Sebuah Hikayat : Ranah Tanpa Warna #2


http://t3.gstatic.com
http://t3.gstatic.com

Lalu, benarkah hijrah yang diputuskan sepihak ini, adalah hijrah yang benar? Pencarian akan buku sabar dan ikhlas pernah saya lakukan. Dengan congkak memarahi seorang penasehat dengan sombongnya, “aku mengaji aku membaca”. Dan jadilah apa yang aku kaji dan apa yang aku baca tidak dapat mencapai sebuah kesatuan makna yang utuh. Semua berpencar, berserpih dan mulai hilang ditiup angin sebelum badai hujan di suatu akhir Januari yang menyongsong awal Februari yang basah. Sabar itu menunggu dengan ikhlas. Dan ikhlas itu merelakan beberapa atau semua dengan sabar. Maka apa itu sabar dan apa itu ikhlas?

Setelah bergulat dengan teori dan ritual mempelajari kepemimpinan. Ternyata ada satu hal yang membuat saya tercengang, ternyata saya tidak pernah benar-benar tau pa itu kepemimpinan. Kepemimpinan hanyalah katanya-katanya. Kata tokoh-tokoh itu, kata ahli-ahli itu, kata kakak-kakak itu, kata buku-buku itu, dan kata konklusi-konklusi itu. Saya sesunggunya tidak benar-benar tahu. Beragam cerita dan hikmah adalah rancu yang memaksa saya untuk mempercayai salah satunya, atau semuanya, atau tidak satupun.

Maka saya pahami kepemimpinan adalah sebuah proses. Mungkin akan sama dengan pendapat anda-anda disana, yang membaca ataupun enggan sekedar menegok saja. Mungkin akan serupa dengan teori-teori para ahli yang bersekolah tinggi. Tapi proses untuk mencapai sebuah kepemimpinan adalah sebuah kemustahilan dalam kamus besar bahasa saya. Karena ini adalah proses yang tidak pernah berakhir, bahkan kita tak tahu apakah proses ini telah mulai berjalan, tidak seperti proses alat-alat industri yang patuh itu. Kita tidak tau apa hasil dari proses ini, tidak seperti dusta-dusta bab tujuan dalam beberapa penelitian yang seolah mendahului rumus matematika Tuhan.

Proses yang akan melebar dan mengerut, memanjang dan memendek, entah dalam ruang apa. Proses yang sangat absurd dan abstrak yang menggulung pucuk lidi bambu dalam balutan harum manis palsu, berwarna warni. Kepemimpina adalah sebuah  proses, lagi. Sebuah ada-ada yang tidak pernah ada. Seperti pelangi yang dikejar sekumpulan anak polos dan tak pernah bertemu kakinya untuk dinaiki. Seperti aurora yang hanya bisa ditemui anak-anak desa lewat layar yang terkoneksi dengan alam semesta, sebesar tivi rumah mereka. Seperti ekspresi wajah mereka sendiri yang tak akan pernah mereka tau, kala berinteraksi dengan wajah-wajah lain yang juga tak akan pernah tau.

Namun ada satu babak dalam proses yang tidak berproses ini, mereka akan bertemu dengan monster, bernama jabatan. Yang bahkan lebih mengerika bagi para lelaki, dari pada apa yang melemahkan mereka – wanita. Konon katanya, laki-laki itu takluk akan tiga hal. Harta, tahta, dan wanita – begitu biasanya susunannya.

Seorang ksatria terhebat akan lemah, takluk, oleh sebuah imajinasi, imaji pada wanita. Dan akan kalah jika benar-benar melawan wanita. Padahal itulah ketakutan terlemah seorang lelaki. Strata yang lebih tinggi, adalah harta. Karena harta mampu membeli wanita, membeli keberanian mereka akan ketakutan pada wanita. Tapi harta juga dapat membeli kehancuran mereka sendiri, harta telah mampu membeli neraka untuk seorang ksatria. Dan yang paling mengerikan, tentu saja tahta. Yang mampu mencipta harta, dan mengundang wanita. Lalu apa yang lebih mengerikan dan menakutkan dari sebuah neraka? Dan anehnya, kenapa secara sadar, seorang ksatria sehebat apapun, akan terbersit untuk mendapatkan hal ini. Tahta, puncak dari segala keinginan lelaki. Dan puncak sekaligus neraka terdalam bagi ksatria terbaik sekalipun. Jabatan, atau dalam hal ini saya sebut tahta. Adalah jebakan. Percayalah.

Maka kita mesti terus berhijrah, berpindah. Bukan untuk mendapatkan tiga “ta” yang membunuh. Tapi untuk mengendalikan tiga “ta” yang menghidupkan. Bukankah kita hidup? Dan mesti menghidupkan kehidupan kita. Jadi mengertilah, bahwa hijrah adalah kepemimpinan. Kalo mau memimpin, maka berhijrahlah. Dan hijrah itu tiada akhirnya, jadi kalau kamu pikir kamu telah berhijrah maka itulah saat kamu mandeg dan tidak berhijrah. Hijrah itu tiap saat. Tiap saat itu hijrah. Jadi apakah itu hijrah? Karena saya yakin, itu, adalah, dan kata-kata deskriptif yang lain tak cukup lihai menwujudkan makna sebuah/seluruh hijrah. Jadi lihatlah, ini bukan ranah tanpa warna. Matamu itu tertutup, maka bukalah dulu penutup yang hanya kain lusuh penuh peluh itu. Karena ini, adalah ranah penuh warna. Tau, apa warnanya?

Adi Sutakwa

2013217 0109

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s