Jepang #5 ; Hujan.


www.bluewaterlandscapesupplies.com.au
http://www.bluewaterlandscapesupplies.com.au

Bogor. Berita terakhir menyebutkan hujan itu telah mencapai Kota Hujan. Hujan ini tentu bukan hujan biasa yang setiap hari lembut membasahi Kota Hujan. Beberapa ulasan ahli di layar-layar televisi menjelaskan partikel kecil putih dan halus ini berwujud tajam jika dilihat dengan mikroskop. Dan mampu merusak saluran pernapasan di paru-paru atau merobek selaput mata. 150-200 juta meter kubik material vulkanik telah dimuntahkan oleh satu dari 127 jajaran barikade ring of fire di Indonesia yang melegenda itu.  Hujan abu.

Solo. Pagi yang putih, dingin wajar seperti pagi yang lain. Berkendara 10-15 menit di jalan raya pagi itu bukanlah pengalaman yang bisa dirasakan setiap hari. Lekuk-lekuk celana berpendar keemasan berirama dengan butiran kecil putih kecoklatan pada kain celana yang hijau kelam. Jarak pandang 3-5 meter cukup untuk membuat para pejalan kaki menjadi ‘benda’ tidak kasat mata saat menyeberang jalanan Indonesia yang berbahaya. Pada hari itu, keluar tanpa masker pelindung dan penutup mata sama saja menyakiti diri mengingat laporan bahwa beberapa korban di dekat lokasi gunung juga ditemukan tewas karena terlalu banyak menghirup abu vulkanik. Hujan abu.

Narita. Masih dalam Tokyo, disini terjadi juga hujan yang hebat.  Bukan putih kecoklatan yang berpendar keemasan. Bukan juga dapat merusak selaput mata dan saluran pernapasan, tapi putih bersih. Putih total. Berjalan 5-7 menit diluar gedung tanpa penutup leher dan telinga sama saja percobaan bunuh diri bagi pendatang baru seperti kami. Karena telinga yang mati rasa harus di amputasi. Kaki yang kaku keras harus dipotong tanpa nanti. Untungnya, saat badai kali itu, kami tidak sedang bermain bodoh-bodohan di alam bebas. Atau main boneka salju yang dinginnya sama sekali tidak lucu seperti tayangan-tayangan di layar kaca. Di dalam kereta. Melaju dari Haneda menuju Narita yang bermuram durja. Suhu tenggelam dalam keangkuhannya hingga minus belasan derajat celcius. Hujan salju. Badai salju. Itu hari terakhir kami di Jepang.

Hokkaido. Bukan di dalam Tokyo, disini tidak terjadi hujan yang lebat. Putih bersih. Putih total. Rintik kecil bening heksagonal persis seperti di anime-anime. Lembut, tapi dingin menusuk kasar. Membuat kami segan keluar dari JR Sapporo Station. Japan Railways. Tentu bukan Shinkansen yang konon kecepatannya bagai kereta kesetanan. JR Train yang kami tumpangi dari Shin Chitose International Airport bertarif 1040 yen. Menempuh jarak sekitar 50 kilometer, itu kali pertama aku, dan kami, membeli tiket kereta dari mesin penjual tiket kereta. Yang tentu saja tidak ada di Indonesia. Dan ya, itu juga kali pertama satu tas jinjing milik Ayu yang berisi barang campuran kami tertinggal di tempat baggage claim bandara. Saat JR Train kami sudah melaju kencang konsisten. Saat penghangat di bawah kursi-kursi empuk itu mendamaikan hati dan badan yang beku kedingingan. Hujan salju. Tidak badai salju. Itu hari pertama kami di Jepang.

Bahasa Inggris tidak akan membantu banyak di Jepang. Sejak awal kami tau itu, menyiapkan Japanese daily conversation yang ternyata tidak juga membantu banyak. Turun di stasiun pertama setelah Shin Chitose Station, membeli tiket baru seharga 300 yen untuk kembali ke Shin Chitose Station, menemukan tempat baggage claim adalah masalah kedua. Hal pertama yang harus ditiru oleh Indonesia. Disini, di setiap tempat publik, selalu ada peta yang menunjukkan lokasi di pembaca peta dengan tulisan you are here. Dan tentu saja penjelasan nama tempat di sekitarnya dalam transelirasi bahasa inggris. Hal ini sangat memudahkan kami saat hampir tersesat di waktu-waktu berikutnya.

