Melihat Lebih Dalam, Mahasiswa, Pemimpin, dan Teladan


euwomen.wordpress.com
euwomen.wordpress.com

Forum sore itu berangkat dari krisis identitas, yang mungkin lebih tepat disebut sebagai krisis idealitas. Teladan, ketiadaan teladan barangkali telah membuat banyak dari pelaku dakwah ini tidak dituruti oleh objek dakwah.

Tulisan ini dibuat untuk seluruh kekawan PERINTIS yang telah berdarah-darah menyukseskan pra acara, mencari kesana sini tanpa pencerahan dalam kebingungan, ditinggal begitu saja ke medan tanpa alasan yang logis, merapikan segala saat hari H, angkat beban dari Porsima hingga depan BEM-DEMA, ndak tidur nyenyak karena bungkus dan ngeprint parcel, panas-panasan beli snack banyak yang tidak terhabis jua, dan pada hari H, hanya dapat menjadi saksi hiburan. Karena terpaksa menurut pada kekacauan akademik.

Semoga saja, sesari inti ini dapat menjadi ilmu pembuka bagi seluruh kawan yang tidak dapat mengecap diskusi cakap dengan para pembicara hebat, untuk seluruh kawan PERINTIS, terkhusus kawan AGB, karena ISLAM menyatukan kita.

Diskusi saya buka dengan sedikit basa basi biasa, tentang beberapa yang saya baca, tentang apa yang saya lihat. Tentang hilangnya teladan di UNS kampus tempat tinggal kita. Hipotesis saya lontarkan, jawaban taksis saya dapatkan dari dua pembicara ini. Pak Tonang memandang, bahwa sebenarnya, bukan kita kekurangan atau tidak ada teladan,  lingkungan ini sudah cukup kondusif dibandingkan masa lalu yang berbagai kegiatan kajian ilmu dicekal sana sini oleh pimpinan negeri, apalagi kajian keagamaan yang mesti disaksikan oleh rektor untuk mengamankan. Saat ini, sudah banyak bermacam kegiatan yang ultraproduktif menyelimuti kampus ini, hanya saja kita bersama hanya sedikit dan sangat jarang yang mampu menarik satu benang merah diantara berbagai kisah disekitar kita. Banyak teladan , tapi kita tidak mampu mengambil hikmah untuk kemudian dijadikan bahan bakar pewujud himmah (cita-cita) yang lurus, demi kemajuan Islam,kemajuan dunia.

Mas Rachmad Adi menggarisbawahi sisi lain dari bahasan kita tentang teladan. Dikaitkan dengan mahasiswa berprestasi, dia berujar bahwa hirarki riilnya, mahasiswa berprestasi tingkatannya ada di bawah mahasiswa teladan. Bukan karena seseorang menjadi mahasiswa berprestasi lantas dia dapat menjadi teladan dan ikon peradaban. Namun dengan prestasinya, paling tidak dia telah mengubah cara pandang orang lain tentang dirinya, yang otomatis akan tercitrakan secara terang benderang berbagai ciri sifat dan sikap, sehingga dengan berprestasi, ada bagian dirinya yang melangkah mendekati kepribadian teladan.

Dari tumpang tindihnya argumentasi kedua pembicara, menunjukkan bahwa hipotesis yang saya bangun tentang ketiadaan teladan di lingkungan kita terbantahkan. Meski bagi saya, pembinaan dan pengkajian mengenai kepemimpinan tetap penting dalam rangka mempersiapkan pemimpin yang sadar dan mengerti, paham dan peduli, sehingga tingkah dan lakunya dapat diteladani mereka yang terpimpin.

Kemudian pak Tonang sedikit bercerita tentang kondisi dahulu dan sekarang, dikatakan bahwa sekarang pendaftar mawapres selalu ada dan bahkan banyak, sehingga harus diseleksi dengan ketat, tidak seperti zaman dahulu, bahkan ada mawapres fakultas tanpa seleksi dan langsung diajukan ke tingkat univ. Berkaitan dengan kondisi sekarang yang jauh lebih maju daripada dahulu. Kami mencoba menakar kepeminpinan di tangan mahasiswa, terutama pada mawasiswa berprestasi yang telah mandiri secara ilmu, lalu apa lagi yang perlu disiapkan, agar masa depan menganggap kita layak?

