Sekolah Alam Bengawan Solo #1 – Gerbang Lingkaran


Fanpage SABS
Fanpage SABS

Inilah cerita yang sesungguhnya. Adalah bilangan awal 2013 aku datang ke tampat ini. Malam itu hujan, rintik tapi dingin meremukkan tulang. Basah, berbalut amis kandang burung dara. Saat itu gelap, aku tidak tahu dan tidak melihat jelas. Hanya berbayang rerumahan pohon yang seolah tak terawat. Becek, licin, kotor, sama sekali tidak nyaman. Saat itu pertama kali aku masuk lewat gerbang lingkaran. Gerbang yang tidak terlalu kuhiraukan. Gerbang lingkaran itu.

Minggu, tepat dua bulan yang lalu,  24 Agustus 2014. Aku duduk diam, tenang, damai, memandangi Gerbang itu, Gerbang lingkaran itu. Saat itu malam, tidak basah, tidak, licin, atapun kotor. Tidak ada hujan, tidak juga rintik yang dinginnya meremukkan tulang. Tidak lagi terdengar bau amis kotoran burung dara. Malam itu malam terakhir aku disana. Terhitung hingga hari ini.

Gerbang lingkaran itu. Ia yang kali itu tidak aku hiraukan, ia yang waktu itu aku remehkan, ia yang kala itu sama sekali tidak spesial. Tapi hari ini, detik ini, aku merindukannya. Benar, gerbang itu telah mengubah sejarah hidupku. Ia akan hadir sebagai bagian cerita panjang yang akan aku tuturkan pada trah keturunanku. Ia penting. Gerbang lingkaran itu. Ialah Sekolah Alam Bengawan Solo.

Lebih tigapuluh malam aku bermalam di sekitar sini, tidak jauh dari Bengawan Solo yang menawan. Ini adalah suangai purba yang menyejarah, konon disini tempat leren (berhenti sejenak) oleh pada saudagar dan rombongan kerajaan Mataram. Kenapa di sungai? Tentu saja jelas, jalan tercepat menuju kemana saja pada zaman itu adalah sungai. Bagaimana tidak, hutan masih lebat dan menyeramkan di bumi Javadwipa ini. Penjajah belum singgah, masa kerajaan sedang merajai masanya kala itu. Arif, dan bijaksana, hidup berdampingan dengan alam.

Itu hanya salah satu alasan kami, diantara ratusan alasan lainnya yang memantapkan hati kami untuk datang kesana. Menenangkan hati lewat senyum dan tawa itu. Rajuk dan tangis itu. Apalagi jahil dan kerubungan itu. Iya, mereka itu anak-anak SABS. Inilah tempat yang menghubungkan semua jaringan silaturahmi itu. Dari Indrawan Yepe hingga komandan Grup Kopassus Kandang menjangan. Mulai Bio Janna hingga Garuda Indonesia. Dan orang-orang yang berbaris bersamaku, dari Presiden BEM FE UNS hingga Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Peduli Pangan Indonesia.

Pra-kerja dimulai pertengahan Juni 2013, pembentukkan tim, pengumpulan ide, penyusunan proposal, lantas rutin bolak balik ide dan revisi. Pertengahan Desember 2013 barulah kami proposal kami kirimkan final ke pihak penyelenggara, DIKTI. Ini adalah program pembiayaan KKN oleh DIKTI, syaratnya? Tentu saja ide yang relevan dalam bentuk paripura berupa bendel proposal. Kelak, kami menamai diri sebagai #JWR49. Empat puluh sembilan orang yang berbaris, bergerak, bersatu merangkai cerita untuk kita, mereka, dan semua. Cerita tentang kebangkitan dan jatuh berdebam.

Ialah Lita Rahmasari dan Dimas Rahadian Aji Muhammad, dua dosen muda enerjik yag saling melengkapai dan bersiap sedia pikiran, badan, harta, dan bahkan kesehatan untuk runtun menuntun kami mulai pra hingga pasca yang melelahkan dan melegakan. Matur sembah suwun Bapak, Ibu. Kurang lebih total 365 hari proses penuh KKN ini. Bertemu orang baru, bertemu kawan lama, rombak tim di kanan kiri atas bawah, berbenturan dengan jadwal magang, dan banyak lagi dinamika yang lainnya.

Disini kami belajar tentang kehidupan, dan kehidupan menguji hasil belajar kami. Ada yang kerap berdengki. Ada yang punya tabiat berkonflik. Katanya lebih dari 7 tahun tidak berdamai. Ada lagi sentimen diantara keluarga. Ada pula benci dan dendam hingga penjara dibawa dalam kehidupan bertetangga.

Tapi ada tawa anak yang matanya berbinar penuh harapan akan masa depan. Ada sawah hijau tempat mereka berlarian dengan riang. Ada jamuan makan malam yang tak memandang harga dan rasa, semuanya tulus disajikan untuk tamu yang dimuliakan. Ada rumah yang 24 jam bisa dimasuki dan tetap hangat dan menghangatkan hati, badan dan pikiran. Ada cinta, pada belantika dan belantara sosial yang diragamkan Allah Azza wa Jalla.

Inilah kisah cinta hamba pada Tuhannya. Inilah kisah dipinggiran Bengawan Solo yang purba. (bersambung…)

Sutakwa

20141024 2227

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s