Medan #2


juaIni adalah sekual kedua, setelah part pertama entah mau dinikmati para penikmatnya atau tidak. Karena sudah cukup basi dan mungkin banyak kontaminannya, tidak steril lagi, kalo kata anak pangan. Ha, oke, tidak ada hubungannya. Sekarang, kami masih di medan. Saya, Adi Sutakwa. Dia, Agus Suroso. Dan, Ia, Fajar. Akan menemani anda semua dalam Medan #2, sebuah acara reality show tanpa tangisan termehek-mehek atau tanpa iba jika aku menjadi, dan pasti tanpa nurani seperti acara tolooong.

Hari kedua, kami bangun. Tentu salat subuh tepat waktu. Tapi belum kuceritakan bahwa sebelum tidur, kami terpaksa pindah kamar, ke kamar yang ber-AC, hehe. Entahlah, itu permintaan panitia. sebelum tidur juga kami diharuskan mengikut acara saat itu, presentasi mengenai UKM masing-masing di Aula. Penginapan itu sebuah kompleks yang cukup besar, banyak kamar, sekitar 20-30 kamar, ada lapangan tenis, ada Alua, ruang pertemuan, dan Mushala. Satu kata yang masi teringat, paud. Ya, itu semacam balai pelatihan milik pemerintah, yang hanya boleh dipakai untuk keperluar terkait pendidikan. Di depan persis gerbang masuk penginapan, juga ada taman kanak-kanak yang lebih keren kalo disebut play group sekarang.

Mas Agus melakukan presentasi seperti biasa. Seperti saat nge-banyol dan ice breaking krik-krik bareng adek-adek SIM di aula Porsima. Yah, apa boleh buat, itu sudah kehendak Yang Maha Kuasa. Haha. Tapi kuliat dari raut mereka audience menyiratkan bahwa SIM adalah organisasi dengan sistem kaderisasi yang keren, dan pola pembinaan yang konspiratif, eh, maksud saya konservatif. Yang untuk jadi pengurus dan anggota harus melewati ujian berat dengan tingkat kesulitan maha dahsyat. Lebih berat dari ujian masuk angkatan  militer? Oke, cukup. Kutangkap impresi mereka tentang SIM, banyak dari wajah-wajah itu menyimpan tanya dan kagum, dan dalam hati berteriak. “Tidaaaaaaaaaakkkk… aku salah masuk PT, harusnya aku masuk UNS dan ikut SIM. Ya Allah, jika aku Engkau ijinkan, lahirkan aku kembali dan tempatkan aku di SIM, Amiin Ya Rabb.” Begitu sepertinya doa mereka.

Kamis, sembilan mei dua ribu tiga belas. Tanggal sakral bagi kami. Hari dimana prsentasi akan kami saji di depan para dewan juridi kota dekat Berastagi itu. Setelah semalaman cukup lelah, dan agak tertolong dengan amunisi yang sebelumnya telah kami siapkan di tengah puasa kala di bandara Sang Proklamator, pagi ini kami niatkan untuk 100% menggila. Mencoba berikhtiar dengan salat Dhuha, setelah kembali berhadapan dengan makanan asin yang menyapa pagi. Kami bersandiwara bak drama korea, berulang kali menjajal strategi presentasi untuk meluluhkan hati para juri, berkali kali ganti posisi untuk menyetabilkan emosi dan grogi, dan acap kali menambahkan kombinasi di sela-sela komunikasi pura-pura.

Sejak awal, karya tulis yang kami usulkan tidak diproyeksikan untuk masuk final, apalagi juara. Niat saya – Adi Sutakwa – dan dia – Agus Suroso – hanya untuk memuluskan langkah dan dana dari mawa. Tentu tujuan utama tetaplah partisipasi di forum nasional, ILP2MI. Kongres yang wajib dihadiri oleh semua anggota ILP2MI itu, mesti banyak saya amati, cermati, dan di kritisi demi masa depan SIM juga pada akhirnya.

