Mahasiswa : Generasi Pemimpin Bangsa yang Logis, Empatis, dan Mandiri


creMencermati Indonesia, tentu tidak akan habis ranah kajinya karena bangsa ini adalah bangsa yang sangat kompleks. Sejarah, budaya, agama, kondisi sosial, politik, pendidikan, sumber daya alam, dan sumber daya manusia adalah beberapa bahasan yang populis mewarnai layar berita media massa Indonesia. Pada dasarnya selalu ada unsur utama yang menjadi kausa pelbagai masalah negeri ini, adalah sumber daya manusia. Manusia adalah sebab, karena mencipta segala sistem ketatanegaraan dari hulu hingga hilir, mulai dari cara membaca hingga cara memimpin negara. Manusia pulalah akibat, produk akhir dari sistem dan interaksi dalam sistem ciptaannya sendiri, mulai dari sistem adat, hukum, sosial, agama, dan pendidikan.

Manusia pantas menempati bilik interogasi yang patut disangka tanpa asas praduga tak bersalah karena keseluruhan karsa dan cipta fisik buatan manusia menjadi musabab dan akibat atas segala yang terjadi di bumi pertiwi. Implikasinya, manusia juga, satu-satunya material yang berakal dan berpotensi penuh mengurai segala kesemrawutan permasalahan nusantara ini, dan salah satu jenis manusia yang masih relevan untuk disemati predikat “harapan”, adalah pemuda. Pemuda adalah fase manusia yang paling kuat, secara fisik dan psikis, dua modal utama yang dapat meniscayakan himmah – cita-cita yang tinggi dan luhur – menuju Indonesia yang bertujuan, Indonesia yang sejahtera.

Jika dibatasi lagi bahasan tentang pemuda seperti apa yang harus bertanggung jawab memimpin negeri ini, sekaligus yang paling berpotensi meratakan segala bangunan kebobrokan yang menjulang tinggi, dialah pemuda yang mengenyam segala pendidikan akademis hingga tingkat tertinggi, memanifestasikan pengetahuan untuk kemakmuran akar rumput rakyat pinggiran, dan mampu merawat diri membangun kemandirian materil dan moril. Maka jadilah seluruh aspek akademis tersederhanakan dalam satu kecerdasan yang akan dibutuhkan dimanapun, kecerdasan logis. Jiwa komunal dan sosial yang terwujud dalam keseharian aktivis yang bermoral, menumbuhkan pohon-pohon rindang tempat bernaung rakyat yang bimbang, wujud transendental dari kedewasaan kecerdasan empatik. Dan melengkapi dua kecerdasan tersebut, adalah hasrat dan martabat untuk tidak bergantung pada siapapun, makhluk apapun, telah menyusun satu keyakinan untuk memegang teguh kehormatan, sebuah kemandirian hidup.

Tiga unsur ini – kecerdasan logis, kecerdasan empatik, dan kemandirian hidup – akan dibahas dalam tulisan ini dengan bahasa subjektif  khas penulis namun dengan penalaran objektif dan komparatif dari berbagai data, fakta, dan keberagaman pandangan tokoh-tokoh kompeten yang pantas dijadikan rujukan kajian pikirnya. Kajian yang diharapkan mampu membuka segala tendensi kekakuan berpikir masyarakat di tengah semua kekacauan sendi kehidupan yang serba global.

Kecerdasan Logis

Bukan identik dengan kecerdasan matematis yang kerap digabungkan dalam sebuah istilah kecerdasan logis-matematis, namun dalam pandangan penulis, kecerdasan logis adalah fusi – peleburan menjadi satu yang utuh – antara combining, problem solving, dan meaning. Combining dalam kamus pengetahuan penulis, diartikan sebagai proses penggalian kembali segala teori dan pengalaman yang diserap selama hidup, dan modifikasi sesuai porsi yang sesuai untuk akhirnya menjadi sesuatu yang tepat guna, teori yang tepat guna.

