Janji yang Tertuda, Satu dari Sepuluh


vMungkin akan saya kaitkan dengan fathanah, bukan salah satu nama yang beberapa hari ini menghiasi awak media. Namun, kedalaman arti yang tak pernah sanggup bahasa Indonesia mendefinisikannya. Benar, banyak dari bahasa persatuan kita tidak mampu menjelaskan arti dan maksud dari kata-kata asing yang tidak asing dalam budaya dan keseharian kita. Misalnya saja Rabb, didefinikan Tuhan dalam bahasa Indonesia, padahal nilai dan artinya tidak sedangkal itu. Bahasa Arab dikatakan bahasa syair yang dalam, apalagi kata dan kalimat yang ada dalam The Holy Quran, melebihi syair manapun ciptaan manusia, karena syair ini ciptaan Allah, zat yang tidak akan sampai pada bayangan imaji manusia. Syair yang secara ilmiah mampu meningkatkan kecerdasan otak dan hati jika dibaca dengan sadar dan benar. Masya Allah.

Dalam buku Belajar Merawat Indonesia untuk Kepemimpinan Alternatif (BMI 2), salah satu pengantar yang masih saya ingat adalah seorang pemimpin mestilah mempunya role model. Dan role model terbaik pastilah Rasulullah saw. Hanya empat yang mesti disifati dari Rasulullah saw. namun tidak akan mampu jiwa dan raga kita mencapai kesempurnaan sifat Rasulullah saw. yang shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah. Meski begitu, pantaslah dan wajib kita berusaha menyifati Rasulullah saw. yang kelengkapan biografinya mesti dikaji sepanjang hayat.

Dalam tulisan ini memang hanya akan saya kotakkan dalam satu ruang, keluasan dan kearifan definisi fathanah. Yang disebut sebagai visioner dalam buku BMI 2, dan diumumkan dengan definisi yang lebih merakyat dengan sebutan pintar, cerdas, atau berwawasan luas. Yang saya pahami, dalam subjektifitas opini selalu saya katakan bahwa pemimpin harus tahu segalanya. Bukan mendahului sifat Tuhan, jangan di makan mentah ungkapan tersebut, mesti di-breakdown ke bahasan yang lebih membumi.

Pemimpin harus tahu segalanya. Karena pemimpin adalah seorang leader. Artinya, dia menjadi pioneer dari segala pergerakan, mulai dari pergerakan intelektual, pergerakan fisik, kedewasaan psikis, dan pergerakan moral tentunya. Mereka menjadi decision maker dari semua proses system making, dan akan fatal jika seorang pemimpin tidak tau apakah keputusanny abenar atau salah. Darimana benar dan salah diukur? Dari pemahaman akan ilmu. Sejauh mana ilmu yang dimiliki, maka sejauh itu pula sebuah keputusan akan benar-benar mampu memutuskan suatu permasalahan yang tak terputus.

Maka tepatlah jika seorang Rasul mempunyai sifat fathanah. Mutsaqaful fikr, dari pemahaman liar saya, kata tersebut merujuk pada kata lain yaitu tsaqafah. Tsaqafah menurut arti bahasa di dalam kamus Al-Muhith, ia berasal dari kata tsaqufa yang berarti cepat di dalam mema-hami sesuatu atau cerdas.  Menurut arti istilah, terdapat per-bedaan ungkapan di dalam memberi definisi tsaqafah, namun yang mendekati kebenaran, sebagai berikut: a)Tsaqofah merupakan konsep pemikiran dan pandangan hidup atau suatu ideologi tentang alam semesta,     manusia dan kehidupan. b)Tsaqofah merupakan konsep pemikiran dan pandangan hidup tertentu yang telah membentuk pola pikir dan perilaku suatu masyarakat. Masing-masing masyarakat atau bangsa memiliki tsaqafah (pandangan hidup) atau way of live yang  berbeda-beda sesuai perbedaan ideologi dan pemikiran yang mereka yakini (http://myquran.org/forum/index.php?topic=38751.0).

Pandangan hidup, mungkin istilahnya agak berbeda. Bagi saya, untuk berusaha menjadi pribadi yang fathanah, kita mesti membaca. Pembacaan akan literatur tertulis dan tidak tertulis. Pembacaan akan apa yang dilihat, apa yang di dengar, dan apa yang dirasakan. Ini akan mencapai suatu titik yang sangat subjektif, karena melibatkan perasaan dalam memahaminya. Namun, seluruh perasaan dan subjektifitas ini mesti dibatasi, dengan apa? Dengan Quran dan Sunnah, sumber dari segala sumber objektifitas, ciptaan Allah. Lewat pembacaan itu, kita akan mengerti bahwa apa yang kita tulis (pikir, kata), adalah apa yang kita baca (dari sumber tertulis maupun tidak tertulis).

Ya, jika mesti dipadatkan dalam sebuah kalmat, maka saya kan memilih melontarkan persepsi bahwa fathanah adalah tingkat tertinggi dari cara berpikir manusia, telah secara nyata ditunjukkan oleh Rasulullah saw. Melalui cara beliau hidup, dari munculnya fajar – bahkan sebelum itu – hingga terbitnya lelap mata dalam kematian sementara. Mulai dari kelembutan dalam bersikap hingga political view  yang arif dan visioner. Tidak ada yang lain tentang fathanah selain keterciptaan rahmatan lil alam, rahmat bagi seluruh alam, beserta isinya. Masya Allah.

Adi Sutakwa

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s