Jepang #3 ; Awal.


www.lipstickalley.com
http://www.lipstickalley.com

Aku pernah tidak bisa menulis karya ilmiah atau non ilmiah. Aku pernah tidak bisa menulis esai, aku pernah tidak bisa berbicara di depan forum diskusi besar. Ah, jika berbicara ‘aku pernah’, maka akui saja tiap orang juga pernah. Pernah bayi, merangkak, berjalan, lari, sekolah SD, dan lainnya. Awal, adalah dimana sesuatu tidak bisa dilakukan, awal adalah nol, tapi sekaligus hadiah terbesar bagi mereka yang tau, untuk tidak sedikitpun mengeluh karena merasakan awal.

Bicara tentang awal, agaknya buku Titik Nol garapan Agustinus Wibowo bisa dengan tepat menggambarkannya. Dan, bagiku memperjuangkan  jalan ke Jepang adalah awal. Sejak dua bulan terakhir, aku mengawali rutinitas administratif persuratan dan pendanaan, juga beberapa rancangan penelitian dan segala yang berbau ilmiah. Kami mulai bekerja mencari akses, data, dan segalanya yang bisa memuluskan jalan kami kesana. Keperluan pribadi, tertutama terkait imigrasi juga mulai kami urus, visa dan paspor. Kami hampir menyerah dengan rutinitas itu, bolak-balik membenarkan proposal, bolak-balik melengkapi berkas paspor. Yah, tapi ini harga yang harus dibayar.

Dan waktu ternyata tidak menunggu, ia tidak peduli urusan dana kami yang masih suram tanpa kejelasan, ia juga tidak peduli urusan paspor atau bahkan penelitian, ia berlalu begitu saja hingga jauh mendekati deadline pembayaran. Benar, panitia di Jepang juga butuh kepastian, apakah kita jadi ikut agenda disana atau tidak, kalo ikut, maka harus membayar di tanggal yang sudah ditentukan. Pembayaran yang mudah, murah, dan lancar. Mudah, murah, dan lancar?

Tidak. Ini sungguh tidak bisa serta merta disebut biasa. Apalagi mudah, murah, dan lancar.

Tentu akan jadi tidak seru jika rahasia langit setipis itu, kami telah tau berpuluh teman kami melakukan rutiitas yang sama tentang usaha mereka keluar negeri, konferensi, membayar biaya di waktu yang ditentukan. Ah, dan sungguh istimewa urusan ini, ketika panitia menuliskan biaya pendaftaran di pamflet acara hanya sekitar 3000 yen. Tentu ini terbilang ‘hanya’, karena umumnya biaya registrasi sebesar 250-520 US dolar.

Ya, sungguh ini urusan yang istimewa ketika datang pengumuman kedua, kepastian keikutsertaan pesertadibuktikan dengan scan tiket pesawat. Ah, menjadi sangat istimewa ketika kami tau dari dulu bahwa tiket pesawat satu orang mencapai bialangan 10 juta pulang pergi. Dan dengan waktu yang singkat, kami merasa tidak sanggup mendapatkannya. Dalam waktu yang sama, proposal ke institusi manapun yang dapat kami jangkau belum mendapat respon, fakultasku fix tidak bersedia membiayai kegiatan yang bukan berlabel kompetisi. Proposal di tingkat universitas mandeg bahkan katanya proposal hilang dan diminta mengirimkan lagi yang baru, dengan proses yang kurang lebih sama, proposal ke Dikti? Baru saja dapat kabar bahwa Direktur pembelajaran Dikti sedang umroh, ditambah info bahwa Dikti ‘tutup’ tiap bulan november sampai januari, hingga konsekuensinya semua proposal yang masuk pada bulan itu akan ditolak. Ah, jadilah urusan ini sangat istimewa bagi kami.

Mba Titis, begitu kami memanggilnya. Tentu karna ia memang yang paling ‘senior’ di kelompok kecil ini. Pada suatu sore yang mendung, ia memutuskan untuk bicara pada kami. Bahwa urusan uang ini, biaya ke Jepang, memang urusan yang susah untuk dipecahkan. Akan sangat egois ketika ia memaksakan untuk berangkat dengan total uang sendiri. Meski ia salah satu penerima Beasiswa Aktivis, pihak pemberi manfaat juga mengetatkan aturan tentang pendanaan, dan sayangnya agenda kami di Jepang tidak masuk dalam hitungan ‘berhak’ untuk diberikan bantuan. Ya, dengan segala pertimbangan dan ilmu psikologi yang ia pelajari selama 3 tahun terakhir di kampus ini, dia akhirnya memutuskan untuk tidak berangkat. Karena terkendala masalah dana.

