Pilihan : Tidak Masalah #2


netrightdaily.com
netrightdaily.com

Memilih bukan perkara mudah. Karena didalamnya terkandung rumus kompleks, rumit, bertele-tele, tegas, kaku, tidak dapat diubah, dan sangat menentukan implikasi yang terjadi, di masa depan. Tidak bisa menjadi inversi atau konversi, tidak dapat dikalikan apalagi dibagi, tidak mungkin juga dikalkukasi seperti kecepatan dan percepatan dalam ilmu fisik, atau dititrasi macam praktikum bahan-bahan kimiawi. Dalam syariat saya, memilih itu pasti, dan harus. Namun, mesti ada ritual setelah memilih, dialah salat istikharah.

Beberapa mungkin keliru, salat istikharah itu dilakukan setelah, memilih, ingat, setelah memilih, bukan sebelum memilih lalu berharap mendapat wangsit atau mimpi yang berkata mana pilha yang benar. Salah. Salat istikharah dilakukan setelah menentukan pilihan. Lalu setelah salat, jalankan pilihan yang telah ditentukan. Jika lancar tanpa hambatan, maka itulah piliha yang benar, jika tersendat, terhambat, terganggu, dan terlampau banyak masalah yang menghadang, maka bukan itu pilihan yang tepat. Bersegeralah berpindah pilihan. Begitu dalam sebuah buku yang saya baca.

Beberapa orang meremehkan pilihan dan bersikap ikut yang depan. Warisan belanda yang membuat Indonesia gila. Bagi saya, orang-orang seperti itu sama saja tidak menentukan pilihan. Mereka berkumpul dengan ABC, maka mereka berpikir seperti ABC dan membenarkan apa yang dikatakan ABC. Mereka mendengar bualan DEF, maka mereka berpikir seperti  DEF dan mengiyakan apa yang dikatakan DEF. Mereka melihat GHI, maka mereka lakukan apa yang dilakukan GHI dan membenarkan apa yang dilakukan GHI. Mental cundang, sama saja para penghianat dulu. Bersembunyi di ketiak belanda, bersenyum dan bersenda dengan prajurit-prajurit nusantara.

Sempat berpikir mengenai bidak catur. Jika di crop dalam satu sudut, maka akan terlihat jelas raja dalam semua catur – yang saya tahu – sangat powerless dia berada di pusat papan permainan, namun tak kuasa tanpa mengandalkan awak tentaranya. Pantas saja para pembaharu selalu dianalogikan sebagai pion – prajurit kecil dan tidak berdaya, mati lebih dulu, namun menghidupkan harapan yang lebih besar, kemenangan.

Tepat sekali, kematian pion selalu menjadi harapan baru untuk kemenangan dan kejayaan. Dia – pion – membuka jalan serangan, menangkal gelombang serangan, dan mengunci langkah musuh yang mulai kerepotan. Meski harus mati terlebih dahulu, maka itu adalah pilihan, paling tidak dia telah membuka jalan baru, menjadi pembaharu, bukan bersembunyi di ketiak kekuasaan. Tentu saja pendapat ini akan mudah disanggah oleh mereka yang melihat catur sebagai sebuah permainan. Silahkan, karena dalam tulisan ini saya menempatkannya dalam kamar bahasan tentang pilihan, bukan permainan.

Sedikit berbeda dengan Shogi – catur jepang. Permainan yang kerap ditampilkan sebagai latihan utama dalam perancangan strategi oleh Shikamaru – tokoh komik Naruto – sangat sempurna, sebagai catur, menurut saya. Seperti hidup, maka memainkan Shogi butuh kedalaman politis yang sangat oportunis. Karena semua bidak musuh, bisa menjadi prajurit setia kita, dan bahkan justru menjadi kelengkapan strategi dalam membunuh raja musuh. Dan saya suka pion dalam Shogi ini, mereka – dan semua bidak lainnya – dapat ditempatkan dimanapun, dengan dampak yang sangat ironis. Dalam sebuah permainan, saya menikmati menykak raja musuh dengan pion. Sangat indah.

Jika berpikir menjadi pembaharu, jadilah pembaharu macam pion Shogi, yang membarukan dengan tenang, fleksibel, namun sangat indah. Bukan dengan kicau-kicau tanpa arti dan tidak sadar posisi. Kata kakak saya, saya mesti memilih mau jalan pragmatis, atau jalan humanis. Kalau mau jalan pragmatis, maka bersiaplah, dan kalau jalan humanis, juga bersiaplah. Jadi dalam logika kasar saya, mana saja yang saya pilih, tidak masalah, karena konsekuensinya saya tetap mesti bersiap dan menyiapkan diri.

Dibenarkan oleh kakak saya yang lain, apapun yang saya pilih tidak masalah. Asalkan saya tetap memegang salah satu – dan keseluruhan – dari sepuluh poin. Bersungguh-sungguh dalam memperbaiki diri. Karena dalam tulisannya juga, bermakna sirat, bahwa perjuangan yang sesungguhnya adalah perjuangan dalam memperbaiki diri. Dan dalam pengalaman saya, kita adalah apa yang kita lihat. Maka jika kita memperbaiki diri, dan kita baik, lalu terus memperbaiki diri, dan kita menjadi lebih baik, dan seterusnya. Maka orang akan melihat kita, dan jadilah orang itu meniru kita. Sehinggah, jadilah kita teladan. Keren bukan?

Yang mau saya katakan, memilih mana memang tidak masalah. Yang salah adalah memilih tanpa ilmu. Mengikut tanpa tahu. Mengangguk tanpa paham. Menghakimi tanpa ajaran Sang Maha Adil.  Dan mengatakan yang penuh kerancuan, kesesatan, relativitas, dan kebodohan. Maka jika kamu memilih, jika kamu berkata, lihat dulu. Apa dasarmu, apa ilmumu.

Karena ilmu yang haq, adalah ilmu yang diturunkan lewat firman Sang Maha Tahu, Sang Pemilik Ilmu. Pikirkan.

Adi Sutakwa

di sebuah ubin

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s