Sekolah Alam Bengawan Solo #2 – Festive!


id.wikipedia.org
id.wikipedia.org

Malam itu benderang oleh sorot LCD Projector, sebenarnya terang lebih karena gemintang yang berjajaran berhamburan tak beraturan di atas sana. Juga kejar-kejaran anak-anak SABS yang tidak juga lelah kesana kemari. Ada juga yang keibuan dengan berteriak pada teman-temannya untuk jangan terus berlarian. Ada yang diam dan tampak asik sendiri dengan lampion kotak (bukan lampion terbang) buatan bersama. Ada lagi yang jahil bergelayut di punggung dan pundakku, tertawa-tawa lelah setelah lama berlari-lari.

Orang tua murid tampak santai duduk diatas lincak-lincak dekat pepohonan, mereka saling bertegur dan berakrab sembari menyiapkan jagung dan api sebagai acara penutup bersama. Inilah malam dimana para orang tua akan mendengar dan didengar. Mendengar tentang perkembangan anak mereka selama berbulan-bulan di alam raya Bengawan Solo, dan didengar keluh dan kesah serta tanggap pendapat perkara anak mereka dengan tingkah dan polah di rumah.

Banyak pula muda-muda dengan wajah mahasiswa turut hadir sebagai pelaksana teknis. Beberapa dari UMS, beberapa dari UNS, kesemuanya terikat pada organisasi masingmasing, tentunya organisasi yang bergerak dalam ranah sosial, fokus pada dunia pendidikan, dan mencintai semua tentang anak-anak. Inilah malam berkumpul yang ramai, lengkap, seolah semua unsur hingga golongan hadir mendukung malam ini, malam festival. SABS Festival!

Sorot projector itu yang sebentar lagi akan menggambarkan gambar-gambar berjalan bernama video. Film tentang anak dan pendidikan akan diputar di layar bersih itu, sesuai dengan mayoritas penonton yang juga masih bocah. Puluhan penganan tradisional buatan Bu Yudi akan disuguh, memuliakan tamu sekolah unik yang didirikan Pak Yudi ini, sekolah yang  berlatar sejarah panjang.

Tanah tempat berdirinya rumah pohon ini hampir seluas separuh lapangan sepak bola, tidak cukup besar, namun cukup layak dan menyenangkan untuk anak-anak yang penuh semangat itu. Tepat di samping sungai Bengawan Solo yang mengalir dari waduk Gajah di Wonogiri dan gunung Lawu di Karanyangar, hingga bermuara di Laut Jawa yang tenang. Panjang lebih dari 600 km tidak akan habis diarung dalam semalam, menguatkan eksistensinya sebagai sungai yang gagah menjadi nomor wahid sebagai sungai terbesar dan terpanjang di tanah Jawa. Kegagahannya pula yang menjadikan sungai ini lembut menyelamatkan burung besi Garuda Indonesia penerbangan 421 pada 12 tahun lalu, pertengahan Januari.

Kelak kemegahan itulah yang menjadi landas gagas kami untuk mengangkat kembali sungai yang purba ini, sungai yang menyaksikan manusia sejak Indonesia belum bernama Indonesia. Dengan upaya penuh dan bantuan pihak-pihak yang hidup menetap dekat dengan sungai, kami bulat tekad mencanaangkan tajuk megah berjudul Bengawan Solo Festival (BSF) 2014. Tapi tentang BSF bukan kali ini akan saya bahas sekarang.

Festival malam ini spesial. Ini kedua kalinya aku bermalam disini, setelah kesan pertama dulu yang salah kaprah. Kini aku hadir dengan bungah dan cerah menyongsong malam dan pagi untuk anak-anak ini. Esok pagi, kami akan membelah sawah, melawan rumput ilalang, dan bertarung dengan dingin sejuk segar harum pagi yang menentramkan.

Inilah komunitas dimana anak-anak seumur SD dibiasakan menggunakan jilbab bagi yang putri, dibiasakan menjaga jarak pada yang bukan mahram hingga ada yang berkata “mas jaga jarak 1 meter” saat aku mendekati salah satu anak putri itu untuk sekedar menggoda. Inilah tempat dimana salat subuh adalah “wajib” bagi mereka yang bahkan belum baligh, dimana pembelajaran adalah belajar dari alam dan kehidupan nyata, bukan teori dan buku akademik yang makin sembrono akhir-akhir ini. Dan disinilah, mereka disiapkan untuk menjadi pemuda unggul pada masanya, membawa Islam semakin agung namanya, dan Indonesia semakin harum namanya.

Paska salat subuh kami bergeriliya menyusur gelap dan becek jalan desa, banyak penduduk menatap heran – bahkan katanya ada yang mencibir “cah cilik kok dijak dolan mbuh subuh-subuh”. Tapi inilah kami, generasi yang disiapkan untuk hidup dan mati bukan karena sanjung dan cela, yang bangun dan tidur bukan karena uang dan derita, yang tertawa dan menangis bukan karena harta dan celaka.

Selepas jalan desa habis, kami jelang pinggiran sawah yang lapang, hijau, segar, dan menentramkan. Inilah harta pagi yang tidak dimiliki para pemalas. Kami menyusur jauh sesekali berhenti karena keluh lucu adek-adek yang menggemaskan. Lantas berbasahan di kali kecil yang keruh karena gangguan kaki-kaki mungil tanpa rasa ragu. Memutar melingkar hingga jalur terluar kampung, berpapas dengan kerbau yang harum badannya aku rindukan.

Tiap kelompok kecil dituntun mas dan mbak mahasiswa yang asing bagi mereka. Sesekali bermanja minta dibawakan tas yang berat entah apa isinya. Beberapa kehilangan sandal yang mereka buang karena putus dalam perjalanan. Satu dua mencoba mengecap bunga dan daun yang entah apa rasanya. Sebagian malah ada yang menyerah dan merengek pulang di tengah jalan. Tapi semuanya bersorak kegirangan saat perjalanan berakhir. Kembali ke rumah pohon yang damai. Kembali ke sekolah yang menjadi rumah kedua bagi mereka. Kembali ke Bengawa Solo yang megah. (bersambung…)

Sutakwa

20141026 1928

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s