Sebuah Hikayat : Ranah Tanpa Warna #3


info-asik.com
info-asik.com

Suatu pagi yang acak. Saya menemukan sebuah perbincangan bagus, tentang sebuah hikayat. Novel yang ditulis seorang politisi. Menceritakan seorang kecil yang hidup hingga besar, bahkan dalam arti tidak sesungguhnya. Besar dalam jabatannya. Saya putuskan ini sebagai konklusi, sebenarnya saya agak bosan dengan kata konklusi yang sok keren dan tinggi. Sekali-kali pake kata kesimpulan mungkin lebih pas. Akan saya ceritakan.

Pada waktu yang entah, ada seekor burung. Burung yang kelihatannya berbeda dengan burung lainnya, karena memang saat dilihat, dia berbeda dengan yang lainnya, tak punya bulu. Jadi, pada suatu pemikiran, dia sampai pada kesimpulan, bahwa ada yang menciptakannya. Dan mintalah dia bulu, pada yang menciptakannya. Maka esok paginya, dapatlah ia bulu menumbuhi sekujur badannya. Tapi ingat selalu ada tapi disetiap pengabulan doa – tapi yang penuh ketidakpuasan dan keserakahan seorang makhluk terhadap apa-apa yang dianugerahkan Tuhannya. Tapi, kok bulunya hitam, beda dengan burung-burung lain yang bulunya cerah, gilang gemilang, warna-warni memelangi. Kecewalah dia, maka berdoalah lagi sang burung meminta bulu berwarna yang paling indah didunia burung, dengan penuh pengharapan – dan mungkin nafsu – menjelang lelap malam. Dan whuala, jadilah dia burung dengan bulu paling indah diantara semua burung yang ada. Dengan bangganya dia berparade dengan angkuh mengelilingi sekitar, dan dalam keangkuhannya melihatlah ia elang, rajawali, dan burung-burung terhebat lainnya, burung dengan sayap yang lebar dan kuat, yang mampu terbang kemanapun, sekehendak hati, dan dengan kuasa mampu memakan apapun dimanapun kapanpun – yang jelas burung seperti itu bukanlah burung garuda, yang kadang kalah oleh gajah gendut atau macan biasa. Dan lagi, irilah burung itu. Dia ingin terbang secepat kilat menjilat tanah dan pepohonan, melesat bak lesatan cahaya matahari yang memaksa seluruh bumi pasrah terhangatkan. Dia berdoa, untuk diberikan sayap yang paling kuat, agar mampu melakukan drift-drift  bak mobil-mobil modifikasi dalam perlombaan kecepatan. Sayap yang membuatnya menjadi burung terkuat, tercepat – dan pasti tercongkak. Lalu paginya, terbangunlah dia de tepi jurang tertinggi yang pernah dibayangkan. Dengan sayap terkuat yang tak pernah dia bayangkan. Jangan pikir bahwa Tuhan burung ini kok mau-maunya mengabulkan apa saja inginnya si burung, ingat Tuhan membuat malaikat – yang konon makhluk paling taat – malu dalam kebodohannya, hanya dengan mengatakan “Aku lebih tahu, Aku maha tahu..”. Jadi sebelum selesai kuceritakan, percayalah bahwa Tuhan si burung ini juga Tuhan Yang Maha Tahu. Maka dengan bangga dia terbang melesat, benar-benar secepat kilat, menjilat tanah yang tak lagi liat. Menembus batas atmosfer tanpa tergores sedikitpun, tak seperti meteor-meteor yang nampaknya kuat namun terkikis habis kala mencapai bumi. Dan bahkan menyaingi cahaya matahari dalam menyapa paginya sendiri sendiri. Dia, seolah menjadi burung terhebat, tiada lagi yang lebih hebat, tak akan pernah ada lagi yang lebih hebat. Dan kalian pasti tau, si burung ini belum juga puas, karena ceritanya tidak akan menarik kalau tetiba-tiba sang burung insyaf dan berdoa dengan penuh penyesalan hanya mau menjadi burung biasa seperti saat dilahirkan. Tidak mungkin. Maka timbullah satu kegilaan dalam benaknya, seorang yang terhebat tentu mempunya pembeda, yang tidak dimiliki burung lain, atau bahkan seluruh hewan di alam semesta ini. Dia punya kaki, sayap (tangan), kepala, mulut (paruh), dada, mata, semua hewan juga punya itu. Lalu apa yang dia ingin? Pada sebuah doa puncak, yang dia janjikan pada Tuhannya bahwa ini akan menjadi doa dan permintaan terkahirnya – nafsu terakhir? – dia menggumam dengan penuh ikhlas, sabar, harap, dan kejujuran. Dia meminta Tuhan mengabulkan doa terakhirnya. Dia minta, pagut emas. Abrakadabra, pagi yang sempurna. Bangkitlah dia dengan pagut (paruh) emasnya. Jadilah ia burung berpagut emas.