Meminjam persepsi Kendra Cherry mengenai problem solving yang diartikan sebagai mental process that involves discovering, analyzing and solving problems. Kesatuan proses yang tujuan akhirnya adalah menghancurkan segala dinding-dinding penghalang penyelesaian masalah. Proses discovering menunjukkan bahwa Kendra Cherry meyakini bahwa penyelesaian masalah membutuhkan suatu bahan, bahan yang mesti ditemukan dengan proses combining seperti yang penulis definisikan atau mencari ke alam bebas, ke dunia luar, hingga akhirnya kelengkapan puzzle dapat dianalisis secara tepat untuk diterapkan pada tahap terakhir, solving problem.

Namun, dalam setiap solusi mesti dan pasti harus dilakukan kontemplasi. Perenungan kembali untuk memahami the ultimate meaning, ­makna, dari sebuah solusi. Para pemuda yang selalu confidence dan cenderung mendekati overconfidence seringkali terlupa akan makna. Sebuah nilai yang mudah dibicarakan dan lumrah dikaji dalam berbagai forum kepemudaan, namun tidak pernah benar-benar ada yang tau, yang mana dan bagaimana sebuah makna itu. Penulis merangkum arti makna dalam rangkaian kalimat sederhana, dibutuhkan hari kemarin, hari ini, dan hari esok. Makna dari solusi adalah keterbutuhan. Solusi, disebut solutif jika dibutuhkan.

Kecerdasan Empatik

Mungkin beberapa teori akan mengaitkan luasan definisi empatik pada kecerdasan emosi. Tidak bagi penulis, istilah yang disajikan penulis murni bersumber dari pengendapan berbagai teori dan aplikasi nyata yang kemudian disederhanakan menurut kosakata penulis. Yang dimaksud sebagai kecerdasan empatik dalam batasan ilmu penulis adalah hasil dari langkah nyata dan pengorbanan berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan menahun akan aplikasi makna solusi dalam kehidupan sosial, kehidupan nyata, dalam bahasa populer diartikan dengan kegiatan keaktivisan.

Aktivis, memang benar, kecerdasan ini hanya dapat didapatkan dari kemauan untuk terjun langsung meninjau, menganalisis, dan merawat akar rumput yang mulai gersang, masyarakat bawah yang semakin tertinggal dan ditinggalkan. Dalam  emotional  intelegence  theory, Daniel  Goleman  menyebut empati  ini  sebagai  keterampilan  dasar  manusia.  Orang  yang  memiliki  empati  adalah pemimpin  alamiah  yang  dapat  mengekspresikan  dan  mengartikulasikan    sentimen kolektif  yang  tidak  terucapkan  untuk  membimbing  satu  kelompok  menuju  cita-citanya. Empati adalah bahan penting untuk pesona, sukses sosial bahkan kharisma.

Sedikit memperjelas, dalam pandangan penulis, keterampilan dasar – empati – yang disebut oleh Daniel Goleman tidak dapat bertahan selamanya, itulah alasan kecerdasan empatik mesti dilatih terus menerus tanpa putus dengan turun menjemput realita yang kerap kali jauh dengan teori idealita. Jadilah aktivis-aktivis sosial yang paham dan sadar untuk merendah turun ke bawah, bukan hanya bernyaman dengan keseharian akademis, rutinitas organisatif yang prokeristik tanpa mendalami makna, bukan juga membabibuta memburu kemandirian finansial yang melupa keluhuran moral.

Banyak heroes di bumi Indonesia, heroes yang dalam pengertian Arief Aziz – co-founded TEDx Indonesia – adalah aktivis-aktivis sosial, di pelosok negeri, yang terasing, unknown, tidak disentuh oleh media. Mereka ini perlu “di-media-kan”, agar heroes dapat menjadi rockstar, inspiratif dan menjadi tren gerakan massif. Rockstar yang dilihat, didengar, dan diteladani oleh masysrakat, dikenal dan dekat melekat dalam hati masyarakat Indonesia. Indonesia butuh inspirasi, rockstars ini yang membumikan inspirasi untuk Indonesia yang miskin motivasi.

