Medan #4


2013-05-11 15.47.57 2013-05-11 14.28.23 2013-05-11 16.26.00 2013-05-11 14.43.18 2013-05-11 14.40.23 2013-05-11 16.28.28 2013-05-11 16.24.40 2013-05-11 14.39.08Hap. Kita sampai pada penghujung cerita. Di tanah bukan papua ini, semangat kami menggebu untuk mengikuti serangkaian hari. Trip. Jalan-jalan. Saya kira semua peserta acara nasional, di belahan Indonesia manapun, pasti akan sangat excited untuk mengikuti fase acara ini. Banyak yang ingin dibeli. Itu kata semua orang, dan kata kami. Banyak akan gigit jari. Oke, itu tidak masalah, asalan kamera masih menyala, hidup kami bisa terus sejahtera. Hahaha. Hidup dari kamera. Berkas mata, kamera, adalah cendera mata yang tak ada dimanapun. Sudut pandangnya, sensasi jauh dekatnya, dan raut merona objeknya, membuatku berkali-kali mengagumi gambar-gambar ciptaan kamera.
Agak kecewa ketika kami telah siap sedari pagi, dan ternyata waktu kunjungan wisata tidak sesuai dengan jadwal, lagi. Miris rasanya setelah malam sebelumnya salah makan dan salah ekpektasi dengan menyantap Mie Aceh. Kata Fajar, mie nya enak, di Jakarta pedes, dan enak. Dan kataku, itu hambar. Tidak berkuah, jauh dari idaman. Oke, lupakan. Kami berangkat tepat paska salat Dhuhur. Beberapa delegasi telah lebih dulu pergi ke kampung halaman, yah katanya mempersiapkan UTS. Untung di UNS tidak ada UTS, hahaha

Oke, kereta berroda karet telah melaju. Macet. Itu yang kutangkap dari kondisi Medan. Kota ini memang telah menjadi kota metropolitan, bak Jakartanya Sumatera, tapi tidak separah Jakarta. Bak Solonya Sumatera, tapi masih jauh lebih besar dan macet ketimbang kota Kebo Bule itu. Ya inilah Medan, bagiku kota ini adalah kota yang sangat khas. Banyak yang akan kurindui dari sini.

Perhentian pertama, tempat yang membuat orang-orang jadul sepertikau terkagum-kagum. Museum. Museum Sumatera Utara namanya, banyak koleksi, yang setelah kuamati hanya replika, agak kecewa rasanya. Banyak coretan dinding penuh tanda cinta, khas anak SMA, SMP, dan SD. Tambah miris lagi perasaanku. Tapi semua koleksi secara mayor masih terawat dengan baik. Dari warisan purba, hingga masa pra kerajaan, kerajaan, pra kemerdekaan, kemerdekaan, dan erbagai koleksi budaya khas yang menggambarkan kehidupan masyarakat Sumatera Utara.

Lengkap mengitari museum, panitia menghimpun kami semua untuk melonjak ke perhelatan selanjutnya. Istana Maimun. Seperti semua istana di Indonesia, istana ini juga tidak semegah istana-istana romawi, konstruksinya tidak lebih dari sekedar kayu, namun itu pula yang hingga sekarang membuat istana-istana ini sangat keren, elegan, dan kokoh. Aku bertemu lagi dengan Indonesia, kala mengamati detil warisan zaman kerajaan ini.

Tamannya sangat luas, lebih luas dari halaman rektorat UNS yang sepi. Tapi istananya tidak cukup luas, tidak lebih luas dari Auditorium UNS. Sebuah kereta kencana otentik menyambut tepat di depan gerbang kerajaan, tanpa kuda dan bentuknya tidak seperti kereta-kereta kencana di Jawa. Khas. Pada tiang penjaga depan sebelah kanan, terukir tegas, De Eerste Steen Van Dit Cebouw is celeco op den 28 augustus 1888 Door Z.H Den Sultan Van Deli Mahmoed El Rasjid Perkasa Alam Sja. Dan di tiang kiri, terukir indah kaligrafi huruf arab, yang mungkin artinya juga sama.

