Lahir di Nusantara, Mental Adu Domba


edukasi4all.blogspot.com
edukasi4all.blogspot.com

Ada sebuah cerita yang lucu, baru saja saya sadur dari pengalaman pribadi – dan kompilasi dengan pengalaman orang lain. Sebenarnya ini bukan cerita sih tapi sebuah keprihatinan akan kenyataan tak tertahan melihat kondisi yang kami alami.

Cukup panjang, bermula pada niat dan sikap saya untuk merubah sedikit aja tradisi di lingkungan multiorganisasi. Dalam interaksi ‘antar organisasi, tentu suatu kali akan ada realisasi program kerja yang mesti dinyatakan, nah biasanya dibuka semacam open recruitment untuk menghimpun massa demi kesuksesan kegiatan yang menjadi implementasi tujuan.

Pada ranah nyata, setiap pendaftaran pada sebuah open recruitment kepanitiaan, berarti sebuah keterterimaan menjadi panitia. Ini sedikit banyak mengusik organ pikir saya yang selalu mengaharapkan kesempurnaan. Tentulah tidak akan sempurna jika semua yang mendaftar diterima menjadi panitia, karena orang-orang aneh yang hobi meracau akan berkicau dan mengacau.

Dari terusiknya sistem logika saya ini, maka saya berikrar untuk mencipta sebuah warisan tradisi baru, pendaftar belum tentu terpilih. Dan saat ini benar-benar saya paksakan sistem ini dalam sebuah kekuasaan yang  saya mempunya kuasa di dalamnya. Saya menerapkan sebuah cara seleksi aneh dan ekstrim bahkan alay oleh sebagian pihak di tempat saya ini – padahal sistem macam ini lazim saja digunakan di organisasi lain yang saya tahu. Ya, tempat saya sekarang, seolah menjadi dogma yang tak tercerahkan oleh keberadaban teori idealitas.

Sebagai fitur pendukung idealitas gagasan saya, maka open recruitment kepanitiaan saya juga menggunakan cara yang sedikit berbeda yang belum pernah digunakan di tempat yang gelap ini. Pendaftaran online. Sederhana, hanya mengisi blanko-blanko seperti di forum-forum biasa. Dengan alibi paperless yang saya andalkan sebagai dasar pikirnya, saya kira akan menjadi lancar saja ibarat Rally Dakar yang lintasannya sangat luas, seolah tak ada kendala. Tenyata, terjadi hal yang lucu, sangat lucu, dan jika dicermati. Menjadi sebuah keprihatinan, ironi.

Sejak alam ada sentimen miring yang beredar diantara organisasi, hal biasa. Inilah dinamika, yang bodoh adalah ketika pelaku sentimen menjadikan rutinitas menghujat dan berdebat sebagai sebuah kesenangan dan kepuasan. Seperti sebuah pertandingan yang mesti ada menang dan kalah. Bagi saya hal seperti ini adalah hal bodoh. Membincangkan hal-hal remeh temeh, mendebatkan kebenaran yang telas jelas, mengungkit kesalahan yang sudah diperbaiki, dan berbicara bukan bertindak memperbaiki.

Bodoh, karena saya ingat petuah Darwis Tere Liye, “Kau tahu, Nak, hanya orang2 munafiklah yang sibuk mempertentangkan sesuatu;memperdebatkan hal yang sudah jelas; mengarang pertanyaan atas hal yang tidak perlu dipertanyakan atau dikomentari lagi, dan mencari2 alasan atas nasehat yang sudah terang benderang. Menyenangkan memang melakukannya. Bersilat lidah. Bicara seolah pintar sekali tapi kosong. Tapi lama-lama kau akan kehilangan pintu hati yang lapang menerima nasehat. Cam-kan itu baik-baik.”

Dia, yang sedari tadi saya sebut bodoh, menulisakan nama dan data pribadi orang lain di formulir online saya. Dua kali. Hahaha, sepertinya dia malu? Malu pada diri sendiri hingga tak berani menulis nama dan data diri? Atau takut? Takut pada diri sendiri, karena tidak mampu bersikap, bersifat, dan bertindak seperti orang yang dia tiru. Sebenarnya ini tidak terlalu saya ambil pusing. Saya tidak marah atau apapun, tapi ada sebuah rasa yang mengganggu hati. Rasa prihatin.

Sedah sekian lama kemerdekaan de yure dicapai – bagi saya kemerdekaan ini belum de facto – namun bibit-bibit pengkhianat masih saja tumbuh di negeri yang tak berdosa ini. Ingat bagaimana diceritakan dalam buku-buku sejarah, bahwa kerajaan-kerajaan di seluruh nusantara hancur lebur karena satu strategi sederhana, namun menjijikan. Adu domba.

Para Belanda ini merekrut putra-putri bangsa yang kelaparan – lapar akan makan dan uang – untuk melakukan rencana sederhana, menyusup, menjadi pengkhianat, demi keterciptaan politik adu domba yang menjijikan itu. Kakak saya pernah membahas dengan pasuka Marsose, patih-patih pengkhianat, prajurit-prajurit pengkhianat, dan bahkan raja-raja pengkhianat. Sebenarnya bangsa ini tidak dijajah selama 350 tahun, tapi pengkhianat-pengkhianat inilah yang makan bangkai saudara-saudaranya sendiri. Demi neraka yang kini mereka nantikan dari kubangan sempit tanah pekuburan.

Lantas apa bedanya dengan makhluk tak bernama yang saya temukan ini? Dia juga pengkhianat, dia juga mengadu domba, dia juga menanti neraka dalam kesendiriannya akan pengakuan dunia. Bagiku, dia seperti seorang yang kesepian, tidak ada yang mau mengakuinya, tidak ada yang mengakui kemampuannya. Mungkin bukan salahnya, tapi bisa juga itu salahnya, yang tidak mau mengakui kekurangan diri dan berintrospeksi. Ironi di atas ironi. Bahkan dirinya sendiri tidak mau mengakui dirinya sendiri.

Saya prihatin, tapi tak ada yang bisa saya lakukan, saya tidak tahu siapa dia, saya hanya bisa menasehati dia lewat paragraf-paragraf kasar ini – jika dia membacanya. Apakah makhluk macam ini diciptakan oleh sejarah, oleh Belanda? Tidak. Makhluk seperti ini telah ada sejak dulu, sebelum Belanda datang, berbagai pengkhiatan diantara kerajaan. Mendarah daging, menjadi makhluk-makhluk  macam ini. Salah siapa? Apakah salah Qabil anak Adam?

Mental menyalahkan inilah yang akan membentuk kita semakin mendekati sifat dan sikap makhluk ini. Jadi jangan salahkan siapapun, ini bukan salah siapapun. Katakan saja ini sebuah rumus-rumus dunia yang indah, yang diciptakan oleh Sang Maha Pencipta. Ya, ini hanyalah hukum sebab akibat, ini sunatullah, dan pada setiap masa akan selalu ada hal/makhluk macam ini. Maka mari persiapkan diri, perbaiki diri. Menjadi pribadi paripurna, menjadi pribadi Indonesia. Mari menjadi Indonesia yang Indonesia.

Adi Sutakwa

20130220

Dalam beranda dan dalam lucu

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s