Mendebat Argumentasi : Harusnya Birokrasi Dipahami Bukan Dikutuki


ulfahsoftskill.blogspot.com
ulfahsoftskill.blogspot.com

Sebelum disumpah menjadi pengurus salah satu organisasi yang berorientasi pada inti-inti ACTIVE , saya agak kaget ketika diberikan materi tentang birokrasi. Tentu bagi saya yang kerap mengkritik pemerintah dan jajaran pegawainya, sangat asing dengan kata damai pada birokrasi, apalagi beberapa kali dihadapkan bahkan ditabrakkan dengan dissatisfication pada public service. Setelah diolah dalam ruang imaji, memang membosankan bekerja dalam fokus pelayanan publik sebagai tujuan utama, itu alasan saya menolak ‘paksaan’ ibu untuk masuk fakultas keguruan saat kuliah.

Namun, sekalipun hal itu tidak dapat mendukung antitesis untuk melawan rasa geram saya pada birokrasi. Ketika dikhususkan bahasannya pada ranah organisasi, apalagi di kampus tempat saya berguru, ini termasuk bahasan yang agak sensitif. Beberapa tahun berlalu kampus ini terkenal sebagai kampus termurah sedunia, namun sekarang tidak lagi, berkat kegegabahan aplikasi UKT untuk mahasiswa baru. Sebelum ada keijakan inipun, dana pengembangan kemahasiswaan saya nilai masih sangat minim dan tidak pernah penuh. Kala itu masih terbantu dengan dana IOM, kini lebih parah dan entah dimana transparansinya.

Beberapa minggu lalu sempat bergema dalam deras hujan, aksi oleh lembaga agen of control terkait UKT yang kian abu-abu warnanya. Tidak saya sikapi dengan skeptis, ini adalah langkah yang benar, namun belum tepat. Agak sumbang dan terkesan pecah saat di salah satu majalah lembaga pers internal kampus tertulis dengan huruf tebal mengatakan beberapa komponen gabungan mengundurkan diri sebelum aksi dilakukan. Kampus ini, mulai gagap pergerakan, mungkin dalam masa transisi, asalkan kegagapan ini tidak menjelma menjadi individualitas yang mengoyak Tri Dharma Perguruan Tinggi, seperti beberapa oknum yang telah saya saksikan secara nyata.

Dalam dunia kampus, tentu keterwakilan publik secara mayoritas dapat dikatakan sebagai mahasiswa, atau bisa juga disebut organisasi mahasiswa. Dan yang saya amati, terjadi dikotomi secara tidak sengaja antara mahasiswa/organisasi mahasiswadengan birokrasi/dekanat/rektorat/dan tempat-tempat pelayanan publik lainnya di dalam kampus. Contoh saja, aksi dan opini publik terhadap birokransi kampus umumnya menggambarkan kekecewaan – yang timbul dari kepasrahan.

Untuk kampus ini yang masih cukup muda, bahkan belum genap 40 tahun, mungkin dapat dimaklumi jika belum banyak yang fenomenal, filosofis, dan revolutif. Ikatan alumni saja baru tahun ini ada gedung khusus di lingkungan kampus, bentuknya belum BHMN macam dua BHMN yang menjadi role model di belahan tanah Jawa bagian barat. Jika tahun ini telah diresmikan 5 gedung baru, ditambah gedung IKA sebagai center of alumni agaknya cukup dapat dijadikan sentaja propaganda untuk menarik berbagai investor, sehingga mungkin pada umur 40 tahun nanti, dapat menjadi BHMN dan tentu saja perbaikan dalam pelayanan publik. Mungkin dan semoga, pepatah life begin at forty dapat menjadi pelecut revolusi yang menjadi dambaan.

Kembali Pada Hakikat

Kita – organisasi mahasiswa – memang belum bisa mandiri tanpa kucuran uang dalam negeri – uang universitas. Alumni belum sekuat UI atau ITB, atau mungkin universitas-nya sendiri yang belum mau menguatkan, merangkul, dan menggaet alumni sebagai salah satu komponen utama. Meski ada stu dua fakultas yang sangat go national dalam hal alumni – alumni fakultas tehnik – hal ini tidak dapat dijadikan justifikasi atau malah sebagai ajang berpuas diri dalam kerangka hubungan dengan alumni.

