Jepang #6 ; Indonesia.


Pictures (175)Kami bertemu tidak sedikit mahasiswa Indonesia di penginapan, selain dua mahasiswa Unpad yang sekamar denganku, ada juga beberapa mahasiswi ITB dan UGM yang kuingat “senasib sepenanggungan” di penginapan ini. Hari ini, kami akan mengikuti serangkaian acara di Hokudai, melalui serangkain seminar dengan pemateri 3 profesor dan 1 mahasiswa S3 Indonesia. Akan banyak yang aku dapat, Jepang menjadi tanah pertama di luar Tanah Air ini yang ku jejak. Setelah kehidupan selama lebih dai 20 tahun.

Pertanian. Dulunya, Hokudai hanya mempunyai satu fokus disiplin ilmu, bernama Sapporo Agricultural College. Kemudian pada tahun 1876, Dr William Smith Clark rektor Massachusetts Agricultural College diundang menjadi Vice Principal Hokudai pada masa itu, membawa 2 profesor dan 11 mahasiswanya. Pada tahun 1907, Sapporo Agricultural College menjadi Agricultural College of Tohoku Imperial University. Kemudian beberapa fakultas lain tumbuh, School of Medicine, School of Engineering, School of Science, School of Fisheries di kampus Hakodate, Institute of Low Terperatures Science, Institute of Catalysis Reseacrh, dan yang terbaru adalah School of  Law. Sapporo Agricultural College adalah institut akademik modern pertama di Jepang.

Tujuh adalah gelar Hokudai saat ini. Universitas terbaik ke-7 di Jepang ini mempunyai filosofi yang disebut  “Frontier Spirit”, “Global Perspectives”, “All-round Education” and “Practical Learning.”. The Frontier Spirit represents the idealism that each student and staff member of our university should take up the problems of their generation and resolutely mark out a new path. This basic philosophy originated from the words “lofty ambition” uttered by Dr. W. S. Clark during the opening ceremony of the Sapporo Agricultural College. Filosofi ini yang dimana-mana kami temui dengan slogan jargon “Boys, be ambitious!”.

Kami kemudian disambut oleh sekumpulan manusia khas Indonesia di lobi gedung utama Environmental Earth Science Faculty, merampungkan urusan administrasi dan segera bertolak ke aula di latai dua. Pemandangan biasa seperti di seminar-seminar di Indonesia terpampang. Kursi-kursi terdepan yang lebih banyak kosong dan haburan tidak merata berkelompok sesuai dengan warna almamater masing-masing. aku tidak tau apa anggapan tiga professor yang akan menjadi pembicara nanti. Prof Noriyuki Tanaka, Prof Yuichi Kamiya, dan Prof Yosuke Okimoto. Dilengkapi dengan satu putra Indonesia bernama Dr Aditya Riadi Gusman. Resume khusus tentang materi yang disampaikan oleh para sensei akan saya muat dalam satu tulisan khusus pada edisi selanjutnya.

Penyampaian materi berjalan khidmat pada awalnya. Sekitar 60-an tim dari seluruh universitas di Indonesia tentu menjadi satu kegaduhan tersendiri menjelang akhir penyampaian materi. Tiap profesor selalu memulai materinya dengan sangkut paut Indonesia – seperti mengucap selamat siang, dan bahkan ada yang penelitiannya dilakukan di Indonesia, inisitaif ini cukup efektif untuk mengundang tawa dan memecah kebosanan diantara peserta meeting.

Di sela penyampaian materi aku sempat bertanya dengan salah satu panitia, apakah para pemateri tersinggung jika kami memotret slide presentasi mereka. Beliau menjawab sebaiknya jangan. Di jepang, semua yang berbau pribadi memang sangat private. Akan sangat tidak sopan jika kita menggangu kepentingan pribadi mereka. Karena di awal pun kami dihimbau oleh pembicara pertama untuk tidak menyebarkan apa-apa yang disampaikan diruagan itu karena yang disampaikan disitu memang khusus hanya untuk mereka yang berada di aula itu, untuk peserta HISAS 11th saja. Beberapa yang tidak tau akan menganggap budaya ini pelit dan egois. Namun orang jepang bukanlah egois karena sudah dibuktikan dengan sikap antusian dan kooperatif mereka saat kami mintai tolong di area publik pada hari kemarin.

Budaya private ini adalah bentuk penghargaan atas kerja keras – hasil penelitian, peserta meeting – seseorang. Tentu hal seperti ini tidak bisa disebut pelit atau egois. Ini justru menunjukkan bahwa masyarakat Jepang sangat menghargai karya dan kepentingan pribadi seseorang dengan cara tidak mengganggunya atau memberikan yang terbaik yang bisa dilakukan untuk membantu seseorang. Satu contoh lagi tentang perhargaan hak pribadi adalah soal menyeberang.

