Menyukuri Kepemimpinan : Commit to Learn


hujIni adalah langkah yang paling aneh yang pernah saya rasakan, bukan secara fisik. Mungkin untuk kesekian kalinya tulisan saya akan menyuratkan abstraksi gagasan, namun saya katakan disini bahwa tiap abstraksi saya selalu muncul dan timbul dari sebuah kegelisahan yang panjang. Dan disinilah, orang-orang yang mengenal saya akan benar-benar mampu membaca apa yang saya siratkan dalam sekumpulan abstraksi-abstraksi tersebut.

Hati saya melakukan kooptasi, melawan logika otak saya. Insting seorang pemimpin saya harapkan, bukan hanya keputusan acak yang gamang. Maaf mas – yang itu – dugaan anda salah. Maaf mas – yang itu juga – bukan saya jual mahal, namun hujan membawa saya berteduh di rumah yang lebih besar. Maaf mas – yang itu pula – saya bukan penghianat, anda pasti mengerti apa alasan saya. Maaf mas – yang itu jua – sampai sekarang pun njenegan tidak mengerti apa yang saya harapkan. Dan, maaf kawan, maaf akhi ukhti, maaf adek – kalian semua – percayalah, saya tidak pergi.

Saya bersyukur telah ada dan menjadi bagian dari marah dan benci kalian. Ingat bahwa hidup terus berjalan tanpa saya. Dan saya tidak mati. Saya tidak bunuh diri. Hanya saja, ini yang saya pilih. Inilah hasil dari apa yang saya baca, apa yang saya tanya, apa yang saya lihat, apa yang saya ucap, dan apa yang saya pikir. Kalian yang membuat saya memilih ini. Dan saya yakin, pilihan ini – pilihan yang kalian pilihkan untukku – adalah yang terbaik bagiku, bagi kalian.

Saya tidak pandai bercurah hati. Banyak orang bilang saya banyak omong, so be it. Tak apa, semoga saja tidak menyakiti hati yang lain. Di tempat perteduhan ini, i’m commit to learn, dengan segala jiwa, raga, pikir, walau mungkin passion tidak. Belajar adalah bersabar dalam berpikir. Bersabar adalah belajar berpikir. Hingga berpikir adalah belajar bersabar.

Politik adalah tentang ideologi. Maka ini ideologi saya, tidak akan saya jual, tidak akan saya tukar, tidak akan bisa ditawar, oleh kehormatan, jabatan, uang, kecuali satu, iman. Maka jika ada diantara kalian yang mampu menawarkan jaminan keimanan pada saya, saya gadaikan ideologi saya ini. Saat ini, semua nasehat berputar mengelilingi atas kepala, membentuk semacam globe huruf yang berwarna, lambat laun memulau menampakkan bentuk dan afiliasinya sendiri. Terima kasih mas mas ku semua, globe ini akan saya susutkan padatkan menjadi inti tanpa wujud, kasat mata, namun akan memberontak pada waktunya.

Hmm… saya turun disini. Seraya menunggu hujan berhenti.

Pada waktunya, kalian akan tau mengapa. Pada saatnya kalian akan mengerti bagaimana. Pada titiknya, kita bersama akan bersama. Menertawakan masa muda yang penuh dengan pilihan yang masing-masing kita tidak mengerti.  Kita tidak mengerti. Maka inilah kepemimpinan yang aku syukuri, untuk terakhir kalinya. Selamat jalan, hujan.

Adi Sutakwa

dalam kekacauan

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s