Indofood Riset Nugraha #2 – Otentik


wlifesandry.blogspot.com
wlifesandry.blogspot.com

Sebagai pengecap higher education level kita sebagai mahasiswa tidaklah pas rasanya jika mimpi dan visi kita masih sama dengan anak SD. Yang saya maksud bukan dari segi kualitas, namun dari segi kuantitas. Bagi saya, seperti yang saya tulis sebelumnya, mimpi adalah proses. Itu artinya, secara kuantitas, mimpi tidaklah tunggal dan berbatas oleh kaya miskin, atau pemisahan strata sosial lainnya. Yang paling penting adalah ia jelas, spesial, dan bertanggung jawab. Itulah, otentisitas mimpi, mimpi yang otentik. Berbeda tiap individu tiap kepala, tapi satu dalam kualitas, jelas, spesial dan bertanggung jawab.

Kisaran Maret 2014 aku lihat bahwa mimpi itu datang, menagih aksi dari kata tahun lalu. Ia menantangku menagalahkannya, menaklukannya, menguji apakah frasa istiqomah masuk dalam leksikal tabiat pribadiku atau tidak. Maka tentu aku berkata pada diri sendiri, challenge accepted!

Indofood Riset Nugraha (IRN) akan publikasi pada bulan sekitar Februari Maret setiap tahunnya. Akan berbeda kunci temanya pada tiap tahun, namun satu kata kunci akan tetap masuk – selama pengamatan saya – adalah ia Diversifikasi Pangan. Fokus program ini agaknya terus untuk melakukan eksplorasi dan inovasi pangan berbasis sumber daya alam Indonesia.

Tidak kurang dari 5 Profesor dari beberapa universitas ternama dr penjuru Indonesia mengisi pos-pos Tim Pakar yang disiapkan untuk menilai proposal kami terkai tema dan topik yang ditawarkan. Dari Pemimpin Redaksi majalah Pangan paling populer di Indonesia – FOOD REVIEW – Prof Purwiyatno Hariyadi hingga ia yang dikenal oleh kalangan foodtechnologist sebagai Bapak Teknologi Pangan Indonesia Prof FG Winarno, menambah ‘kengerian’ jajaran Tim Pakar. Di posisi lain, berjajar nama Prof Bustanul Arifin, Prof Budi Prasetyo Widyobroto, Prof Ambarriyanto, dan Dr Wijaya Lukito. Semuanya menyandang predikat expert di konsentrasi ilmunya masing-masing.

Aku cukup terbantu dengan saran dari kakak tingkat sebelumnya yang juga lolos IRN 2013, satu-satunya yang mendaftar, dan satu-satunya yang lolos. Tahun ini? Inspirasinya menjalar dan beranak pinak menjadi 3 yang mendaftar, dengan tingkat keberhasilan ±66% – artinya 2 dari 3 pendaftar dari ITP FP UNS lolos menjadi penerima manfaat IRN 2014.

Penelitianku terjudul Pati Resisten Tepung Pisang Batu (Musa Balbisiana C) Hasil  Modifikasi sebagai Diet pada Tkus Diabetes Induksi Streptozotocin. Sementara kawanku satunya – perempuan – langsung tembak pada produk pangan dari tepung dan daging alternatif, bakso dari tepung gembili dan daging ikan tongkol. Akhir Mei adalah titik mula perjuangan mimpi ini, proposalku diterima. Dan karena itu, aku merasakan pengalaman pertama melakukan transaksi huku secara legal, penandatangan perjanjian kontrak yang panjang rinci dengan bahasa hukum yang sulit dimengerti, diatas matera 6000 – karena itu juga, mulai bulan Juni hingga penelitianku selesai tahun depan, aku punya potensi untuk dipenjara, dengan syarat melanggar kontrak kerjasama yang mengerikan itu.

Mimpi yang mengerikan bukan? Dipenjara? Siapa yang ingin dipenjara? Meski kadang terbersit juga untuk merasakan penjara, membayangkan bahwa produktifitas akan melesat seperti Buya Hamka yang melahirkan Tafsir Al Azhar, Ibnu Taimiyah yang dijebloskan ke penjara oleh 3 penguasa Suriah dan Mesir bertutut-turut, muridnya Ibnul Qayyim Al-Jauziyah pun turut masuk ke bilik penjara hingga membuatnya tercatat dalam sejarah karena menyelesaikan Majmu’atul Fatawa, dan yang paling haru tentu Asy-Syahid Sayyid Quthb yang meramu sebuah Masterwork – menurut Paul Berman – tafsir Fii Zhilalil Quran sebelum akhirnya berakhir di tiang gantungan. Penjara mendekatkan jiwa pada Sang Penggenggam Hati, dan menyalakan jiwa untuk kepentingan ummat. Bagaimana? Mau?

Jika memilih, secara tegas kita akan memilih untuk hidup bebas, tap tentu karena Islam, hidup kita tetaplah bebas, namun teratur, dari ujung kaki hingga ujung rambut, dari fajar menyongsong hingga malam menyambut. Tapi tetap dengan tujuan penciptaan kita, menjadi khilafah (pengatur) muka bumi dan beribadah kepada Yang Maha Mengatur.

Dan karena semua itulah mimpi menjadi karya yang otentik. Buah dari visi dan keyakinan yang berpadu. Akarnya niat dan iman untuk meninggikan Asma Allah Azza wa jalla. Batangnya kuat dan kokoh hasil dari kerja dan waktu yang tanpa sia-sia. Dan daunnya rimbun menyejukkan karena ia memberi kemanfaatan dalam perlindungannya dari panas godaan kemaksiatan.

Karena itulah mimpi menjadi otentik. Karena ia jelas, spesial, dan bertanggung jawab. Karena ia adalah kesuksesan, hasil dari bertemunya kesiapa dan kesempatan.

(bersambung…)

Sutakwa

20141020 1118

References

  1. Casofa, Fachmy. 2014. Spirit Menulis untuk Dakwah.
Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s