Berdamai dengan Ideologi #1


idKetika sampai di kampung halaman, senang rasanya kembali bergulat dengan sekumpulan keheningan suasana. Menikmati halaman rumah yang sepi dari histeria-histeria anak kos yang aneh macam di kos saya. Menyelami senyapnya pepohonan yang tak lagi berbuah walau masih berdaun lebat. Merasakan sapaan kupu-kupu dan capung yang lembut, yang tak pernah sekalipun aku jumpa di pelataran mall-mall atau toko buku di Surakarta. Pada akhirnya, semua memang Dia tampatkan, sesuai dengan kebijaksanaan-Nya.

Gersang rasanya, ketika otak ini subur oleh stimulasi di negeri perantauan, ternyata tak sekata sehati dengan relevansi di rumah kelahiran. Aku menyaksikan adikku mulai tumbuh, aku mengamati ibuku mulai tua, tapi aku tak melihat arti dan makna dalam kehidupan mereka. Sama, persis, seperti membayangkan aku saat seumuran itu. Bertemu dengan kawan lama, hasilnya pun sama saja, mungkin sedikit berbeda karena menu kali ini sate kambing tusukan sendiri. Dikipasi dan dibumbui sendiri, disantap ramai-ramai di sebuah sudut pekarangan rumah dinas tentara, rumah yang sebentar lagi akan ditinggalkan karena bapaknya tidak lagi berdinas, pensiun, menua.

Apa yang kami bicarakan? Sama saja. Bedanya, dulu bercerita tentang kabar dan tempat belajar, sekarang lebih jauh berbicara tentang “aneh”-nya tempat belajar kita masing-masing. Dia yang di Bandung, di lingkungan yang dulu semat saya damba, kalang kabut dengan hedonisme dan sekuleritas. Ia yang di Depok, santai saja dengan mozaik keberagaman dan dinamitas. Dan saya yang di Solo, yang tidak mengerti asal dan usul, malah di paksa jadi motivator dadakan – gara-gara sering teriak-teriak di sebuah sosial media, tentang hidup dan kehidupan – menasehati bak orang tua yang lewat di depan pemuda yang dirundung kegalauan – begitu dalam beberapa sinetron kita.

Dan, pada akhirnya, sama saja. Karena kita tidak atau belum mengambil langkah-langkah terkutuk. Langkah yang tidak pernah diambil orang orang-orang semacam kita, di tempat semacam itu. Langkah yang tidak biasa untuk mencegah ke-“biasa”-an diri dan lingkungan – kata kakak saya. Langkah yang revolusioner bak para pejuang-pejuang revolusi, yang tak pernah kita tau kapan Indonesia pernah berrevolusi – a very important change in the way that pepople do things, dalam Cambridge Dictionary. Langkah yang aneh, yang orang akan menganggap kita sebagai seorang asing, sama seperti ketika para pencetus Sumpah Pemuda diperolok kekurangkerjaannya. Kekurangkerjaan yang spirit-nya mampu mempersatukan idealis-idealis yang berdemo tiap tahun pada tanggal 28 Oktober.

Jika bicara tentang sejarah, kalian akan takjub dengan berbagai konspirasi politis yang menjadi cikal akan sebuah peristiwa kala itu, yang sekarang di segani oleh para pelajar kita di semua jenjang kependidikan dengan nama sejarah. Banyak peristiwa seperti G 30 S PKI, Super Semar, DI/TII, segala macam kerusuhan etnik, segala bentuk peristiwa heroik, dan Sumpah Pemuda itu sendiri bahkan, dikata sebagai manipulasi politis untuk kepentingan para pemegang kuasa. Yang terbaru, yang mesti saya sampaikan, adalah fakta, kenyataan, bukti bahwa Indonesia sebenarnya bukan dijajah selama 350 tahun, tapi hanya sekitar 40 tahun. Hal ini tercantum jelas melebar dalam buku susunan G.J Resink – Indonesia’s History between the Myths – priyayi dengan nama belanda namun pemilik hati dan darah Nusantara. Buku lama sebenarnya, terbitan 1968, namun baru beberapa minggu yang lalu saya tahu ada buku semacam ini.

Ah, sudahlah, jangan terlalu panjang berbicara sejarah, kalo ndak bisa menahan diri nanti isinya marah dan dendam sendiri pada negeri yang tidak salah ini. Seperti yang selalu saya kata pada kawan-kawan saya, yang salah itu bukan sistemnya, tapi manusianya, para pelaku sistem yang tahu dan paham akan sistem namun tidak mau dan sadar untuk menjalankan sistem secara terhormat dan bermartabat. Jangalah kita berkutat pada ruangan debat yanng menghujat sistem pendidikan, sistem pemerintahan, sistem politik, hal hal macam itu membuat kita lena dan lupa akan tugas luhur mencipta anak-anak penerus peradaban bangsa ini.

Adi Sutakwa

20130127

MENUJU MASTERPLAN, ADI SUTAKWA MERDEKA

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s