Sense of Belonging : Keniscayaan Tak Bersyarat


belonging_graphicDalam 2 tahun terakhir, saya belajar secara signifikan tentang kompetensi keorganisasian. Pada akhirnya, saya sadar bahwa ini akan berujung pada pernyataan dan pertanyaan eksistensial, hidup. Bahasan lebih dalam akan saya sajikan dalam beberapa paragraf selanjutnya. Sekarang pertama-tama ijinkan saya bercerita, mengenai diri dan organisasi.

Saat SMA, kelas 1 SMA tepatnya, ada aturan sekolah yang mewajibkan untuk ikut salah satu ekstrakurikuler wajib, pilihannya Pramuka, PMR, PKS. Maka dengan logika saya saat itu – pilih yang paling ringan, malas organisasi mending main game aja – dengan mudah saya memilih PMR, yang saat itu punya stigma yang agak negatif sebagai ekskul paling santai. Lalu pada tahun kedua, setelah berbagai ketertarikan saya pada bahan bacaan tentang psikologi dan kepemimpinan, serta bawaan keseharian SD saya sebagai ketua kelas, maka tumbuhlah rasa dan ambisi untuk memimpin. Singkat cerita, saya  sukarela menjadi pengurus PMR, sayang sekali tidak cukup elektabilitas saya saat itu untuk dapat mencapai Top Leader.

Jauh menembus waktu, maka disinilah saya, tercatat sebagai mahasiswa Uns, dan pengurus BEM FP, HMJ, dan SKI di internal fakultas saya. Kesemuanya telah demisioner, saya bebas, freeman. Lebih banyak yang saya dapat setelah tanpa tujuan mencicipi tiga organisasi beda misi itu, jelas saya sadari saya jauh lebih aktif dan totalitas di dunia kepemimpinan – dalam hal ini BEM. Dunia yang penuh tantangan dan konflik, ketidakpastian dan gunjingan, ketidaknyamanan yang sangat menegangkan. Barangkali saya salah berlogika, dengan segala yang saya jabarkan dikalimat  sebelumnya, jelas bahwa seharusnya comfort zone saya adalah di BEM, walaupun banyak “tidak-tidak” di BEM yang saya geluti.

Deskripsi, definisi, dan teori zona nyaman terlalu membuat saya muak dengan segala kontradiksinya. Maka saya sebut saja BEM adalah tempat saya yang paling subur, karena saya merasakan benar betapa iklim dan kondisi BEM  telah banyak membantu saya membentuk karakter dan kepribadian yang saya miliki sekarang ini. Anda yang mengenal saya, mungkin akan tahu orang seperti apa saya. Anda yang tidak mengenal saya mungkin bisa menerka makhluk macam apa sebenarnya saya ini dari tulisan-tulisan dan gagasan-gagasan saya.

Menggali Ulang

Beberapa hari setelah diharuskan, saya sempat merangkai garis besar tentang sense of belonging ini. Mencoret-coret kertas dengan gagasan abstrak berdasar penuturan guru-guru terbaik saya – pengalaman pribadi dan pengalaman orang lain – dan serangkaian teori yang menggenangi ranah alasan saya dalam berargumen.

Akan saya cairkan secara jernih – semoga – dalam tulisan ini. Bagi saya, sense of belonging adalah sebuah keniscayaan – jika tidak bisa disebut sebagai prasyarat – dalam kehidupan berorganisasi. Saat semester pertama, dan mulai menggeluti dunia keorganisasian saat awal semester dua, organisasi-organisasi yang saya masuki – tanpa proses seleksi yang jelas – kesemuanya saya titipi alasan dan tujuan saya.

Alasan klise yang disajikan untuk pelarian akan ketidakjelasan tujuan, ingin belajar dan meningkatkan softskill. Saat itu sebernarnya saya sudah mulai bisa memahami diri yang mencoba mengelak dari ketidakjelasan emosi. Lalu saya tetapkan standar tinggi, menjadi Presiden BEM, menjadi Ketua HMJ, sebagai alasan utama. Tidak dinyana, hingga sekarang efeknya terus menggurita dalam pola pikir saya, efek pragmatisme, oportunisme, dan fanatisme ambisi. Astaghfirullah..

Belakangan guru-guru saya mewasiatkan, jabatan, kehormatan, kemampuan, kapasitas, kapabilitas, hanyalah efek samping dari pengorbananmu. Yang lain mewariskan, jangan pernah berpikir tentang kekuasaan, pikirkan saja apa yang kamu katakan, apa yang kamu lakukan, apakah bermanfaat bagi kebanyakan orang? Lantas saya resapi, dan jalankan, hingga inilah yang saya sebut sebagai sense of belonging, kesediaan. Sense of belonging adalah kesediaan. Dan kesediaan itu bersyarat – pada awalnya.

