Pilihan : Tidak Masalah #1


netrightdaily.com
netrightdaily.com

Berbicara mengenai pilihan, akan sangat sensitif rasanya, malahan akan mengambang karena tidak dibatasi tendensi selain relativitas yang menyesatkan. Saya melihat kawan-kawan saya mulai sibuk atau bisa juga dibilang fokus dengan perburuan beasiswa dengan amunisi angka-angka di lembar keramat itu. Yang lainnya mulai sibuk menggerakkan roda project karyanya yang tidak akan pernah selesai. Yang lainnya mulai gusar dengan usia dan mesti melupakan alasan-alasan klasik mengenai soft skill dan tetek bengek-nya. Dan beberapa yang lain sudah pulang mengadu pada orang tua, memberikan kado yang dinanti selama perantauan menahun, sarjana.

Ini tidak akan menjadi tulisan yang begitu berat, saya pikir mungkin akan cukup renyah, tanpa pendapat orang-orang hebat, tanpa data jurnal yang memusingkan, dan karena tanpa itu semua maka ini hanya akan menjadi tulisan yang tidak valid. Tapi bukan tidak bermakna. Saya meminginkan bahasan yang mengena dan bermakna, dari sudut pandang manapun, dilihat oleh siapapun dan dialami dalam masa manapun.

Karena saya hidup di zaman organisasi, maka padangan saya juga dapat dipastikan tidak akan jauh dari situ. Saya telah melihat adek-adek saya mulai memasuki fase memilih. Kakak-kakak saya juga mulai memasuki fase memilih. Bedanya, kalau adek-adek saya sedang sibuk memilih organisasi, kakak-kakak saya sibuk memilih pekerjaan – beberapa sibuk memilih calon istri. Dan saya tidak lagi goyah seperti posisi mereka, saya telah tangguh berada dalam pilihan yang telah direncanakan satu tahun yang lalu, kala itu tak bernama, namun sekarang telah jelas apa namanya.

Kawan saya, ada yang tidak bisa memilih, karena Tuhan memilihkannya jalan, dan dia nurut. Ya apa boleh buat dia memang tipe yes man, tidak seperti saya yang selalu memberontak melawan pimpinan. Kalau diingat, saya pernah berkata bahwa mas-mas yang saya turuti disini cuma satu, dan sepertinya benar. Kali ini dan sebenarnya beberapa saat yang lalu saya memang menurutinya. Dan tidak menuruti yang lain. Bagi saya, itu adalah sebuah ideologi. Tak bisa diganggu oleh orang-orang yang tidak saya turuti.

Ada orang yang sejak saya kenal, terus saja bermain game. Ada orang yang sejak saya kenal terus saja meracau tidak jelas. Ada orang yang sejak saya kenal terlihat sangat keren dan mengispirasi namun setelah tahu, hanya probadi retoris yang berkata diplomatis. Ada orang yang sejak saya kenal lebih banyak omong yang menyinggung dengan nada sengak, nesunan, ­namun kadang-kadang keren juga solusi-solusinya. Ada orang yang sejak saya kenal selalu menyanggah saya, kadang diskusi serius dan menjanjaikan, namun pada akhirnya kalah oleh janjinya sendiri. Ada orang yang sejak saya kecil selalu di bangga-banggakan ibu saya, dan saya juga bangga, karena sikap dan sifatnya jelas. Ada orang yang sejak saya kenal hanya omong di media dan forum bebas, menyebarkan ketidakjelasan, mengganggu kenyamanan, namun tak pernah tau buat apa sebernarnya dia hidup, dia menikmati kehebatannya sebagai pembual. Ada orang yang sejak saya kenal terlihat dan terdengar soleh, namun setelah sekian lama mengenal, ternyada dia mengagumi pendosa. Ada orang yang sejak saya kenal tenang, kalem, keren, dan ternyata memang ndak bisa tegas dan mengambil keputusan, namun beberapa kali ini lumayan tegas juga, dan terkesan ekstrim bagi saya. Ada orang yang sejak saya kenal sangat egois, keras kepala, kaku, dan freak bahkan obsesif dengan sifatnya sendiri, dan sampai kini juga masih tetap begitu. Ada orang yang ambisif, otoriter, cerdas, namun beberapa kali ini malah alay dan bingung. Ada orang yang santai tapi disiplin dengan inti. Ada orang yang keren dan selalu menusuk barisan superego saya, dan masih keren sampai sekarang. Ada lagi dan ada lagi orang-orang yang banyak dan tidak sanggup saya persepsikan disini.

Yang mau saya katakan adalah, dalam umur saya, dan adek-adek saya, butuh seorang tokoh, role model, panutan, guru, teladan, apalah sebutannya. Dan saya tau Sirah Nabawiyah adalah buku terbaik untuk dipahami. Tapi umur kami mesti melihat nyata, mana-mana yang telah melakukan apa yang dituliskan di Sirah Nabawiyah, mana yang hidup mendekati atau sebagian kecil meniru Rasulullah, dann itulah yang akan saya ikuti. Bukan jabatan yang menggiurkan atau wanita yang memabukkan, tapi saya dan adek-adek butuh teladan, yang menentramkan. Maka itu yang saya ikuti, itu yang saya pilih. Pilihan, apapun, manapun, tidak masalah. Asalkan itu mendekati yang saya baca. Jadi, selamat tinggal dunia tanpa keduniaan.

Adi Sutakwa
20130211

Dalam kamar seorang kawan

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s