Di UI dan ITB, alumni bahkan menjadi penyokong utama berbagai kegiatan kemahasiswaan, membangun berbagai fasilitas, dan menyediakan link untuk lulusan baru yang membutuhkan informasi pekerjaan. Meski kadang dinilai sarat nuansa politis – bagi alumni yang berkecimpung di dunia politik – namun ini dapat menjadi bukti bahwa di dua kampus itu, kekerabatan dan kekeluargaan menjadi bangunan utama yang mendukung keberlangsungan edukasi organisasi.

Pernah sebuah cerita di tuturkan pada saya yang kala itu sowan ke tanah penuh danau itu. Di sebuah fakultas, akan diadakan orientasi mahasiswa baru, kegiatan ini umumnya diserahkan ke BEM sebagai lembaga pengelola urusan fakultas. Kala itu jajaran dekanat melarang diadakan orientasi seperti tahun-tahun sebelumnya, karena sedang booming issue tentang perploncoan di lingkungan perguruan tinggi yang memakan korban nyawa.

Tentu BEM dan seluruh mahasiswa meradang dengan kebijakan ini, mereka memberiontak dan memaksa untuk tetap melakukan kegitan itu. Dengan suatu jaminan yang membuat saya merinding saat diceritakan, ketua BEM dan jajaran presidium BEM berani di DO (Drop Out) jika saat pelaksanaan ospek terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan masalah ini, dekanan tidak mau membiayai kegiatan itu, namun pada akhirnya dapat berjalan dengan bantuan dari alumni, bahkan dikatakan sukses. Tidak ada masalah apapun.

Pada muaranya, dekanat ikut senang dengan hal ini dan paska acara mencairkan nominal lebih dari 10 juta untuk diberikan pada BEM sebagai ganti rugi kegitan. Namun dengan cara yang lebih keren, BEM menolak uang itu dan mengembalikannya dengan cara yang baik. Bayangkan opini apa yang berkembang di kalangan mahasiswa baru pada khususnya dan di seluruh kampus pada umumnya. Langkah yang revolusif untuk melumat pandangan skeptis mengenai pembinaan mahasiswa baru. Di kampus ini, bisakah? Jangan harap – untuk sekarang. Salah satu BEM saja dibekukan karena melakukan sesuatu yang dianggap mengancam kebijakan dekanat. Disini, powerless. Disana, bahkan BEM dan mahasiswa bisa menurunkan rektor, ingat dan baca berita konflik di akhir 2011.

Dengan cerita ini, maka semestinya kita kembali memahami birokrasi. Mulai dari asal katanya, birokasi, bureaucracy is a system of controlling and managing a country, company or organization that is operated by a large number of officials who are employed to follow the rules carefully, begitu dijelaskan oleh Cambridge Advanced Learner Dictionary. Jika dipahami kata per kata maka bureau berarti pemerintahan dan cratia berarti meja. Sudah semestinya ini menjadi sistem ‘dari meja ke meja’ yang tertib dan teratur. Birokrasi dengan segala alur panjang dan detilnya, secara teori bertujuan untuk meniadakan korupsi, karena alur yang sangat terpisah tidak memungkinkan terjadinya ketidakjelasan proses atau biasa disebut corrupt.

Namun, justru dengan sistem ini, korupsi semakin dirancang dengan seksama dan tersembunyi. Hingga sistem yang jelas arahnya pun diakali dengan jurus KKN yang sakti. Ya, saya kira apapun sistemnya bukan untuk disalahkan, tapi untuk dijalankan dengan benar dan baik. Maka sebagai agent of control, mampukan kita mengontrol diri menjadi pribadi yang taat birokrasi? Atau malah mengakali birokrasi? Sudah saatnya bertindak dengan perenungan, organisasi mahasiswa dibiayai birokrasi maka mau tidak mau, kita harus mengatakan bureaucracy is the best. Tidak ada pilihan lain, kalau mau tetap hidup.

Dan ketika kita tidak mau dan tidak mampu bersikap sesuai kebijakan birokasi, maka lihat, cermati. Barangkali kita yang sering demo menggantung pocong bertuliskan koruptor, kita yang sering membakar patung tikus raksasa berkacamata, justru telah bertindak korup, rusak, menyeleweng, terhadap aturan birokrasi. Barangkali, kitalah yang korupsi. ?

Adi Sutakwa

2013 03 14

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s