Jepang #2 ; Lolos.


www.twochums.com
http://www.twochums.com

Biasa. Aku pernah bergelut dengan kata ‘biasa’. Bagaimana tidak, aku muak dengan para motivator itu. Kalo kata Pak Bandung Mawardi, mereka itu ‘peternak kata’. Bagaimana tidak, berkali-kali kata dan kalimatnya mengundang tangis kanan kiri depan belakangku, bicara soal kemiskinan bukan halangan, soal kebodohan bukan akhir kehidupan, bicara soal dosa menjijikan dan pertobatan. Ah, bagaimana tidak muak, aku ini anak biasa lantas bagaimana harus bersikap?

Aku tidak miskin, aku tidak kaya, aku ingat aku tidak pernah berdosa hina, atau mengamuk pada Ibu, aku tidak bodoh keterlaluan, aku tidak kurang dan tidak lebih, aku biasa. Lantas apakah anak biasa tidak berhak dimotivasi? Aku juga ingin mengangis saat kelas-kelas motivasi, tapi aku tidak pernah punya alasan, para motivator itu tidak pernah menyebut tentang ‘biasa’ atau menyemangati ‘orang biasa’ sepertiku. Ah, bagaimana tidak muak.

Ah, oke. Ya sudah, menjadi biasa? Ya sudah biasa saja, tidak perlu berlebihan. Selalu ucap, aku tidak tahu ini rahmat atau musibah – aku hanya ingin berprasangka baik pada Allah. Menjadi orang yang beruntung untuk tahu dan paham. Dalam bahasa lain disebut ikhlas. Seperti membaca buku. Setelah membaca buku, pilihlah untuk menjadi bijak karena diolok-olok ketidaktahuan. Itu akan membuat kita selangkah lebih dekat untuk menjadi orang yang beruntung untuk tahu dan paham. Yang dalam bahasa lain disebut ikhlas.

Dan perjalanan ke Jepang nanti, akan biasa? Tidak. Ini sungguh tidak bisa serta merta disebut biasa. Tentu akan jadi tidak seru jika rahasia langit setipis itu. Mari kita lihat awalnya. Beberapa bulan sebelumnya, aku dan kawan satu tim lain juga diundang ke Thailand, Kasetsart University. Sama, konferensi, presentasi, penerbitan jurnal internasional, city tour, dan lainnya. Tapi aku memilih untuk tidak berangkat. Aku tidak suka Thailand. Bukan benci karena beberapa kali Timnas Indonesia dikalahkan di masa lalu, bukan juga karena rahasia umum yang mengatakan disana banyak banci berkeliaran yang membuat tidak aman justru jika laki-laki berjalan sendirian. Sederhana, aku tidak ingin ke Thailand.

Yah, akhirnya dua kawanku berangkat ke Thailand, setelah lelah membujukku yang baru mereka sadar. Bahwa aku keras kepala. Bosan menelisik alasan kenapa yang selalu ku jawab keukeuh dengan “aku maunya ke Jepang, Istanbul, atau London”. Mereka mempresentasikan artikel ilmiah yang kurang lebih berjudul Environmental Management Learning. Ya, aku maunya ke Jepang, Istanbul, atau London.

Dan disinilah aku, dua hari lagi, aku ke Jepang.

Tidak. Ini sungguh tidak bisa serta merta disebut biasa.

Tentu akan jadi tidak seru jika rahasia langit setipis itu.

Kebetulan aku punya kebiasaan aneh mencari jalan atas kebuntuan. Belakangan aku tahu dari temen-temanku, selain keras kepala, aku ternyata ngeyel juga. Dan jalan yang biasa untuk ke Jepang adalah ikut konferensi. Menemu ide, merangkai gagasan, merapikan tulisan, dan mengemas koper bawaan, terbang ke Jepang. Ah, tentu akan jadi tidak seru jika rahasia langit setipis itu. The 11th Hokkaido Indonesian Student Association Scientific Meeting, begitu tertulis dalam webnya. Banyak topik, tapi apalagi yang kutahu selain social science, aku hanya college student biasa yang kadang justru merasa aneh dengan kuliah-kuliah yang diikutinya. Biasa.

Baiklah. Aku kemudian melakukan pertemuan dengan kawan-kawan yang se-pikiran, ngobrol ini itu disini disana hingga cepat proses berlalu dan jadilah Phenomenological Studies of Leadership in Ecological Intelligence of Nature Lovers sebagai judul paper kami. Studi fenomenologis terhadap kecenderungan kecerdasan ekologis pada kepemimpinan pecinta alam. Nature lovers, terjemahan yang sebenarnya kurasa aneh dan kurang tepat untuk membungkus frasa ‘pecinta alam’ di Indonesia.

Yah, karena biasa juga. Aku memutuskan untuk membantu kawan lain yang ingin ke Jepang juga, tapi tidak ada yang bersedia ikut membantu menyelesaikan paper dan penelitiannya. Catfish (Pangasius hypophthalmus) Bone Gelatin: Extraction Optimization with Acid Concentration, Temperature, and Time of Extraction Treatment. Nah, kalo yang ini baru sesuai dengan kuliah-kuliah yang aku ikuti dalam dua setengah tahun terakhir. Maka seperti ‘biasa’, kami juga mengirimkam paper itu ke panitia ketika H-1 hari atau H-1 jam penutupan penerimaan abstract.

Dan celakalah urusan ini ketika beberapa hari kemudian diumumkan. Dua-duanya lolos.

Biasa?

Tidak. Ini sungguh tidak bisa serta merta disebut biasa.

Tentu akan jadi tidak seru jika rahasia langit setipis itu, anak biasa, lahir di keluarga biasa, berpendidikan biasa, dan ke Jepang dengan biasa? Ah, tentu akan jadi tidak seru jika rahasia langit setipis itu.

Kita lihat saja nanti. (…bersambung…)

20140204  0326

Adi Sutakwa ; dinihari dan tidak bisa tidur.

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s