Konstantinopel : Peradaban yang Dijanjijkan


harisparadise.wordpress.com
harisparadise.wordpress.com

Sejarah telah membuatku bangkit menuju antusiasme tanpa henti. Membacanya menuntunku pada imaji berat yang membuatku selalu iri untuk merasakan hidup di zaman itu, zaman Muhammad Al Fatih.

Muhammad, orang paling berpengaruh di dunia ini telah mewasiatkan, bahwa 700 tahun kemudian akan ada sebuah pemimpin terbaik sebagai sebaik-baiknya pemimpin dan pasukan terbaik sebaik-baiknya pasukan yang akan merobohkan dinding Konstantinopel yang tidak pernah tembus selama berabad-abad. Dan nyatalah sabda tersebut, ketika tahun 1453 menjadi tahun yang selalu diidam-idamkan para pemuda muslim saat ini untuk kembali terulang. Tahun dimana kekhilafahan benar-benar menyentuh dan merombak peradaban dunia. Tahun dimana Islam menjadi kiblat bangsa-bangsa Eropa, hingga para putri raja Eropa yang saat itu tidak beragama muslim pun menganut tren peradaban Islam, bercadar.

Kini Konstantinopel telah hilang, namanya berubah menjadi Turki, namun jejak peradaban Islam yang mahsyur itu tidak hilang ditelan zaman. Turki, tetap menjadi destinasi utama bagi mereka yang ingin sejenak memajamkan mata, menajamkan aroma kejayaan masa lampau, membayangkan kampung madani yang disabdakan sang Nabi, menumbuhkan lagi ghirah kekhilafahan saat itu, yang hingga kini masih tetap menjadi api pembakar semangat, untuk dinyatakan bukan sekedar angan-angan.

Meski bukan seluruhnya, tapi Turki adalah pecahan terbesar dari kota yang pernah menjadi rujukan perkembangan peradaban dunia. Ingin rasanya menghirup udara di selat Bosporus yang dahulu sempat memaksa pasukan Sultan melayarkan 70 kapalnya sejauh 5 km menyusuri daratan dalam satu malam, demi melenggang mengangkangi rantai-rantai besar penghalang kemenangan. Ingin rasanya mengelus meriam raksasa yang menggagahi benteng sombong yang dibangun para Konstantinus. Ingin rasanya memejam diujung pantai Tanduk Emas yang dahulu berhadapan langsung dengan kapal-kapal sang Sultan, mengepung garang Konstantinopel yang mulai ketakutan. Ingin rasanya mencermati lukisan-lukisan megah yang menjadi detil penaklukan fenomenal itu. Konstantinopel, adalah sejarah yang tidak akan pernah menjadi sejarah. Sejarah yang terus hidup bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan Muhamad adalah sebenar-benarnya Rasul Allah.

Menyelami penaklukan itu lewat berbagai buku keramat dari beragam penuturan, membuatku semakin kesulitan menahan aroma Konstantinopel yang megah. Bagaimana tidak? Meski berbeda penuturan, inti dan sarinya tetap satu menyatu, bahwa paska penaklukan itu, Islam menjadi kiblat peradaban, beragam ilmu lahir dari “Konstantinopel Baru”, segala lini dibanjiri oleh kemajuan Islam yang mendunia, saat itu Islam benar-benar menjadi Khilafah fil Ard’.

Aku ingin melihat dan merasa, bagaimana sultan berumur 19 tahun yang tidak pernah ditakuti siapapun saat pengangkatannya, menjadi ancaman bagi seluruh dunia, hanya dalam waktu dua tahun. Sultan yang mampu membangun peradaban beradab yang menghormati setiap kepercayaan, hingga saat itu gereja-gereja ortodoks tetap tegak berdiri menghiasi Istanbul yang megah. Benar, saat ini semua orang lebih mengenalnya dengan sebutan Istanbul.

Dan di kota itu, masih ada satu warisan yang kuat menarik hati. Pedang Rasul Allah. Tersimpan aman di kota yang dijanjikan. Di masjid biru yang bernama Istana Topkapi, berarti Gerbang Meriam, karya megah kesultanan Ustmani ini hingga saat ini masih menaungi warisan nyata sang Rasulullah, tersimpan di ruang Relikui Suci, di sanalah dapat dijumpai tempat kohl (celak) milik Rasulullah, jejak kaki Rasulullah, pedang, jubah, hingga rambut Rasulullah. Kapan aku kesana? Sudah tak terbendung rasanya, bercengkrama dengan sejarah yang tidak pernah menjadi sejarah. Konstantinopel.

Di belahan turki yang lain, Edirne, berdiri sebuah masjid yang dibangun oleh para suksesi sultan Al Fatih. Selimiye, masjid dengan arsitektur mega indah yang hingga saat ini diakui selur dunia, menjadi bukti bahwa peradaban memang telah lahir di bumi Allah yang teduh dinaungi cahaya Islam. Dunia mengakui ini sebagai situs warisan UNESCO pada tahun 2011. Berkubah gagah dilindungi empat menara yang indah, Selemiye akan menjadi pelengkap impianku, di Turki. Istanbul, Konstantinopel.

Aku tidak lagi menunggu, Konstantinopel menungguku untuk menyaring sesari sejarah dan peradaban Islam. Membawaku pada aroma kepemimpinan yang menggetarkan seluruh dunia, kepemimpinan pemuda berusia 21 tahun. Kepeminpinan terbaik yang merobohkan benteng terbaik. Kepemimpinan yang telah disabdakan. Sabda, adalah kenyataan di masa depan. Dan siapapun akan sepaham, bahwa Muhammad Al Fatih dan Konstantinopel, adalah warisan sabda yang akan terus ada untuk dikaji, dipelajari, dan diteladani, sebagai dasar keterwujudan Khilafah fil Ard’ masa mendatang.

Konstantinopel, aku datang!

Di pagi yang gelap, 130513

Advertisements

2 thoughts on “Konstantinopel : Peradaban yang Dijanjijkan

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s