Menikmati Kepemimpinan : Rapat yang Hangat


absSejak kecil, sepertinya Sang Empunya Jiwa telah menampakkan pesan-pesan tak nampak yang mengatakan bahwa saya, bukanlah top leader yang baik. Tapi emang saya-nya aja yang sering ngeyel, angkuh menganggap ketidakcocokan dengan istilah “belum waktunya”. Sepertinya saya kebanyakan ikut forum-forum motivasi dan baca buku-buku motivasi, yang sesat, dalam perspektif ini, hahaha

Bahkan hingga sekarang, masih saja ngengkel dan membohongi diri tentang hal-hal macam itu. So hopeless, tidak bersikap ksatria macam kawan-kawan saya, saya lebih suka diam dan cenderung protektif pada orang-orang yang baru saya kenal, atau pada kawan lama yang potelsial sebagai rival. Menyedihkan, disgusting. Itu masa labil bak ababil. Esok, insya Allah tidak lagi. Sempet aneh, kenapa tulisan saya sekarang jadi banyakan curhatnya ketimbang idenya, apa yg terjadi – lagi – dengan diriku. Macam lagu melayu malaysia-an saja.

Seorang kawan mengritik caraku memimpin, katanya aku terlalu keras, dan galak kalo mimpin rapat. Posisi top leader agaknya membuat saya sok top leader dengan cara dan gaya yang ndak humanis – bagi mereka. Benar kata kakak saya, harusnya saya tidak buru-buru, dan lihat apa yang terjadi saat ini, stagnansi berpikir, ide mandeg, gagasan hilang, dan anggota tim saya sakit. Astagfirullah, sampai membuat orang lain sakit, pemimpin maca apa yang sikapnya membuat anggotanya sakit? Pemimpin macam saya. Astagfirullah.

Maka esok hari, saya mendambakan rapat yang hangat. Bukan dengan materi dengan meyediakan jajanan dan makanan, bukan dengan sikap yes man yang mengiyakan setiap gagasan, bukan dengan senyum latah yang ndak berimplikasi jelas. Tapi dengan apa Ya Rabb, Yang Maha Memelihara, ilhamkanlah cara memelihara yang benar wahai Sang Maha Pemelihara. Seakan, apa yang saya baca selama ini terbang bak amal yang dibakar kesombongan. Ironi.

Sepertinya, sudah waktunya bertemu dengan kakak-kakak yang lain, kakak-kakak yang itu, yang setiap kali saya tanya, selalu sebenarya saya telah tau jawabannya. Kakak-kakak yang sederhana itu. Kesederhanaan yang menginspirasi, kesederhanaan yang mampu memelihara kenyamanan, kehangatan. Dia bilang, saya terlalu banyak baca filsafat, katanya lakukan saja yang terbaik, do the best. Jangan terlalu banyak bersabda macam nabi saja, jangan terlalu larut dalam filsafat karena kamu bisa sesat, jangan memperdulikan apa kata orang, yang mesti dipedulikan adalah kebermanfaatan. Dan jangan-jangan yang lain… terlalu banyak, dan saya ingat semuanya.

Kembali mengingat musibah yang kawan saya alami, mengusik logika persahabatan kami. Tapi bagi saya, persahabatan itu gratis, tidak ada biaya atau materi. Dan urusan keduniaan lainnya, akan saya tinggalkan – tapi ndak ninggalkan salat – untuk me-support sahabat saya ini, dan sahabat saya yang lain. Saya tidak begitu nyaman dengan kata sahabat, lebih suka dengan kata kawan. Tapi, di sebuah seminar, diktakan bahwa para komunis menyebut teman-teman satu perjuangannya dengan sebutan “kawan”.

Lalu, komuniskah saya? hahaha

Absurd, tulisan yang dipaksakan memang absurd, macam inilah orang frustasi nan hopeless. Macam inilah orang kurang ilmu.

Dan, saya belum juga tau bagaimana membuat rapat yang hangat. Absurd.

Adi Sutakwa

dalam penuh ke-absurd-an

Maaf

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s