Aku : Adi Sutakwa


Belum genap 6 bulan aku berada di dunia satu suara ini. Dunia yang tidak akan ada timbal balik secara langsung. Dunia tulis. Tidak seperti diskusi dan forum kaji yang lain, menulis bagiku menjadi satu-satunya cara terbaik untuk mempengaruhi pemikiran seseorang. Ya, ini adalah sulap yang tidak disadarai oleh siapapun, sebuah magic trick yang membuat objeknya tidak menyadari, bahwa sesungguhnya, dia adalah objek sulap. Sulap yang hanya bisa dinikmati oleh sang pesulap. Menulis!

Sering saya tuliskan dalam lembar-lembar pendek media sosial. Every magic tricks consist of three parts, or acts. The first part is called “the pledge. The magician shows you something ordinary. A deck of cards, a bird, or a man. He shows you this object, perhaps he asks you to inspect it, to see that it is indeed real, unaltered, normal. But, of course, it probably isn’t. The second act, is called “the turn”. The magician takes the ordinary something. And makes it do something extraordinary. Now, you’re looking for the secret, but you won’t find it,because of course, you’re not really looking. You don’t really want to know. You want to be… fooled.

But you wouldn’t clap yet, because making something disappear isn’t enough. You have to bring it back. That’s why every magic trick has a third act. The hardest part. The part we call… “the prestige.”. Jauh kesamaannya tersembunyi. Dibalik perbedaan yang besar, aku tau bahwa menulis adalah trik sulap yang sangat mengerikan. Hingga mereka tidak sadar sedang dalam sebuah trik, they don’t want to be fooled. Berbeda dengan sulap biasa, “..You want to be… fooled.”. Mereka yang datang bertepuk tangan, atau terkagum diam diseberang layar kaca, mereka memang menikmati ketertipuannya. Itu yang mereka cari dari pertunjukkan sulap. Manusia, mencari hiburan. Dan hiburan paling menyenangkan bagi manusia adalah melihat, menyaksikan, menjadi bagian dari sesuatu yang tidak mungkin. Meskipun mereka hanya ditipu.

Benar, bahwa menulis adalah penemuan paling besar dalam sejarah manusia. Ini mungkin terdengar tidak masuk akal, namun setelah melihat gejala dan efeknya. Kita akan bersepakat dengan hal itu. Bayangkan, dengan tulisan. Hitler hampir-hampir saja menguasai dunia. Mein Kampf. Tentu semua orang tau ada apa dengan buku ini. Buku yang kini telah dijual bebas hingga di pasar eceran ini, aku yakin tetap ada orang-orang yang tegas fanatismenya dengan buku ini. Mungkin juga mereka sedang menunggu saat yang tepat, dengan persiapan yang lengkap untuk kembali mengulang kejayaan ras Arya. Aku tidak membaca buku ini.

What an astonishing thing, a book is. It’s a flat object made from atree with flexible parts on which are imprinted lots of funny dark squiggles. But glance at it and you’re inside the mind of another person, maybe somebody dead for a thousands of years. Across the millennia, an author is speaking clearly and silently inside your head, directly to you. Writing is perhaps the greatest of human inventions, binding togheter people who never knew each other, citizens of distant epochs. Books break the shackles of time. A book is proof that humans are capable of working magic (Carl Sagan).

Begitu kutip dari salah satu buku garapan Carl Sagan. Ini bukan hal luar biasa, aku rasa semua orang pun tanpa sadar telah mengetahui hal ini. Hanya saja Carl Sagan mengemasnya dengan lebih artistik bersastra. Jauh warna dan rupa kemasannya, aku lebih suka menyebutnya dengan quote… Manusia adalah apa yang ia baca. akan dalam dan sangat selfish jika kuurai dengan kekata dan metaforaku sendiri, maka mari biarkan kalian – pembaca – mengartikannya sendiri. Bukankah sastra jauh lebih indah jika tiap pembacanya berbeda interpretasi?

Aku tidak lahir di kota yang besar dengan kemajuan teknologi yang progresif. Aku tidak pula lahir di kota kecil yang menyimpan sejarah besar. Aku lahir di kota yang tenang, di desa yang jauh lebih tenang. Sebuah desa bernama Pedurungan, di kota bernama Pemalang. Aku tidak akan banyak berceritera tentang itu. Yang lebih penting adalah aku. Aku akan sedikit menceritakan diriku, siapa aku.

Ketertarikanku ada pada beberapa hal non teknis. Lumrah. Jika koleris yang seringkali disalah artikan dengan otoriter dan serampangan, mungkin itu imbas dari keberanian, ketegasan, dan kecerdasan. Ya, aku seorang koleris. Jangan sekali-kali meng-googling apa itu koleris, karena yang itu akan sangat berbeda dengan kolerisku. I’am a vision oriented unpredictable choleric. Dan bukan pula seperti yang ada ter-display di Cambridge Advanced Learner’s Dictionary, very angry and easily annoyed. Jika telah mengenalku, kalian akan tahu dengan pasti bahwa kolerisku jauh beda dari apa yang ada di buku.

Banyak dari tulisanku tidak jauh dari kepemimpinan. Mayoritas. Analisis tentang politik, sosial, dan budaya. Dibalut dengan metafora denotatif ala sastra dan tetap dalam koridor orientasi pada kepercayaan, agama, tauhid, Islam. Kadang aku menggunakan pendekatan filosofis dalam analisinya, kadang juga dengan pendekatan deskriptif subjektif. Bagiku, tulisan haruslah objektif dengan segala kejujuran subjektif. Tingkat tertinggi dari subjektifitas, adalah objektifitas berdasar.

Oke. Mari tidak terlalu banyak berceloteh, pull the trigger, now! Menulis!

A book, is magic. Makes you think with the way the writer want you to think.

The Writer, is a Magician!

We, are the Magician of millennia!


Adi Sutakwa 130616

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s