Yah, kembali pada sandiwara. Apa yang membuat kami begitu menggelora untuk mengasah ketangkasan berbicara, adalah karena nomor undian yang saya ambil seolah menertawakan saya karena tertulis angka 1 (satu). Tapi dengan keren saya berdalih, “Mas, dengan menjadi yang pertama, kita ada melakukan rekayasa mental terhadap juri dan peserta lain. Sehingga mental mereka down dan memilih kita sebagai juara.”. “Oke,”, tandas Mas Agus dengan tidak keren. Fajar tentu tidak begitu mengerti dan peduli tentang percakapan dua orang ini. Hahaha

Tiba pada waktu yang dijanjikan. Di tanah yang dijanjikan – bukan Palestina. Kami bertarung dengan mental sendiri. Menari dengan kata-kata meyakinkan menjelaskan isi dan gagasan Fajar tentang CONGSARAWA. Lima belas menit waktu presentasi berlalu dengan lancar. Datang lima belas menit selanjutnya sesi tanya jawab. Dua juri bergelar tinggi menggagahi kami dengan beragam tanya tidak seragam, mencoba mendorong kami terpeleset dengan argumen kami sendiri. Tapi kami, KEEP CALM and STAY COOL. Menangkis semua serangan mendadak itu. Dengan counter attack kilat, kami melakukan blitzkrieg menggepur sekuat tenaga, dan wawasan, serta sedikit kilah dan gombal. Kami akhirnya berhasil keluar dari kawah candradimuka, lolos dari pukulan juri. Delapan menit tersisa, moderator mengambil alih acara, mempersilahkan penonton fanatik melemparkan mercon berasap dan molotov khas huru hara ke lapangan pertandingan. Dada kami membuncah dibanjiri curiga, “pasti mereka akan menghabisi kita.”. Satu, dua, tiga. Hening menggema. Ternyata penonton belum cukup siap untuk bertanya. Kami lepas dari kandang singa, dan kandang buaya. Presentasi dilanjutkan ke peserta lainnya, hingga selesai pada tim kelima, dan tiba saatnya makan siang. Semoga tidak asin lagi, begitu doa kami.

Selepas itu, sebelum makan siang. Kami semua berfoto bersama. Dengan juri, panitia, dan seluruh peserta. Lalu menuju truk kotak kepunyaan USU, kami melenggang ke arah kampus utama Universitas Sumatera Utara, Medan. Jenji panitia, kami akan dihadirkan ke pameran ilmiah, gelar karya yang di gagas UKM keilmiahan USU. Gelar ini juga termasuk serangkaian agenda Kongres ILP2MI. Di tempat terbuka itu, cukup ramai berjajar karya-karya berbagai UKM USU. Mulai dari UKM kerohanian, hingga robotik. Mulai dari jual gorengan, hingga jersey apik. Cukup lama disitu, hingga kami disuguhi pertunjukan yang tak pernah ada di Taman Budaya Jawa Tengah. Parkour. Khas Perancis dari susunan hurufnya. Dan benar, kala sesi tanya jawab, para pemain juga menjelaskan bahwa parkour berasal dari Perancis. Pertunjukan lugas, pas, dan keren. Mereka berjungkal sana sini melewati tembok dan meja berdiri. Mereka berlari kanan kiri melibas rintangan badan kawan sendiri. Kombinasi diagonal meliuk tajam saling hindar tak bertabrakan. Super sekali – kata Pak Mario.

