Menangisi Kepemimpinan : Dosa sebagai Pemimpin


sinSejak kecil, saya suka menulis puisi. Merangkai butiran-butiran kata yang jejatuhan dari langit pengetahuan. Barangkali itu yang menjadi konstruksi nyata dari tulisan-tulisan saya yang gagal untuk dimengerti semua kalangan. Saya tidak pernah tahu kenapa saya suka manulis puisi, mungkin terpengaruh lagu-lagu Malaysia-an yang kerap saya nantikan di sore berkawankan radio. Bahasa melayu yang penuh haru dan pesan terselubung agaknya membuat saya tersugesti. Kala itu.

Lebih parah lagi ketika saya baca sebuah quote seorang filsuf Yunani, lupa saya, entah itu Plato atau guru Plato, Aristoteles. Katanya, para penyair itu orang yang cerdas, karena mereka dapat menghubungkan sesuatu yang tidak berhubungan. Identik memang dengan para pujangga yang mampu merajut makna tersirat yang menyindir berat dengan berbagai metafora, hiperbola, dan istilah peribahasa lainnya. Ekstrimnya, kala saya mengira “kecerdasan” para penyair itu – termasuk saya yang congkak mendaulat diri sebagai penyair – diartikan lebih lanjut sebagai kecerdasan problem solving karena dalam analogi liar saya mereka dapat menghubungkan tanah yang terpisah oleh sungai dengan kumpulan tali yang kita sebut sekarang ini sebagai jembatan.

Kemana arah tulisan saya kali ini? Absurd lagi kah? Saya hanya berusaha mengingat dan melihat, mengaji lebih dalam tentang logika berpikir diri, saya kira banyak salah kaprah yang saya sanggah dan saya yakinkan sebagai postulat. Salah satunya, kesalahkaprahan saya tentang pendapat si Aristoteles tadi. Penafsiran tanpa ilmu tafsir membuat saya tersesat dalam mozaik logika yang relatif. Masih banyak saya kira, anggapan-anggapan yang tidak dapat dibuktikan dan tidak berdasar, dan sialnya membuat saya tersesat beberapa kali, terjun bebas ke dalam lumpur kesombongan.

Dan tibalah pada suatu waktu yang memaksa saya menjadi pemimpin. Padahal baru saja saya menikmati ketersadaran diri dari kesalahkaprahan menahun. Saya akui, belum cukup siap untuk menghadapi ganasnya alur pikir sendiri, yang darah ini mengalirkan sifat-sifat setan. Seperti berdiri membaca obituari diri sendiri. Mau menangis buat apa, mau melawan lawan siapa. Ironi, lagi.

Dosa saya yang terbesar sebagai seorang pemimpin adalah menjadi seorang pemimpin. Astagfirullah. Nampaknya seperti perumpamaan-perumpamaan zaman dahulu, menggali lubang persemayaman terakhir. Saat dulu menggebu untuk ditunjuk memimpin, kini layu tak berdaya menangisi kepemimpinan diri. Lalu apa? Bukan siapa yang dapat menjawab apa yang saya tanya. Tapi kucuran air mengalir, biarlah mengawali langkah saya memasuki rumah pengakuan dosa. Rumah Sang Pengampun Dosa.

Adi Sutakwa

dalam penuh penyesalan

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s