La Tahzan, Innallaha Ma’ana


lastoadri.tumblr.com
lastoadri.tumblr.com

Ketika berkawan dengan kesibukan, selalu terlintas keraguan dan beragam tanda tanya. Sudahkan ini benar? Bahkan dalam salatpun, ini terjadi. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membuat kita terjaga dari lelapnya alpa, nyamannya dosa, dan nikmatnya kebodohan. Jangan kita salat dengan cara nenek moyang, diajarkan saat kecil, hingga dewasa masih saja sama, bukan berarti menyalahkan. Tapi cobalah berislam bukan karena keturunan, cobalah berislam dengan kaffah mulai dari pertanyaan kecil. Sudah benarkah islam saya?

Sungguh, kekata ini telah menjadi salah satu mantra terkuat sepanjang zaman. Bak sihir yang mampu menceraikan suami istri, maka mantra ini mampu melumat rasa takut dan keragu-raguan. Lebih lagi ketika membayangkan kondisi Abu Bakar dan Gua yang bersejarah itu. Bahkan kala itu Abu Bakar sudah merasakan takut di sekujur tubuhnya, dan rasa sakit merambat melalui kakinya. Sungguh, bagi orang-orang yang berpikir, banyak hikmah yang dibukakan, pemahaman yang mencucurkan air mata. Maka benar kala Rasul bersabda jika kita mengetahui, niscaya kita akan lebih banyak menangis.

Ingat kembali cerita yang telah dituturkan ustadz-ustadz saya kala SD, cerita yang diceritakan dimanapun tidak akan berubah. Garis besarnya sama, bedanya satu. Kala itu saya masih kecil dan belum mengetahui, kina saya lebih besar dari saat itu, dan sedikit mengetahui. Maka baru saya sadar, bahwa cerita itu sangat dalam, cerita yang tidak hanya bercerita, tapi mencipta sebuah ketakjuban terhadap sikap. Sikap Abu Bakar dan Rasulullah dalam menghadapi sesuatu.

Abu Bakar, yang tidak mengizinkan Rasulullah masuk kecuali setelah dia melihat dengan seksama, membersihkan, dan mengamankan seisi gua. Abu Bakar yang merelakan pangkuannya sebagai penyangga tidur Sang Pembawa Berita Gembira. Abu Bakar yang menahan sakit tak terperi menggerogoti kakinya. Abu Bakar yang tak tega menggerakkan tubuhnya karena segan membangunkan Sang Pengemban Rohmatan ‘lil Alam. Abu Bakar yang hingga menangis menitikkan air mata kelembutan ke wajah Manusia Paling Rupawan. Abu Bakar yang setia, melindungi, mendampingi kemanapun Rasulullah melangkah. Sungguh, hanya bagi yang mengerti yang mampu mengambil ibroh dari untaian sejarah indah tata laku ummat Islam ini.

Waktu terasa berharga, sangat berharga kala kita lupa, kata seorang kakak. Maka ketika waktu telah menelan hati dan pikiran. Berhentilah. Jangan sampai kesibukan semu merenggut iman yang tak ternilai ini. Sungguh, Iman (keyakinan) adalah kunci, untuk membuka semua gerbang abu-abu, hingga kita dapat benar-benar membedakan mana hitam dan putih, sungguh, Iman ini sangat berat. Hingga yang merasa ringan dengan iman ini tentulah dia tidak mengerti atau mungkin tidak memahami iman. Sungguh, relakan semua, ikhlaskan semuanya, asalkan iman masih ada. Kita tetap hidup sebagai khalifah, karena iman-lah yang membuat kita dapat memimpin, setidaknya memimpin diri ini. Insya Allah…

Maka saya telah ditegur dengan keras. Merasuk ke dalam hati dan perasaan. Mari menata hati – kata seorang kakak yang lain. Sudah saatnya hati ini disiram, dengan air keimanan. Dipupuk, dengan pupuk ketakwaan. Disinari, dengan sinar taufik, hikmah, dan hidayah.

La Tahzan, Innallaha Ma’ana

20130322

Adi Sutakwa, dalam tangis

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s