Berjajar gambar para sultan terdahulu, dari sultan pertama hingga yang terbaru, dari keluarga pertama hingga yang terakhir. Islam. Ada sebuah silsilah panjang berisi bendera kerajaan, dan payung. Warna-warna bendera itu sing, dan payungnya juga berwarna-warni khas bendera, kami tak ada tempat bertaanya karena tidak ada tour guide di sekitar lokasi istana, hanya ada dua penjaga tiket yang sudah sepuh dan sibuk dengan pekerjaannya.

Interior dalam, sangat khas masjid. Model tiang, keramik, dan batu-batu yang digunakan adalah marmer asli kurasa. Berbgai simbolik islam bertebaran, bentuk kubah masjid menjadi ciri utama yang menghubungkan tiap tiang di dalam istama. Atap dalam istana pun jelas melambangkan segi delapan, simetris, seperti yang lazim saya temui di masjid-masjid yang indah. Dalam dan luar istana sangat bersih terawat. Singgasana raja masih rapi dengan kain lembut menghiasi singgasana, lampu listrik menyalakan warna keemasan yang membalut indah tempat kekuasaan raja dengan ornamen kubah masjid itu. Serasa di arab. Teringat kembali kisah seribu satu malam.

Istana ini bak sebuah museum. Banyak koleksi memenuhi dinding dan pinggiran ruang. Banyak foto keluarga dan foto sultan. Ada biola, kendang, piring dan sendok kerajaan, banyak juga barang-barang yang aku tak tahu bagaimana menyebutnya. Mengesankan. Hanya saja, ada yang aneh disana. Di dalam istana. Ada spot khusus yang menjual pernak pernik – non makanan – asal Sumatera. Tanyaku, apa ini? Bukankah ini situs sakral yang harusnya mengingatkan pada sejarah dan kemegahan masa lalu? Bukan tempat jual beli bisnis yang hanya menguntungkan beberapa pihak. Yah, khusnudzon saja itu mungkin sebagai stretegi pariwisata. Menyediakan mereka para turis yang ingin oleh-oleh “asli” istana. Oke, shock #3.

Kami, pada akhirnya membeli beberapa buah tangan di luar area istana. Yah, titipan orang-orang, yang aku sendiri tidak terlalu suka untuk mengoleksinya. Aku lebih suka mengumpulkan pasir, dari tempat-tempat yang pernah kukunjungi, atau temanku kunjungi. Bali misalnya, sayangnya, aku lupa untuk mengambil pasir Medan. Yah, tak apa. Toh sebentar lagi aku akan mendapatkan pasir Thailand, dan pasir Turki, hohoho. Aku membayangkan rumahku – bersama anak-anak – nanti ada satu dinding yang menyangga sebuah etalase lengkap berisi pasir-pasir yang kudapatkan dari seluruh dunia. Keren. Meski bukan pasir pantai.

Bayangan kami mulai condong memanjang. Waktu ashar telah menjelang. Panitia mengumpulkan kami dan bergabung dalam rombongan berjalan ibarat pedestrian, menuju rumah Yang Maha Menciptakan. THE GRAND MOSQUE AL-MASHUN. The Grand Mosque Al-Mashun one of the Sulthan of Deli remains historical building and it still used by Moslems for praying daily. Built in 1906 by Sulthan Ma’moen Al Rasyid Perkasa Alamsyah and for first time used on September 19.1909. Begitu kucuplik dari batu penanda di samping gerbang masuk masjid.

Di depan gerbang, kudapati dua bule ramah yang terlihat terus tersenyum, dikerubuti pelajar-pelajar SMP. Yah, mereka terlihat sangat antusias dan melakukan beberapa praktik ringan hasil pelajaran bahasa asing yang mereka dapat di sekolah, mungkin. Jarang ada suasana semacam ini di Solo. Atau mungkin aku belum menemukannya.

Bagiku ini masjid yang sangat mengena di hati, setelah masjid kubah emas, masjid ukhuwah islamiyah, masjid salman, dan masjid UPI, beberapa masjid yang pernah aku sambangi. Belum banyak rumah Allah yang aku datangi, ingin rasaya berkelana menyusuri pantai dan pusat kota di seluruh Indonesia. Mengamati dan memaknai masjid, dan lingkungan disekitarnya. Akan jadi cerita yang menakjubkan, untuk anak cucu nanti.