Sore itu di lengkapi dengan foto-foto di depan rektorat USU, bukan dengan gedungnya. Tapi dengan tiga huruf raksasa, silver menyala berdiri tegak pada tempatnya, disamping kolam melingkar simetris di tengah tanah lapang. U S U. Tiga huruf gagah itu setinggi dua atau tiga meter. Aku yang kurang suka dengan foto-foto, lebih memilih makan sate yang aku bungkus dari pelataran gelar karya tadi. Sate padang. Begitu tertulis di gerobaknya. Bentuknya aneh, tipis, oranye, dan rasanya… bukan asin. Hambar. Oke, cultural shock #3. Ternyata, Indonesia sangat luas. Dan Indonesia bukan Jawa, apalagi Jakarta. Sebelum berjamaah menegakkan maghrib, kami mencicip kolak duren, khas medan. Agak aneh juga, ketika di Solo belum musim duren, di Medan ada duren setiap hari. Rasanya, bukan hambar, bukan asin. Tentu aroma duren tajam menyengat, tapi rasanya, bukan rasa duren. Manisnya dari manis susu, asinnya asin santan. Dan mana rasa durennya???? Hanya ada sedikit pasta tak berbentuk yang saya curigai sebagai duren. Dan rasanya, tidak seperti duren. Oke, aku tertipu, aku terjebak, aku terperangkap muslihatmu – itu lagunya Hello.

Gala Dinner. Megah, mewah, dan metropolis. Itu yang terlintas kala mendengar agenda paska shalat Isya yang dijanjikan panitia. Pada prosesi itu juga akan diumumkan pemenang lomba karya tulis yang dinantikan Fajar. Saya – Adi Sutakwa – dan dia – Agus Suroso – juga sebenarnya. Mewah, dan keren, memang makannya, dan tidak hambar, tidak asin, akhirnya setelah kami nantikan, mukjizat itu datang juga. Makanan normal, seperti makan jawa. Kami terharu – alay. Sebelum makan besar itu, acar dibuka oleh Pembantu Rektor III yang berorasi berapi-api mengisahkan masa mudanya, dan sedikit ironi tentang sakit matanya. Seperti yang telah diprediksikan, setelah itu kami makan, lama, hingga bilangan sembilan lebih ditunjukkan oleh sang penanda waktu.

Untuk, mempercepat waktu karena para penyerah piala harus pulang, maka makan dipercepat dan dilanjutkan pengumuman pemenang. Wajah Fajar terlihat tegang. Saya – Adi Sutakwa – dan dia – Agus Suroso – juga sebenarnya. Tapi kami tetap KEEP CALM and STAY COOL. Juara tiga, lomba karya tulis nasional ILP2MI, jatuh padaaa…… Institut Pertanian Bogor. Huh, wajah Fajar sedikit melemas. Saya – Adi Sutakwa – dan dia – Agus Suroso – juga sebenarnya. Tapi kami masih KEEP CALM and STAY COOL. Juara kedua, lomba karya tulis nasional ILP2MI, “wah ini dari tengah jawa nih,”. Kami tetap khusnudzon bahwa tengah jawa maksudnya UNY dan dengan itu kami bisa juara satu. Jatuh padaaa…… Universitas…. Sebelas Maret, Surakarta! Wajah Fajar, tambah lemas, tapi ketengangan itu mencair menjadi ikhlas dan bangga, senyumnya terkembang, tangannya bersyukur mengusap wajah. Saya – Adi Sutakwa – dan dia – Agus Suroso – juga sebenarnya. Tapi kami harus KEEP CALM and STAY COOL. Alhamdulillah… sakitnya telinga, hutang sini dan sana, asinnya makan malam, laparnya puasa di bandara, tidak sia-sia. Alhamdulillah! Semoga dapat tambahan dana dari mawa. /fyuuh

Oke, dan malam telah parah menelan siang. Selepas peluncuran jurnal mahasiswa garapan ILP2MI, kami semua berguguran pulang dengan antusias. Lelah. Ingin pulang ke pulau kasur. Tidur. Hari ini hari yang panjang, melelahkan, dan menyenangkan. Terlebih lagi, melegakan. Alhamdulillah. (Bersambung…)

130609

Masih di pojok.

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s