Fisika, dalam suatu bahasannya pernah membicarakan tentang law of attraction. Kurang lebih berisi tentang postulat bahwa jika suatu benda bergerak dan bersentuhan dengan benda lain akan mengakibatkan benda lain itu juga bergerak. Dan tentu saja manusia termasuk ‘benda’. Yang karena gerakan Mba Titis untuk memutuskan tidak bergerak, menyentuh ‘benda’ lain dalam kelompok kami yang juga saling kenal (bersentuhan) untuk bergerak. Secara moril. Ya, membuat beberapa anggota lain berpikir dua kali saat ditanya gimana kamu jadinya berangkat ndak?

Tidak. Ini sungguh tidak bisa serta merta disebut biasa.

Karena tentu akan jadi tidak seru jika rahasia langit setipis itu.

Dan ketika waktu mulai malas dengan rutinitas, datanglah beberapa jam terakhir pengumpulan scan tiket pesawat. Yang tentu saja belum kami dapat. Suasana masih sama, Januari yang basah oleh hujan sore hari. Wajah-wajah yang lelah, wajah-wajah yang ingin segera bergumul dengan selimut di dalam rumah menghiasi kampus hari itu. Penelitian gelatin kami sudah hampir selesai, tinggal mengolah data mentah menjadi matang. Penelitian kecerdasan ekologis kami lumayan bisa dibilang, walau lebih lambat.

Dengan kenyataan bahwa Mba Titis memutuskan untuk tidak berangkat, kami memutuskan hari itu juga, sebelum penutupan deadline pengumpulan scan tiket pesawat, kami berdikusi singkat. Lewat beberapa kali tanya yang sama, gimana kamu jadinya berangkat ndak? Lewat beberapa kali juga pertanyaan itu sebenarnya sudah bisa kami jawab bersama. Mengingat kami semua tau kondisi pendanaan kelompok ini. Pernah, bicara tentang pernah, ya, saat itulah aku pernah berpikir dua kali. Untuk menyerah, mungkin lain kali, lain bulan.

Fase hidup ini, juga menjadi awal bagi kami semua. Bahwa ketika semuanya sudah berjalan melebihi setengah-setengah, bahkan kami sudah beberapa kali mengeluarkan biaya yang tidak murah untuk mengurus keperluan administratif. Dalam kondisi semacam itupun, kita masih sangat berpotensi dan sangat bisa kalah, gagal, hancur. Kami bisa saja memilih untuk menjadi sia-sia. Penyusunan prososal yang sia-sia. Bolak-balik kantor imigrasi yang sia-sia. Semalaman begadang menyusun tulisan ilmiah yang sia-sia. Penelitian yang sia-sia.

Tapi sungguh, aku tidak pernah membaca buku berjudul sia-sia. Maka tidak juga satu dari ribuan lembaran buku kehidupanku akan sia-sia. Tidak juga ada satu kata sia-sia dalam buku kehidupanku. Aku memilih untuk tidak menjadi sia-sia.

Tidak. Ini sungguh tidak bisa serta merta disebut biasa.

Ini benar-benar urusan yang istimewa.

Karena tentu akan jadi tidak seru jika rahasia langit setipis itu.

Aku sudah terlanjur ingin ke Jepang. Aku sampai lupa sejak kapan aku ingin. Aku sudah terlanjur bilang ke kawan-kawanku “aku maunya ke Jepang, Istanbul, atau London”. Aku sudah terlanjur  bilang ke adekku dirumah. Aku sudah terlanjur bilang ke Ibu. Aku sudah terlanjur mengusahakan semuanya. Ah, aku terlanjur menjadikan urusa ini istimewa. Tidak. Ini sungguh tidak bisa serta merta disebut biasa. Karena tentu akan jadi tidak seru jika rahasia langit setipis itu.

Ah, urusan ini benar-benar sudah terlanjur.  Aku memutuskan untuk berangkat. (…bersambung…)

20140212  1738

Adi Sutakwa ; sore hari yang teduh.

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s