Medan #1


dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi

Kami tiba di tanah Sumatera Utara saat malam mulai kuat. Setelah sebelumnya melalui first flight yang aneh – dan tidak enak. Ya, ternyata berkendara tanpa roda itu sangat tidak nyaman, pada akhirnya. Telinga serasa ditekan oleh cairan yang padat, tidak bisa dikeluarkan. Perubahan tekanan udara secara, begitu jelas Mas Agus. Kami mengharapkan perjalanan yang tenang setelah hari sebelumnya sangat tidak tenang karena masalah dana. Harga tiket truk terbang – begitu kata Habibie – benar-benar terbang ke puncak saat dibeli tanpa H-1. Yah, kami bukan keluarga Habibie yang dengan mudah mengontak kolega sana-sini untuk mendapat segala dengan mudah, dan murah tentunya. Oke, mungkin lain kali harus kenalan dulu sama presdir Garuda Indonesia. Pertanyaanya, apa kalo naik maskapai termahal di Indonesia itu, juga telinga kita sakit? Apa uang bisa membeli tekanan udara? hahaha

Mari saya ajak kembali ke malam yang mulai kuat di tanah Medan. Singkat cerita, kendaraan beroda ini lebih nayaman, dan mengantarkan kami dengan sajian diskusi kelas aktivis. Saya lupa namanya, tapi ingat dengan jelas saat Sang Supir Taksi memulai percakapan kami semua dengan pembicaraan tentang asal, solo, begitu singkat kami jawab. Dia lalu menari dengan gagasannya membahas Jokowi,tentang kehebatannya memenangkan Jakarta, tentang kesederhanaannya, yang konon tak mau dikawal kemana-mana, katanya, Jokowi itu orang baik. Tidak seperti Soeharto.

Pembicaraan muli panas sekarang, mengingat sejarah dan masa lalu memang seperti mengupas bawang merah. Tiap lapisan terkupas, tiap itu pula bertambah perih mata kita. Dia mengisahkan bahwa presiden terlanggeng di Indonesia itu telah merusak banyak hal, menjual Indonesia. Apa yang disisakan hanyalah kesakitan dan kepalsuan. Jauh dibandingkan Soekarno yang dianggapnya satu-satunya presiden yang paling baik hingga sekarang. Ghibah kami makin merambat, membahas semua presiden setelah Soeharto. Sampai pada giliran SBY untuk diadili dengan hujat keras khas orang medan. “SBY itu membuat banyak keluarga bercerai”, simpulnya berulang kali, banyak masalah saat ini, sembako mahal, bensin mahal, fasilitas tidak mencukupi, banyak PHK, muaranya, istri minta dicerai suami. Anak-anak frustasi, masa depan negeri ini, makin ngeri.

Dibandingkannya dengan masa Soekarno, lebih dalam menyentuh, dia berkisah bahwa dulu ayahnya adalah tentara. Tentara yang baik, tegasnya. Tentara yang hingga akhir hayat tidak melejit jabatannya, tidak menanjak kariernya, tidak sejahtera hidupnya. Dia yakin, dan tahu, bahwa ayahnya adalah tentara yang bersih. Tidak macam tentara saat ini. Tidak macam Soeharto. Berulang kali kekata kasar dan bukan konsumsi anak dibawah 17 tahun terlontar. Pikirku, khas tentara. Keras, menggebu-gebu dari semua panca indranya. Entah, tapi sejenak kami percaya dan mengiyakan brainstorming dari Sang Supir Taksi ini. Kami tidak tau, apakah tiap mengantar anak muda dari luar Sumatera, dia juga membahas tentang negara? Tidak penting, kami tetap menikmati ini sebagai sajian ekstra yang membuat mata melek, setelah perjalanan diatas awan yang tidak nyaman.

Menjelang lokasi, diskusi ditutup dengan isu terbaru mengenai sapi. Ya, kasus suap itu membuat semua orang mau tak mau ikut memperhatikan. Dari sini saya tau, betapa media sangat kuat menguasai opini masyarakat, hingga supir taksi yang saya yakin hanya sempat menonton tv 1-2 jam per hari pun, mau tak mau termakan dan sepaham dengan apa yang dikatakan media. Mengerikan. Beberapa meter menuju penginapan, kami menjernihkan suasana dengan basa basi bertanya tentang anaknya, dia lantas menyebut bilangan 6. Bayak, menurut kami, singkat dia berceritera tentang anak-anaknya yang diharapkannya sukses dan berguna, hidup baik dan benar karena makan dari uang halal.

Yah, romantisme dengan kalangan rumput memang selalu menyentuh. Banyak, sangat, pelajaran yang tidak ada di buku manapun, kompleks, teori dan rumus manapun tidak pas  untuk menyelesaikan algoritmanya. Saya sampai pada pemaknaan, mengurus negara tidaklah semudah debat layar kaca. Apalagi di negara yang terlanjur salah urus. Meski saya tahu, itu semua tidak akan membunuh motivasi mereka para ambisius, dan mereka para tulus, untuk berlomba dalam ajang tanpa medali. Ajang mengurus negeri.

Selamat datang. Dalam hati saya mengumandangkan salam itu. Kami tiba di penginapan. Alhamdulillah. Masih ingat beberapa jam yang lalu ibu memesan saya untuk tidak putus doa dan dzikir di truk terbang, dan sekarang kami telah berhadapan dengan sebentuk kasur yang menggoda. Setelah beberapa saat kemudian kaget dengan sesosok akhwat yang mengetuk pintu kamar, mengantarkan makanan yang belum kami dapat. Akhwat, di jam selarut itu, di malam sekuat itu, mengantarkan tiga bungkus kotak harum nasi selepas kami menegakkan ibadah fardu ‘ain yang belum tertunai. Dan, tidak sampai disitu. Lebih kaget lagi ketika membaca tulisan tebal di punggung jaketnya – tanpa bermaksud memandangi si akhwat, astaghfirullah – bertulis tegas, FSLDK. Oke, cultural shock #1.

Kami menolak tegas godaan sang kasur, dan beralih pada harum mewangi nasi yang selama berjam-jam kami rindui di bandara Ibukota. Mengingat beberapa kawanku bilang, “dibandara semuanya mahal, diatas 30rb. Kalo mau, pop mie aja di pesawat,”, berapa? Kutanya. “lima belas ribu.”. Kami patah hati dan memilih berpuasa tanpa makan sahur. Nasi. Sudah lama kami menunggumu. Dengan sikap lembut dan gentle kami buka tutup nasi kotak itu, harumnya, flavour-nya, membuat iman kami tidak siap, tidak kuat. Oke, cukup ke-alay-annya.

Sekarang makan. Boom! Rasanya meleleh di lidah kami. Tapi, ada yang aneh… lauknya terlihat menggoda, ada berbagai kombinasi sayur dan daging serta warna menyala yang merona. Tidak mungkin. Tidak ada makanan yang sempurna. Insting Sherlock Holmes-ku meladak, ada misteri disini. Segores kupotong si daging, secuil kuambil kuahnya. Dan ternyata… Asiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnn. Gusar aku mencari penawar, ku comot sang sambel dari tempatnya bertengger, berharap mengobati serangan asin mendadak. Dan ternyata… Asin! Asin! Asin! Semuanya Asin. Kecuali nasi dan air putih. Oke, cultural shock #2. Toh, saya tetap menghabiskan sampai tetes terakhir, karena ingat pada cerita Sang Pembawa Berita Gembira dan buah lemon. Semoga ini menyempurnakan sunnah yang diajarkan Sang Pembawa Berita Gembira. (Bersambung…)

20130609

Di pojok

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s