Jujur, dan integritas. Itulah inti yang dikemukakan mas Rachmad. Saat ini berbagai berita negatif di media mejadi menu utama informasi kita, korupsi, gas dan minyak, dan kekerasan, semua masih nyaman bertengger di atas pola pikir kita. Butuh sebuah jalan yang dibuka dan dipimpin oleh seoorang pemimpinberintegritas dan jujur, karena amanah adalah sesuatu yang sangat menggiurkan lebih dari harta dan wanita. Tetapi tanpa integritas, jabatan dan kekuatan hanyalah debu yang menyelimuti jendela usang pola pikir kita.

Pak Tonang mengembalikan pada idealitas seorang pemimpin. Katanya, tentu kita semua telah sepakat bahwa Rasulullah ada sosok pemimpin yang paling ideal. Dengan itu maka tugas kita sekarang adalah menempa keilmuan dan keshalihan di lingkungan kampus, agar nantinya ketika kepemimpinan memanggil,kita telah siap dengan segala bekal yang cukup untuk menjadi pemimpin negeri ini.

Pada bahasan selanjutnya, kami sedikit menyenggol ranah politik, beberapa kali nama parpol dan nama cagub terlontar. Ada sebuah pertanyaan dari audience tentang parpol yang berorientasi pada islam, dikatakan bahwa orang-orang pada parpol tersebut hanya memakai kedok agama untuk mendapat simpati jamaah. Dokter Tonang tidak sependapat dengan anggapan ini dan menjawab bahwa kita tetap butuh parpol dengan dasar Islam, entah didalamnya berisi orang jahat atau orang baik, kita harus tetap berkhusnudzon bahwa mereka yang berdasar Islam pastilah juga memperjuangkan keislaman mereka.

Lalu kami kembali ke ranah kepemimpinan, pertanyaan dari salah satu audience akhwat cukup menantang pak Tonang untuk segera menanggapinya. Mengenai kepemimpinan muslimah, dokter Tonang belum sepakat jika perempuan terjun ke ranah politik atau menjadi pemimpin di ranah politik, menurutnya hal itu tidak sepatutnya dan beliau juga mempertimbangkan banyak hal terutama dari sisi Islam. Namun, beliau sangat sepakat jika para muslimah menjadi number one di berbagai bidang, misalnya menjadi peneliti nomor satu di dunia, menjadi ahli kedokteran nomor satu, ahli psikologi, ahli pertanian, dan pakar-pakar yang lain, dalam rangka mengukuhkan kedudukan muslimah Islam diantara wanita-wanita non Islam.

Mas Rachmad Adi menambahi bahwa bahasan tentang muslimah adalah bahasan yang sangat kompleks, harus dibahas mendalam dalam fiqih tersendiri. Pada intinya mas Rachmad sependapat dengan pak Tonang bahwa muslimah haruslah berada di tempat yang sesuai dan tepat, agar tidak terjadi kesalahpersepsian tentang peran bersama.

Kembali pada tinjauan mahasiswa sebagai pemimpin masa depan, untuk mencapai sisi komplit sebagai pemimpin di masa mendatang, mas Rachmad memberikan konsep jitu bernamakan 5B. Belajar, berkarya, berprestasi, bermanfaat, dan bermartabat. Sehingga sebagai akademisi kita mampu mengemban tridharma perguruan tinggi dengan baik dan bertanggung jawab. Dengan belajar, kita dapat berkarya yang berimplikasi pada prestasi. Kemudian prestasi ini yang akan di ekselerasikan untuk mengguyur kebermanfaatan untuk seluruh ummat, hingga pada muaranya kita akan menjadi pribadi yang bermartabat.

Dokter Tonang menambahkan bahwa kita mesti membentuk suatu sinergi. Setiap orang dicipta dengan kapasistas berbeda, mereka yang dapat meraih nilai tinggi hanya dengan sedikit belajar, maka jadikanlah merekan pemimpin gerbong, karena dengan kapasitasnya, mereka dapat menampung bermacam ilmu diluar ilmu akademik. Mereka yang mesti butuh banyak tenaga untuk belajar, maka jadikanlah mereka penumpang gerbong. Itu akan membentuk suatu sinergi yang kuat, semua dapat memahami tujuan pokok dan fungsi masing-masing. Sehingga keterjayaan Islam dapat mewujud dalam suatu masa yang nyata, yang dinantikan. Dengan satu bekal, Kepemimpinan yang kuat.

Di pagi yang hangat, 130516

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s