Tiga kubah sisi, dan satu kubah besar di tengah, seolah menindih bangunan gagah masjid ini. Halam yang jauh lebih luas dari halaman Nurul Huda membuat mata cukup nyaman untuk seksama mengamati sekelilingan masjid. Selalu ada mereka yang menadahkan tangan, di gerbang masjid, dan mungkin bahkan di semua gerbang di selueuh masjid raya tiap kota. Namun ini telah menjadi ironi yang terlalu biasa, hingga mungkin tak lagi di hiraukan para pemegang kuasa.

Karena bentuk masjid menyerupai bujur sangkar, maka shaf terdepan adalah barisan dengan jumlah paling sedikit, ini tentu karena letak imam berada di pucuk sudut masjid ini. Mengingatkan saya bahwa mereka yang di rangkaian terdepan benar-benar pribadi beruntung, dan lebih dari shaf yang lain. Di dalamnya, ada bilangan tiang-tiang yang menyangga kubah bagian dalam, kubah melingkar itu seolang menunjukkan bahwa pusat dan titik tengah masjid ada disitu. Tiang-tiang gagah itu berbalut marmer mengkilat. Yang ditopangnya adalah kubah yang tiap sisinya terukir ornamen berwarna emas, dan seolah membentuk jaring laba-laba yang menuu pusat kubah. Indah. Sangat.

Yang berbeda dari kebanyakan di jawa. Mimbarnya tidak ditutupi pembatas depan seperti mimbar-mimbar orasi, atau mimbar di NH. Mimbarnya hanya sebuah tangga menuju puncak mimbar dan terbuka bagian depannya, di masjid ini, diatas mimbar juga dilengkapi kubah kecil, bentuknya seperti singgasana kecil tepat hanya bisa terisi satu orang dewasa, dengan tangga di depannya. Ada satu menara tinggi ramping jauh di pojok kompleks masjid. Bentuknya menyerupai menara di sekitar Ka’bah. Suasana ini, sangat bearoma arab. Sebuah tempat wudhu yang juga berkubah kecil, sangat unik dan apik. Melengkapi kompleks masjid yang tertata rapi. Inilah, ilmu yang diturunkan Allah hanya untuk manusia-manusia yang dikehendakinya, hingga keindahan yang diciptakan, menggambarkan Sang Pencipta itu sendiri. SubhanAllah. Ada sebuah papan pengumunan identik dari wilayah Sumatera yang mungkin tidak akan kita temukan di masjid raya selain di wilayah Sumareta. Pengumuman. Anda memasuki kawasan wajib berbusana muslim. Setidaknya, belum pernah kutemui di Pemalang, Semarang, Jogja, Solo, Bandung, Depok, dan Bali, sedikit kota yang pernah kudatangi.

Sore itu berakhir pada sebuah gang kecil tempat berjajarnya oleh-oleh. Semacam Malioboro-nya Medan, tapi tidak selebar dan seramai Malioboro. Dan kami dikecewakan dengan habisnya bika ambon. Penganan khas medan yang diburu semua orang. Meski sudah tau rasanya, kalau tak membawa langsung dari tanah medan, rasanya belum pas feel¬-nya. Oke, akhirnya kami bersama bersepakat membeli dodol dan dua botol sirup markisa. Yang kami harap menjadi sajian nikmat untuk meramaikan sekretariat yang baru saja pindahan. Hehe

Oke, kita telah sampai ke penghujung acara. Selama berkian-kian menit kami telah menemani anda semua dalam trilogy Medan. Sebuah acara reality show tanpa tangisan termehek-mehek atau tanpa iba jika aku menjadi, dan pasti tanpa nurani seperti acara tolooong. Cerita tentang kepulangan dari Polonia, tidak jauh beda dan tidak se-keren cerita Sang Supir Taksi yang pertama. Intinya, kami sampai di Adi Soemarno dengan tidak tenang seperti biasa, karena ada yang mengusik telinga kami. Perubahan tekanan secara tiba-tiba. Oke, sampai berjumpa di kota selanjutnya. Ciao! (End!)

130611

Tak dipojok.

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s