Merumuskan

Bentuk sederhana dalam pembahasan mengenai kesediaan (sense of belonging), sesungguhnya cerminan dari pernyataan eksistensi seseorang. Untuk apa dia ada dalam sebuah organisasi? Kebanyakan dari kita tidak mengerti dan hanya ikut-ikutan dalam berorganisasi, dan sebagian yang lain berkelakar dengan jawaban formalitas, diplomatis. Budaya galau ini harus dilenyapkan dalam mengawali sebuah tatanan baru (kepengurusan baru) organisasi. Sebagai organisasi, haruslah ada visi yang jelas. Yang mampu diejawantahkan secara gamblang dan tidak mengambang. Visi yang mampu memisahkan, mana kader yang pas dan mana kader yang tidak pas. Shared Vision, menyederhanakan perbedaan menuju kelengkapan sense of belonging.

Pemenuhan kebutuhan. Barangkali itu yang masih jarang terlihat di kampus kita tercinta ini, terutama dalam lingkungan organisasi. Saya sempat tercengang ketika jalan-jalan ke UI, dijelaskan mengenai kehidupan organisasi disana. Organisasi mahasiswa, internal kampus, tidak pernah meminta uang sebagai biaya kegiatan keorganisasian kepada pihak fakultas atau universitas. Mereka mandiri, bak lembaga bisnis yang mampu mengelola dan mencipta pemasukan dan pengeluaran dengan sempurna. Lalu dari mana mereka mendapat dana? Ikatan alumni. Lebih heran lagi saya, kok alumni mau ngasih duit? Jawab mereka mudah, karena saat para alumni masih kuliah, berorganisasi, kebutuhan mereka terpenuhi oleh organisasi. Mahasiswa butuh A, organisasi sediakan sarana A, mahasiswa gelisah B, organisasi menjelaskan dan meluruskan tentang B. Organisasi mahasiswa benar-benar menjalan tugas pokok dan fungsinya secara tepat guna. UI menjadi role model dalam hal keorganisasian.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana kita tahu apa kebutuhan mahasiswa? Lakukan public assesment. Survei publik, analisis sosial, kalkulasikan dengan cermat kecenderungan publik mengenai beberapa hal. Dan kecenderungan bisa diatur dengan informasi. Berikan saja informasi yang kalian ingin mereka tahu, maka mereka akan berpikir seperti kalian, dan hanya menunggu waktu sampai mau bertindak seperti kaian. Ketika pikiran dan tindakan berada dalam satu ruang tak berbatas, namun identik dan mempunyai keseragaman, maka itulah sense of belonging. Kata kakak saya, ketika hati memahami, maka tangan dan kaki akan bergerak mengikuti.

Batas dalam berorganisasi adalah hal yang penting. Jika sense of belonging kebablasan, bisa jadi keteladanan dalam sebuah organisasi akan sirna. Ini krusial, karena tugas dan fungsi mesti diikat oleh rambu-rambu berorganisasi. Staf, kadept, wakil ketua, dan ketua mesti mengerti benar rambu-rambu berorganisasi. Kewajaran boleh dan tidak dapat menjaga seluruh komponen organisasi tetap dalam lingkarang sense of belonging  yang sesuai.  Kita mesti mengerti dan paham akan hak dan kewajiban. Berlebihan dan fanatis dapat menjadi bibit diskriminasi terhadap pihak lain. Sense of belonging bukan diskriminasi. Sense of belonging adalah spirit, kesediaan.

Yang terakhir, sebuah organisasi mesti humanis. Mengajarkan give and take, feedback, pay it forward, mesti ngewongke para pengurus dan anggotanya. Organisasi sama saja dengan kekhilafahan, sistem kepemimpinan yang madani, ciptaan manusia paling shiddiq, paling amanah, paling tabligh, dan paling fatonah. Allah telah menakdirkan manusia sebagai pemimpin, maka sesungguhnya tiap-tiap kalian adalah pemimpin, persiapkanlah diri untuk kelayakan memimpin para pemimpin. Butuh teladan, butuh pemimpin yang selalu lebih ketimbang stafnya, butuh citra nyata bukan citra palsu macam perpolitikan transaksional Indonesia.

Maka dengan keseluruhan dan kesatuan sintesis gagasan beserta pengalaman yang saya dapat, kesimpulan selalu saya nyatakan dalam penuh optimisme dan relevansi hingga saya yakin akan konklusi, jadilah sense of belonging sebuah keniscayaan tak bersyarat.

Adi Sutakwa

20130109

MENUJU MASTERPLAN, ADI SUTAKWA MERDEKA

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s