Merangkai Pecahan Kaca #1 : Nationalism


123rf.com
123rf.com

Siang itu hawa agak panas menyengat, suasana penuh sesak tegang meregang. Puluhan tamu dari luar tanah Pakubuwono menyerbu lapangan militer yang kalah megah dari Solo Square. Ada raut kecewa, ada wajah marah, ada sentimen pengacau semangat. Semua melebur menjadi dinamika dalam kebisuan komunika. Mereka sempat kalah sebelum perang pecah, mereka adek-adekku yang cukup kaget dengan reaksi kontradiktif.

Makan siang tak seramah perjamuan yang nyaman, appetizer-nya tidak cukup menggoda. Beberapa jam terasa berat dan penuh kekecewaan, komplain membanjiri ranah konsentrasi, memenuhi ruang solusi, dan menggagahi kesalahan persepsi. Mereka – adek-adekku ­– hampir kalah. Bahkan belum setengah babak. Dalam posisi seperti ini, aku lebih suka mengamati. Melihat mereka beranjak dewasa, bermandikan masalah dan kendala, tekanan dan hujatan, pesimisme dan tanpa harapan. Ha, seperti melihat seseorang.

Menjelang ramahnya matahari, kala warna oranye mendominasi, suhu cukup bersahabat. Agak sedikit berdebat dengan tata tertib yang beberapa jam kemudian akan dilupakan, seperti biasanya aku yang tidak sabaran mengambil alih opini dan keputusan. Hahaha, seperti itulah. Dulu mungkin aku sangat bersemangat mendebat kesalahan satu dua kata, tapi kini capek juga mengurusi hal-hal yang tak begitu signifikan. Kita harus level up kawan.

Yah, lagi-lagi genre tulisan ini cerita lepas. Beberapa hari terakhir aku memang merisaukan ilmu. Banyak yang kudapat dan sedikit yang kusedekahkan. Nah, paling tidak beberapa tulisan ini akan jadi bagian dari sedekah-sedekahku yang rutin. Tulisan dan simpulan tentang beragam ilmu yang ku dapat. Dalam tulisan ini, khusus akan membahas materi pertama dari Pak Komandan Korem yang muda. Sosok berbeda yang memang terasa berbeda saat pertama  kali tampil di depan kami.

Sesuai judulnya dan asalnya, tentu materi ini akan membahas nasionalisme. Pada beberapa kegiatan di korem, materi ini dinamakan wawasan kebangsaan. Namun kali ini beda, disampaikan oleh seorang magister sekaligus prajurit. Sebuah simbol yang tidak semua orang dapat meraihnya. Mulyo Aji namanya, komandan yang baru menjabat empat bulan ini terlihat pintar dengan kacamatanya, terlihat kuat dengan postur tubuhnya, terlihat prepared dengan slide presentasinya. Elegan, sederhana.

Lalu, kami masuk kesebuah ruangan ber-AC. Dalam imajiku, ini adalah ruangan konsolidasi tingkat tinggi. Di badan dinding berbaris wajah-wajah asing bermandikan lencana, pangkat. Wajah-wajah prajurit berjajar dengan coretan khas, coretan lukisan, bukan foto murahan yang saat in dapat kita peroleh dimana saja. Tempat duduknya saling berhadapan, membuat mereka yang duduk disitu tak dapat mengalihkan pandangan sebagai alibi ketika terpojok dalam kesalahan. Ruangan yang dirancang untuk pertemuan penting, darurat bahkan. Pertemuan untuk menentukan masa depan bangsa, selanjutnya.

Dan benar saja, berpuluh-puluh slide  memberikan kami pandangan baru mengenai bangsa ini. Indonesia itu apa, Indonesia itu siapa. Kurasa kalian semua telah mampu menyimpulkannya. Kita itu apa, kita itu siapa. Kuyakin kalian telah cukup dewasa untuk menyikapi berbagai kekeliruan persepsi. Teori singkat yang pernah kubaca di sudut surat pemberita, adalah behaviour intelligence. Kurang lebih koheren dengan ungkapan; sebagai pemimpin, hadapilah masalah dengan logika, tapi hadapilah manusia dengan perasaan.

Washington Post pernah menyebut SBY sebagai the only thinker in ABRI – kala itu belum disebut TNI. Sebuah penghargaan bagi seorang prajurit kelas tinggi yang mampu menjadi seorang pembelajar sejati. Kembali pada materi, di slide itu banyak gambar yang tak pernah dan tak akan pernah kami lihat di kaca televisi. Berbagai kekerasan, sisi menjijikan, bagian-bagian mengenaskan, dan beberapa sangat memilukan. Itukah Indonesia kita?  Tanah yang katanya dapat menumbuhkan kayu, tanah yang lautannya dikatakan kolam susu. Tanah itukah?

Diperlihatkan pada kami jajaran periode, dari kerajaan, kebangkitan, kemerdekaan, orde lama, orde baru, reformasi, dan saat ini. Gambar-gambar itu, sungguh tak pernah kami nyana, Indonesia yang ramahnya sangat kental, ternyata banal. Tidak seluruhnya memang, tapi cukup membuat kami menutup mata tak mau dan tak mampu mencermati gambar-gambar banal itu. Hampir-hampir saja kami muntah.

Pak Magister ini benar-benar pandai memainkan emosi penonton. Film – ppt – garapannya terintegrasi dengan sempurna. Menjadi mozaik yang menakjubkan, paduan makna lewat tulisan, ironi lewat gambar, dan simfoni lewat deruman nada penggugah nurani, memporakporandakan konstelasi kesombongan dan keangkuhan, kekecewaan dan kemarahan. Melebur menjadi satu tetes, tangis. Benar, jujur, beberapa kali kupandangi sekeliling. Raut sedih dan haru membasahi suasanu dingin ruangan, dingin jadi hangat karena emosi.

Dan di akhir presentasi, beberapa tertangkap kamera syahdu menyeka tetes-tetes air mata. Bukan cengeng, tapi sebuah bukti. Bukti bahwa sejatinya kami Indonesia bukan kalangan banal dan kasar. Bukti bahwa hati ini lembut dan menangis kala saudara satu nusantara berdarah hingga kehilangan nyawa. Bukti bahwa jiwa ini meronta tersiksa sungguh ingin turun memapah raga-raga yang lemah tak bersalah, raga-raga berdarah karena marah yang menjadi amarah. Sungguh, hati ini tersentuh. Bukti bahwa kami semua adalah, Indonesia.

Maka hati yang meronta itu tergambar nyata di antara puluhan acung tangan penuh tanya. Diantara riuh mata perubahan yang siap menjawab beragam permasalahan bangsa. Itulah yang sedari tadi kami tunggu, itulah yang sedari tadi adek-adek saya harap. Orang-orang nasional dengan sikap nasional. Kawan-kawan seperjuangan dengan tegap bak pejuang. Saudara-saudara setanah sepenanggungan dengan tekad membawa perbaikan, meramu pembaruan, dan menyatakan mimpi-mimpi para pahlawan. Kemerdekaan, kemerdekaan yang hakiki. Untuk Indonesia yang harus meng-Indonesia.

Adi Sutakwa, bersama bulewood di ruang yang tidak pernah mati lampu
20130404

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s