Sengaja saya buat paragraf baru, karena ini adalah final destination dari hikayat ini. Hingga, mulailah ia terbang, sang burung berpagut emas. Sekali kepak, duakali kepak, tigakali kepak, masih lancar dan bangga. Tapi seperti cerita-cerita dengan penuh percobaan ilmiah, pastilah ada sebuah kegagalan dalam kesempurnaan riset. Tapi dalam hikayat ini, bukan Tuhan salah dalam pengabulan doanya atau dalam pembuatan paruh emasnya. Tapi dalam keinginan si burung, keinginan yang salah. Pada kepakkan berikutnya, mulai terasa aneh, berikutnya berat, lalu lebih berat, kemudian sangat berat. Melesatlah ia secepat kilat, bukan lagi untuk menjilat tanah yang tak liat. Kali ini, lesatan yang membawanya pada kematian, menghempaskan dia ke tanah yang tak liat. Duaaaaaar, lebih keras dari ledakan Boeing yang hilang ­lost contact dari radar. Hancur dia, tidak mati. Paruh emasnya tak apa. Tapi tulangnya remuk. Sayapnya patah, hanya satu memang, tapi itu memalukan, burung macam apa yang mampu menanggung gunjingan “burung bersayap satu”? Kaki-kakinya pincang, meringkih kesakitan jika dipaksakan merangkak. Dadanya hancur tak mungkin lagi dibusungkan, porak poranda. Kalau aku jadi dia, mungkin lebih memilih mati. Dan apada akhirnya, dia tidak mati. Tidak bisa mati. Kenapa? Karena dia telah berjanji tidak akan lagi meminta, tidak perlu lagi dikabulkan doanya. Maka apapun keinginanya, meski keinginan untuk mati, percobaan bunuh diri, dia tidak bisa mati. Tragis, ironis. Kalian bisa bayangkan bagaimana hidupnya. Begitulah sebuah hikayat.

Hidup, adalah sebuah hikayat. Dan taukah kita apakah hikayat itu? Apakah arti hidup itu? Kita tidak akan pernah tau, sebelum Yang Maha Tahu mengijinkan kita untuk tau. Maka saya yakin, kalian tak perlu konklusi atau hikmah dari saya. Saya yakin kalian bisa mengaitkannya sendiri, dengan kehidupan kalian. Dengan kepemimpinan? Dengan kehidupan organisasi? Dengan kehidupan pergerakan? Dengan kehidupan politik? Dengan kekuasaan? Dengan kehidupan rohani? Dengan apa-apa yang tidak hidup? Dan dengan nurani kalian, jika kalian dan saya, bisa membedakan yang mana nurani – Qolbu kata Rasul – mana nafsu.

Hidup, adalah sebuah hikayat. Dan taukah kita apakah hikayat itu? Apakah arti hidup itu? Kita tidak akan pernah tau, sebelum Yang Maha Tahu mengijinkan kita untuk tau.

Hidup, adalah sebuah hikayat. Dan taukah kita apakah hikayat itu? Apakah arti hidup itu?

Hidup, adalah sebuah hikayat. Dan taukah kita apakah hikayat itu?

Hidup, adalah sebuah hikayat.

Hidup,

Hidup

Hi…

H..

Adi Sutakwa

20130217 0226

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s