sedikitpun tampil di depan publik, tidak berani menunjukkan public speaking kita. Lalu setelah beberapa minggu kita bergabung dengan sebuah lingkungan yang membuat kita pandai berbicara, berkomunikasi, bahkan pandai memotivasi. Proses saat kita belajar public speaking itu saya anggap sebagai proses copying, artinya kita sedang belajar dari sebuah lingkungan, zona, zona itu adalah zona subur.

Namun ketika kita telah bisa bahkan lancar public speaking kita, itu artinya apa yang kita pelajari telah mampu kita serap secara sempurna, dan menjadi ilmu – keterampilan. Jika kita senang disitu – nyaman – sudah belajar sampai melalui lingkungan itu, hingga ahir bahkan, dan kita menganggap itu adalah tempat kita, zona subur kita, maka itu bukan lagi zona subur, melainkan telah berubah menjadi zona nyaman.

Jadi sebenarnya zona nyaman tidak akan pernah hilang, itu telah menjadi siklus yang terus berputar dan jika kita lena, maka kita tidak sadar terhada siklus itu, membuat kita terkungkung dalam zona nyaman. Maka sebenarnya ungkapan “keluarlah dari zona nyaman”, adalah ungkapan yang menyesatkan – bagi saya – karena saat kita berpikir telah keluar dari zona nyaman dan bertemu dengan zona yang baru – secara tidak sadar nyaman disitu – maka saat itu sebenarnya kita berada di zona nyaman, yang baru.

Dalam hal belajar dan berkarya, tidak pernah ada hal yang baru. Merujuk pada teori bisnis sederhana yang diajarkan dosen saya – amati, tiru modifikasi – bagi saya itu artinya sama dengan tidak ada hal yang baru, yang ada hanya kombinasi baru. Jadi jangan juga kita tersesat untuk memusingkan memikirkan hal-hal baru yang mesti diinovasi untuk kebermanfaatan bumi. Yang ada hanyalah plagiasi nantinya, mengaku-ngaku karya orang lain. Mestinya kita mengerti bahwa yang harus dilakukan adalah membuka mata, telinga, dan hati lebar-lebar untuk belajar, memahami sejarah dan memaknai masa kini hingga kita mengerti untuk mencipta sebuah kombinasi baru untuk kebermanfaatan orang banyak. Kombinasi baru ini secara ekstrim disebut hal baru, dan seringkali disalah artikan hingga menyesatkan banyak dari kita dan menutup pandangan kita tentang ilmu itu sendiri.

Apa kaitannya dengan zona nyaman? Nah, jika diambil scarlet-nya – benang merah – ketika kita telah keluar dari zona nyaman, dan belum nyaman di zona yang baru, maka itu adalah saat ideal yang saya sebut sebagai zona subur. Kita produktif disitu dan dapat melakukan apa yang mesti dilakukan untuk menyerap ilmu dan mengimplementasikan ilmu. Saat ilmu telah terserap dan terimplementasi, maka disitulah akhir. Saat kita mencari hal baru disitu kita tidak akan dapat menemukannya – karena yang ada hanyalah kombinasi baru. Terlalu lama tidak menemukan hal baru, membuat kita lupa untuk pindah ke zona subur yang lain hingga implikasnya jadilah zona subur tadi bertransformasi menjadi zona nyaman.

Jadi apa yang mesti dilakukan untuk “terus” keluar dari zona nyaman? Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah, pertama ingat bahwa zona nyaman adalah sebuah siklus – berputar terus menerus. Jika kita mesti sadar ketika telah hampir nyaman dan mesti move on ke zona subur, begitu seterusnya. Jika siklus tidak berjalan maka itu artinya kita telah gagal menciptakan zona subur kita. Kedua, “hal” adalah kombinasi baru, namun “benda fisik” adalah sesuatu yang baru. Jadi ngobrol-lah dengan orang-orang baru, bacalah buku-buku baru, kunjungilah tempat tempat baru – dalam hal ini maksudnya dengan yang belum pernah kita ajak diskusi, baca, atau kunjungi – untuk mendapatkan ilmu, yang nantinya kita gunakan untuk membuat kombinasi baru. Ketiga, merendahlah untuk mendapatkan ilmu. Bak sebuah padi, jika kita tidak merendah, sebanya apapun kita belajar, maka padinya sih tumbuh, tapi hanya kulit berasnya saja, dalamnya kosong mlompong, tidak berisi, tidak bermakna. Lain halnya jika kita merendah, tanahnya subur, zat haranya terserap, padinya pepak berisi. Dan merunduklah padi itu.

Semakin banyak kita tau, kita akan menangis, betapa hina dan kotornya diri di hadapan Ilahi. Ilmu, membuat kita tahu, mana yang haq dan mana yang batil. Ilmu, membuat kita paham, apa yang mesti dilakukan. Ilmu tidak menipu, maka jika kalian tertipu oleh rutinitas belajar dan keilmuan kalian, cermatilah, barang kali itu bukanlah ilmu. Mungkin sekali itu, nafsu.

Adi Sutakwa

Dalam penuh kelalaian

20130117

MENUJU MASTERPLAN, ADI SUTAKWA MERDEKA

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s