Sebelum sampai ke Hokudai, kami berjalan kurang lebih 3 blok dari penginapan. Cuaca cukup cerah walaupun matahari tidak banyak membantu kami menghangatkan badan. Sekitar sepuluh orang berjalan menuju Hokudai, jalanan sepi, hanya ada sedikit mobil dengan laju malu malu. Saat melewati salah satu penyeberangan tanpa traffic light, kami melihat mobil yang jaraknya lebih dekat dengan persimpangan ketimbang jarak kami. Kami berhenti dengan isyarat mempersilahkan mobil itu melaju lebih dulu, namun ia justru melambat dan menunggu kami semua menyeberang dengan aman. Hal ketiga yang harus mulai dibudayakan sebagai kesadaran di area publik, di Indonesia.

Acara berjalan sesuai rencana hingga tiba sesi oral presenation kami. Kami datang dengan keyakinan tinggi dan materi presentasi yang prima. Hasil penelitian dari pagi hingga sore, hasil begadang dari malam hingga fajar. All in english. Moderator memimpin forum dengan santai, nyaman dengan speaking-nya yang lancar dan jelas. Dimulai presenatasi. Dan agaknya kaget impresi pertamaku pada kawan-kawan di ruangan itu. Aku tergabung dengan Ayu, di scope yang berisi tentang agricultural science. Sementara Mba Titis dengan Upik di scope social science.

Ternyata. Beberapa peserta mempresentasikan penelitian ‘dadakan’ macam kami, penelitian yang dilakukan memang untuk mengikuti HISAS 11th ini. Namun, mayoritas peserta telah melakukan penelitiannya dalam satu tahun terakhir, ada yang enam bulan teakhri. Bahkan beberapa mahasiswa Master dan Doctor yang kuliah di Jepang – namun bukan di Hokudai – juga ikut mempresentasikan penelitian meraka. Mereka serius. Ini sebuah scientific meeting yang serius. Mayoritas mahasiswa dari Indonesia juga angkatan 2010, memang sudah waktunya melakukan penelitian. Bukan berarti meremehkan, namun seperti kecenderungan reasoning mahasiswa-mahasiswa penalaran di UNS harus lebih di upgrade. Agar serius dalam mengikuti conference. Menyajikan penelitian yang sebenar-benarnya penelitian.

Sore itu, sore ketika waktu mulai malas dengan rutinitas, sesi oral presenation akhirnya selesai. Seluruh peserta dihimpun kembali dalam ruang conference hall dan akan segera dilakukan closing ceremony. Wajah-wajah lelah. Wajah-wajah puas. Berbondong memasuki aula, duduk berpencar tak beraturan membaur dalam keramaian.

Konnichiwa. Selamat siang. Sontak seluruh peserta memandang sumber suara. Ada yang tertawa tipis mengejek dengan tatapan ‘salah salam tau, ini sudah petang menjelang malam, bukan lagi selamat siang’. Kemudian sang sumber suara menjelaskan. Di Jepang, jam 6 sore orang orang masih menggunakan konnichiwa. Jam kerja belum usai. Mahasiswa mahasiswi yang pulang pada jam 6 sore akan dianggap mahasiswa yang kurang rajin. Di jepang, pada umumnya jam 6 sore masioh merupakan jam kerja efektif. Serentak reaksi kejut ‘haah??’ keluar dari seluruh mahasiswa peserta HISAS. Aku hanya terkekeh melihat reaksi salah satu peserta yang tertawa tipis mengejek dengan tatapan ‘salah salam tau, ini sudah petang menjelang malam, bukan lagi selamat siang’ itu. Cultural shock. Hal ke-empat yang harus dirintis di negara salah satu peserta yang tertawa tipis mengejek dengan tatapan ‘salah salam tau, ini sudah petang menjelang malam, bukan lagi selamat siang’ itu, Indonesia.

Sebelum sesi foto bersama / tiap universitas rampung. Kam menyempatkan salat maghrib di musala yang disediakan di gedung itu. Ya, panitia berjumlah kurang lebih 30-40 orang, aku yakin cukup banyak Muslim di salah satu bagian negara Shinto ini.

Lina Mahardiani. Tiba tiba orang ini ikut naik ke atas panggung saat delegasi UNS dipanggil untuk menjalani sesi foto. Setelah ckup lama berbincang, Mba Titis kemudian tau bahwa beliau adalah dosen UNS, pendidikan kimia UNS. Merampungkan program sarjana di UNDIP, meneruskan program master di UGM, dan dengan penantian 5 tahun akhirnya terbang melanjutkan studi di Hokudai. Ia, yang kemudian menjelaskan berbagai ‘rahasia’ tentang Hokkaido dan Jepang, yang belum kami tau sebelumnya. Juga yang malam itu mengantar kami berlari-lari di sepanjang Odori Park. Snow Festival.

Snow Festival? Ya, Snow Festival!

20140224 1307

Adi Sutakwa ; siang, pinggul yang linu. Boyokan.

Advertisements

One thought on “Jepang #6 ; Indonesia.

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s