Jepang #4 ; Tertinggal.


lensakukar.com
lensakukar.com

Sore itu, sore ketika waktu mulai malas dengan rutinitas, sore ketika datang beberapa jam terakhir pengumpulan scan tiket pesawat. Yang tentu saja belum kami dapat. Suasana sungguh masih sama, Januari yang basah oleh hujan sore hari. Wajah-wajah yang lelah, wajah-wajah yang ingin segera bergumul dengan selimut di dalam rumah menghiasi kampus hari itu. Kami telah memutuskan. Aku memutuskan untuk berangkat. Dan yang lain tidak.

Aku mulai melemaskan badan. Aku tau. Mereka tau. Uangku juga tidak cukup. Dengan apa aku berangkat? Ah, urusan ini benar-benar terlanjur. Sekarang malah ditambah aku terlanjur bilang aku berangkat. Makan di warung “nasi sayur es teh 3000” tidak pernah senikmat itu. Sore menjadi lebih kering. Tersisa gerimis yang malu-malu menjamah tanah, pepohonan, dan atap rumah. Lemas rasanya badan, ikhlas semoga dirasa  hati. Tujuh juta sembilan ratus-an, hasil googling terakhir dengan rute termurah Indonesia-Jepang. Tetap saja, aku tidak punya uang sebanyak itu. Pinjam uang organisasi? Aku sudah tidak tercatat struktural dalam organisasi manapun. Dan malah, tidak berniat. Pinjam Ibu? Ah, sudah terlalu banyak uang yang ku pinjam sejak aku lahir. Pinjam kawan? Jika benar-benar kawan, tentu kami sangat cukup saling tau untuk tidak membebani perkara finansial. Ah, lemas rasanya badan, ikhlas semoga dirasa  hati.

Makan di warung “nasi sayur es teh 3000” tidak pernah selambat itu. Sudah hampir habis. Datang pesan singkat. Dari salah satu anggota tim kami. Pesan singkat yang tidak bisa dibilang singkat, penjelasan yang panjang. Sampai akhirnya aku sadar itu pengumuman dari panitia yang di forward lewat sms padaku. Isinya membuat tidak lagi lemas rasanya badan, ikhlas sungguh dirasa  hati. Kami memahami bahwa sebagian besar peserta mengalami kesulitan dalam pendanaan. Maka panitia memutuskan untuk menunda pengumpulan bukti keikutsertaan berupa scan tiket pesawat. Namun, dimohon dengan sangat untuk memastikan reservasi penginapan di Hokkaido, dalam satu minggu kedepan, cuaca di Hokkaido sedang winter dan sangat tidak aman jika belum mendapat kepastian tempat tinggal.

Alhamdulillah. Kami dapat tabung tambahan untuk bernapas dalam tekanan pendanaan ini. Sebelumnya kami juga sudah tau bahwa reservasi hostel – mini hotel dengan shared room atau dormintory ­– tidak ditanggung biaya sedikitpun, dan kami sudah reservasi di salah satu hostel dekat Hokkaido University. Fyuuh. Oke, kini otak kami tidak perlu lagi terlalu banyak multitasking. Fokus pada pengusahaan pendanaan dan penyelesaian akhir full paper. Benarlah bahwa kita memang harus berprasangka baik. Karena disitulah terjadi proses. Proses yang belum bisa di jangkau oleh logika law of attraction, belum sanggup ditera dengan analisa kimia manapun, belum kasat mata oleh ilmu biologi terbaru. Proses, dimana akal manusia belum dapat mencapainya.

Proses berjalan. Aku memutuskan pulang untuk mengajukan proposal ke pejabat daerah kampung kelahiran. Dan tetiba, kabar lain datang. Mba Titis dihubungi oleh pihak Kemenpora. Kami diminta mengirimkan beberapa berkas tambahan. Dapat info darimana. Bukti lolos mana. Scan paspor, karmas. Dan banyak berkas lain yang sebenarnya mayoritas sudah kami sertakan di paket yang kami kirim. Tapi tentu ini satu berita yang membuat nafas kami lebih panjang. Punya waktu lebih banyak untuk merawat prasangka baik kami pada Sang Maha Penggenggam Hati. Kami penuhi pengumpulan berkas-berkas itu secepatnya.

Proses berjalan. Aku di kampung halaman. Komunikasi dua arah rutin secara periodik berkembang. Hingga kemudian kami diminta memastikan tanggal keberangkatan. Untuk segera akan dipesankan tiket pesawat, ya, tiket pesawat. Bukan uang mentah seperti yang kami kira akan didapat. Aku sempat kaget. Tapi tentu syukur tetap dihati. Alhamdulillah. Mba Titis memastikan. Aku bersorak dalam hati. Deal. Kami mengirim alamat email, dan e-ticket dikirimkan ke emailku. Aku di kampung halaman. Akses internet tidak dapat diperoleh kapan saja meski modem terisi penuh. Maka kuminta yang lain membuka email dan mengecek e-ticket yang dikirimkan ke emailku.

Titis Sekti Wijayanti. Luthfiyah Dyaka Rose. Adi Sutakwa. Ayu Purnama Sari. Dengan jelas nama-nama tertera dalam e-ticket itu. Dengan jelas dan sadar pula aku menyadarinya. Kami berempat menyadarinya. Satu nama tertinggal. Tidak tertera. Siti Khotijah. Kami kemudian bingung. Sorak sorai dalam hati mendadak senyap. Aku tidak tau harus senang karena kepastian pendanaan tiket pesawat. Atau harus sedih karena satu tertinggal. Aku ingat pertama kali mengajak orang-orang dalam tim ini. Aku ingat aku berkata dek, mau ke Jepang ndak? Aku sungguh ingat.

Aku minta maaf. Kami semua, berlima. Telah melakukan rutinitas yang sama. Kami telah menjalani awal yang sama. Beberapa menyerah di waktu yang sama. Waktu, pikiran, tenaga, habis di waktu yang sama. Berbulan-bulan itu, hidup kami dipenuhi dengan proposal, penelitian, ketidakpastian dana, harapan, banyak yang tidak akan dengan detil bisa diceritakan. Ayu sampai jauh-jauh nge-lab di UGM. Dua hari penuh Ayu dan Ijah seharian dari pagi hingga menjelang petang melakukan analisis yang melelahkan di laboratorium MIPA. Dan entah berapa banyaknya malam dan jam tak terhitung yang mereka habiskan untuk mengolah data menjadi huruf dan kata hingga berbentuk baku sesuai format.

Tidak. Ini sungguh tidak bisa serta merta disebut biasa.

Karena disini, kami kembali memulai awal. Karena disini, aku tahu rahasia langit sungguh tebal. Ada yang tertinggal. (…bersambung…)

20140212  2359

Adi Sutakwa ; malam dan sedikit pilek.

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s