Dengan penjelasan bahasa apa saja – bahasa inggris, bahasa tubuh, dan lainnya – terkait tas jinjing kami yang tertinggal di tempat baggage claim beberapa menit kemudian petugas di bandara menemukannya dan memberikannya padaku. Yah, ada yang bilang bahwa kita tidak akan pernah tau apa yang kita miliki, sampai kita kehilangan. Dan tentu saja, dengan ini, aku tahu apa yang aku miliki. Kembali lagi ke mesin tiket, kembali mendapatkan lagi receipt tertulis 1040 yen. Perjalanan menuju JR Sapporo Station menghangat, aku amati bahwa tiap kursi empuk di kereta ini dipasangi penghangat dibawah kursi yang jika kursinya diduduki, betis akan terasa panas dalam 2-3 menit. Juga ketika bagaimana sarana publik benar-benar di design dengan sangat ramah hingga di tiap pedestrian ada line khusus yang disediakan untuk orang-orang berkebutuhan khusus. Di toilet ada yang khusus untuk ibu hamil, orang tua/lanjut usia, dan ibu menyusui, ada tempat khusus untuk medudukan bayi. Di kereta tempat duduk khusus juga disediakan dengan warna yang berbeda dan berlabel priority seat bergambar orang lanjut usia, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Wajah-wajah lelah. Wajah-wajah kedinginan. Mereka tertawa tipis melihatku datang setelah menunggu lama. Bisa kubaca mereka berpikir aku tersesat. Karena beranggapan sifatku yang kadang lupa barang dan lupa arah. Tentu saja mereka gusar, hari pertama di Jepang. Tas jinjing ketinggalan di bandara setelah terlanjur naik kereta. Yah, selain climate shock dan cultural shock, kurasa mereka juga mengalami shock yang lain karena peristiwa ketinggalan ini. Aku sih, biasa saja.

Pintu keluar. Hal kedua yang harus ditiru oleh Indonesia. Disini, meski kami dan mereka – Japanese ­– terhalang oleh language barrier yang cukup tinggi, mereka menunjukkan antusiasme tingkat tinggi jika kami menyapa dengan sumimasen, excuse me, can you help me, dan lainnya. Dan melalui peta you are here kami meminta penjelasan salah satu dari mereka. Bertanya pintu keluar, dan kami diantarkan ke pintu keluar. Bagiku ini sebuah cara yang sangat ramah, tidak memilih menjelaskan dengan kata ‘lurus, belok kanan, ke kiri, lurus’ dan seterusnya, tapi mengantarkan kami pada tempat yang kami tanyakan. Sama seperti orang Indonesia yang memerah kegirangan saat orang asing berkata selamat pagi, mereka juga merasa senang saat kami sedikit-sedikit menggunakan kata lain selain sumimasen, seperti ich, san, dan lainnya.

Kita 6 jo Nishi 6. Alamat penginapan kami, Sapporo International Youth Hostel. Kami awalnya bingung dengan penamaan alamat dan tata kota disini. Tentu ini karena pertama kali kami ke negara yang pernah mendeklarasikan diri sebagai Saudara Tua dan Cahaya Asia pada saat Perang Dunia II yang menggurita kala itu. Tapi kemudian kami sadar bahwa penamaan ini sangat mudah dan memudahkan bagi siapa saja yang baru pertama kali ke Jepang. North 6 West 6, di kota ini, semua tempat dibagi menjadi blok-blok rapih. Ada titik nol. Dan sungai-lah titik nolnya di Sapporo. Dari titik nol itulah bermula North 1 West 1 South 1 East 1. Angka akan semakin membesar ke arah yang dituju dan begitu sebaliknya. Panjang lebar satu blok kurang lebih 50-100 meter. Sebuah tata kota yang sangat memudahkan bagi para turis, yah, pelajaran berharga untuk Indonesia yang penamaan alamatnya dengan kecamatan, desa, RT, RW, dan tidak sedikit ditemukan nama desa yang sama, kecamatan yang sama, di daerah yang sama sekali berbeda. Hanya ada di Indonesia.

3100-an yen. Per malam. Mahal, sangat. Untuk ukuran hostel. Dengan shared room, dan shared bathroom. Aku sangat kaget dengan fakta kami hanya bisa mandi di shared bathroom. Meski berkali-kali pernah diceritakan dalam komik/anime bahwa di Jepang banyak sekali onsen – kolam bersama ; pemandian air panas – tapi aku sangat kaget ketika diberitahu bahwa tidak ada private bathroom dan hanya ada shared bathroom. Implikasinya, aku berkali-kali harus mencuri mandi di waktu yang sangat pagi untuk memastikan bahwa tidak ada orang lain yang mandi sepagi itu selain aku. Menjadikan shared bathroom eksklusif private bathroom. Fyuuh.

Aku lebih kaget daripada sangat kaget ketika dua mahasiswa UNPAD yang telah sampai lebih dulu bercerita tentang jalan-jalan singkatnya di Osaka sebelum ke Sapporo. Dengan penginapan private room, private bathroom, kulkas, penghangat, dapur kecil, dan televisi. Dihargai dengan harga yang jauh lebih ramah, jauh lebih murah. 1000-an yen. Per malam. Murah, sangat. Jika dibandingkan dengan disini. Yah, anggap saja 3000 yen adalah harga yang harus dibayar untuk mendapat penginapan dengan lokasi strategis, dekat dengan tiga destinasi utama kami di Hokkaido. Hokudai – Hokkaido University, JR Sapporo Station, dan Snow Festival di Odori Park.

Snow Festival? Ya, Snow Festival!

Hujan salju di Hokkaido dua hari sebelumnya. Hujan abu di Solo dua hari setelahnya. It is truly climate shock. …(bersambung…)

 

20140215 1712

Adi Sutakwa ; sore, mendung langit, mendung hati, di rumah.

Advertisements

One thought on “Jepang #5 ; Hujan.

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s