Sebuah Hikayat : Ranah Tanpa Warna #1


akhwatmuslimah.com
akhwatmuslimah.com

Keputusan agaknya telah diambil, pilihan telah disabdakan, dan konsekuensi sudah menunggu dijemput dengan senyum meringis, senyum yang akan berakhir tragis, atau manis? Sejak awal saya telah paham, bahwa ini akan menjadi pemikiran panjang yang bodoh. Terus dipikirkan walaupun telah berjalan dan sudah lama diambil menu makannya. Hanya saja, menu yang dipilih, seolah belum menjadi menu yang dimakan.

Tidak salah menginginkan sebuah posisi, jabatan, kehormatan, kekuasaan memimpin, jika memang setelah ditimbang dengan sadar, ternyata memang kitalah yang terbaik, kita tahu. Begitu kata kakak itu. Namun yang fatal, salah, dosa, bahkan dzalim adalah, ketika keinginganmu memimpin demi perbaikan telah keseleo dan sakit menjadi ambisi buta hanya demi kekuasaan. Salah.

Jangan buru-buru, karena kamu tidak diburu. Semua ada prosesnya, kamu mesti melewatinya satu demi satu. Kamu bosan kerja teknis? Lalu mau apa? Mau jadi ketua? Jangan buru-buru, karena kamu akan diburu pemburu yang lebih mengerikan. Ambisi setan. Lakukan saja, jika tak kau dapatkan. Maka tunggulah, sembari melakukan hal lain. Dan lihatlah, berapa banyak yang kau dapatkan. Lebih dari seluruh nominal yang pernah kau kejar hingga membunuh kawan-kawanmu. Lihatlah, menangislah, betapa bodohnya kamu. Kata seorang kakak.

Bukan mereka yang sempurna, hingga semua yang memasuki ruangan itu akan menjelma menjadi paripurna. Bukan mereka dewa, hingga sentuhannya mengemas dan dipuja sana sini. Bukan mereka dapat menyurgakan neraka, sampai-sampai ribuat jemaat membenarkan apa firman tanpa asal usul mereka. Tapi kamu, dia, yang menentukan akan jadi apa kamu, dia. Kamu adalah sempurna, paripurna, dewa, dipuja, surga, kalau kamu mau. Pidato kedewasaan seorang keluarga.

Mana yang harus kamu pilih? Bodoh. Ada kamu atau nggak mereka tetep bisa hidup, berjalan seperi seharusnya. Memangnya kamu siapa? Kamu bisa apa? Semua telah ditetapkan – yang telah ditetapkan. Dan semua bisa berubah – yang bisa berubah. Maka apa yang kau bingungkan? Kau pikir mereka butuh kamu? Dalam umurmu, kau yang butuh mereka, kau mesti memilih betul mana yang kau butuh. Mereka tak butuh kamu. Mungkin 1-2 tahun lagi mereka butuh  kamu, tapi kau mesti mencari, memilih, memilah, apa yang sesungguhnya kamu butuhkan. Dan kita lihat nanti apa yang mereka lakukan. Mungkin beberapa akan mengemismu. Seorang abang.

Saya telah lama hidup dalam persepsi orang lain. Saya minta maaf. Meninggalkan kalian dalam kebodohan dan kekacauan. Setelah ini saya tidak akan hidup dalam persepsi orang lain lagi. Dan kalian juga mesti memilih, ikuti seratus persen. Atau pergi dari sini selamanya. Turuti kredo kalian. Mari kita selesaikan semua ini, dengan manis. Janjinya. Dan kita lihat apa yang terjadi, saya tau kalian bahkan orang-orang yang lebih hebat dari saya. Dan dia tak pernah menepati janjinya, hingga sekarang, tak pernah ada yang selesai dengan manis, dan tak pernah dia hidup dalam persepsinya sendiri.

Kamu dalam posisi memilih, pilihlah. Berkorban, atau jalan pragmatis. Bullshit kalo kau tak menganggap itu pragmatis. Buat apa kamu disitu kalau bukan untuk kekuasaan, keinginan berkuasa. Aku pernah seumuranmu nak. Tak perlu kau tanya hasilnya, aku yakin kau tau. Sanggah seorang kakak. Aku yakin kau tau apa yang terjadi jika kau berenang di kolam pragmatisme, atau mengambang di lautan pengorbanan. Dulu aku memilih nak, dan kau tau ceritaku. Yang tidak hari kuelakkan dengan anggapan bahwa aku tidak sakit hati. Aku memang tidak sakit hati, dan kau tau itu. Kau tau mana yang mesti kau pilih.

Benar, maka sampai hari ini masih saya menginginkan menjadi pemimpin itu, dan saya tidak terburu, karena saya adalah saya, dan saya yang adalah saya memilih apa yang saya butuh, bukan memilih hidup dalam persepsi orang lain, bahkan saya tidak memilih salah satu dari pragmatisme dan pengorbanan. Karena saya memilih untuk diam. Diam. Diam.

Diam dalam hijrah yang diam-diam. Hampir sama layaknya strategi Rasul yang legendaris, menyajikan Ali sebagai menu memalukan bagi para pendusta itu, Ali yang seolah menertawakan para pendosa itu. Hijrah yang penuh dengan manuver politik yang mengerikan. Akselerasi yang menentukan masa depan dunia, salah satu langkah besar dalam keterbentukan istilah masyarakat madani. Masyarakat yang lebih indah dari teori ideologi manapun. Karena diciptakan oleh manusia yang lebih indah dari manusia manapun, kita semua tahu itu.

Sebuah hijrah, adalah hijrahnya tempat – pada anggapan awam. Hijahnya perbuatan – pada anggapan pembelajar. Hijrahnya hati – pada anggapan filsuf. Dan ketiganya – pada anggapan manusia yang difirmankan sebagai makhluk terbaik. Hijrah itu harus. Sama seperti ketika aku hijrah dari kampung kecil penuh kehangatan. Hijrah itu mesti. Sama seperti saat aku tidak lagi bermain game yang sama dan berharap hasil yang berbeda. Hijrah itu mutlak. Sama seperti kala aku mengazzamkan hati untuk belajar total untuk mengetahui bagaimana cara yang benar untuk belajar, bukan mempelajari ilmu megalahkan orang lain. Hijrah itu wajib. Sama seperti kewajiban mempertahankan diri, untuk keberlangsungan dakwah. Hijrah itu, yang aku pilih.

Adi Sutakwa

20130217 2427

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s