Menurut Mami Hajaroh, empati  pada  awalnya  tidak  berkesinambungan,  kuat  untuk  orang  yang  dicintai tetapi lemah untuk orang asing atau sebaliknya; tajam di lingkungan yang nyaman tetapi tumpul  di  tempat  yang  merasa  kurang    aman. Berhasil  ketika  tidak  merasa  takut  tetapi tidak  dapat  diandalkan  ketika  ketakutan.  Satu lagi alasan yang membuat penulis makin yakin bahwa kecerdasan empatik memang hanya dapat dicapai dengan sikap yang konsisten, bukan hanya kepercayaan pada teori-teori yang dianut narasumber kompeten. Kecerdasan empatik, memberi ruang pada ketidaksempurnaan manusia dalam menghadapi ego dan superego. Kecerdasan empatik, membuat manusia seolah menyifati Tuhan, tahu dan mengerti apa yang mesti dilakukan.

Kemandirian Hidup

Banyak dari yang penulis bahas di atas, mayoritas atau bahkan semuanya tidak berkaitan langsung dengan dunia wirausaha. Karena penulis lebih concern pada spirit, roh, jiwa wirausaha. Hasrat atau himmah yang juga sempat penulis singgung di beberapa bahasan sebelumnya. Menurut Kunto Adi, jiwa wirausaha bukan hanya milik para pegiat bisnis, eksekutif, ekspatriat, atau kalangan direktur perusahaan. Jiwa wirausaha milik semua orang dan harus dirawat serta diasah. Pegawai butuh jiwa wirausaha, guru perlu jiwa wirausaha, petani harus memiliki jiwa wirausaha.

Dalam istilah yang lebih populer, bisa juga disebut kreativitas. Garis besar arti dari jiwa wirausaha yang dikatakan oleh Kunto Adi adalah kreativitas. Semua orang mutlak mengasah dan mengasuh kreativitasnya sebagai bumbu utama dalam segala bentuk produktifitasnya dalam dunia kerja maupun dunia sosial. Kreativitas, bagi penulis adalah semangat, bukan ilham yang muncul sewaktu-waktu, bukan ihwal yang timbul di ruang tertentu, bukan pula tamsil yang diada-adakan oleh mimpi. Kreativitas adalah sintesis alam bawah sadar terhadap keseluruhan ilmu yang pernah diserap. Ide dan gagasan segar yang bisa muncul kapan saja ketika dibutuhkan, itulah yang mendasari jiwa wirausaha.

Maka, keterkaitan dengan kecerdasan logis dan kecerdasan empatis yang dibahas sebelumnya, jiwa wirausaha melengkapi keduanya, membentuk semacam segitiga sama sisi dengam puncak dan ujung tombaknya adalah jiwa wirausaha. Jiwa wirausaha ini, yang mampu meronta kala kemalasan membelenggu kecerdasan, yang sanggup mengamuk kala kebodohan menutupi kehausan ilmu, dan yang menerangi kegelapan akan visi masa depan, tujuan, dan makna suatu perbuatan.

Jadilah kesatuan itu dalam jiwa dan raga mahasiswa, manusia yang mampu menguasai kecerdasan logis, sanggup menaklukan kecerdasan empatis, dan mengarahkannya dengan tubuh penopang bernama jiwa wirausaha, jiwa kemandirian. Hingga tercapailah cita-cita bangsa yang mulai menua ini, bangsa yang hampir lupa akan ke-Indonesia-annya, bangsa yang mungkin bingung dalam ketersesatan terjemahan ideologi. Bangsa yang akan hidup, segar kembali oleh pemuda, oleh ide logis, gagasan empatis, dan laku mandiri para pemudanya. Mahasiswa, bukan lagi generasi penerus, namun sudah saatnya menjadi generasi pemimpin bangsa. Disini, kini, dan nanti.

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s