Sekolah Alam Bengawan Solo #3 – Orang Asing


dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi

Inilah wangi tanah, harumnya yang kurindukan tak kudapati di tanah yang dianggap penduduknya sebagai tanah Dewa Matahari. Hujan di bulan Oktober, sungguh memanjakan indera pencium dengan kaya wangi yang manis dan hangat. A pleasant smell, begitu diartikan oleh kamus Oxford. Istilahya? Petrichor. Tentu saja aku rindu, seingatku lebih dari 30 hari di tanah asing (tanah Gondangsari Serenan) tidak lebih dari 2 kali hujan mengguyur, saat itu bulan Agustus. Ditambah kering panas yang mengucurkan peluh di bulan September, dan baru-baru saja tidak lama dari kemarin, hujan turun di bulan Oktober.

Mungkin KKN ini tidak berasa prestige seperti mereka yang di tanah Papua, atau di pulau Borneo, atau di pulau Nusa baik yang barat atau timur, atau yang baru-baru ini akan berangkat ke Sabang, Maluku, Aceh tanah serambi Mekkah. Tapi KKN ini adalah buah kerjasama bersama keyakinan dan persahabatan. Kami yang taat pada Sang Pencipta untuk saling mengenal di bumi, berbaris lurus dan ikut terjun untuk pendidikan anak-anak, untuk para petani – golongan yang menerima Rasulillah shalallahu alaihi wassalam dengan antusias dan penuh suka cita di tanah para petani, Madinah. Dan berharap sedapatnya menjadi pendamai, dari konflik yang panjang berulin pilin.

Seratus juta rupiah, adalah pendanaan yang kami ajukan untuk membiayai pengabdian kami kepada masyarakat disini. Dana yang turun? Belum jelas hingga sekarang, namun yang kami tau, para panelis itu malu ketika Bu Lita menyampaikan progres KKN kami. Delapan puluh persen berjalan on the track, pada audit pertama. Nol rupiah turun dari DIKTI. Lima menit yang membuat DIKTI malu. Uang terpakai? Lebih dari tiga puluh juta rupiah. Uang siapa? Yang jelas bukan uangku atau uang kami.

Hari berlalu, hujan berlalu, panas menjelang, barulah kami tau bahwa itu uang Ibu Bapak Dosen yang terhormat. Tidak seperti Dosen Pembingbing Lapangan (DPL) yang kami tau. Ibu Bapak kami ini datang lebih dari 6 kali sepanjang keberjalanan pengabdian ini, ketika DPL lain entah dimana hidung dan rupa ketika konflik rumah singgah menyeruak. Sampai muaranya Ibu Bapak kami yang kena getah dan fitnahnya. Tidak seperti yang lain, Ibu Bapak kami selalu membawa jajanan sederhana yang tidak pernah kami duga, sederhana karena kami sendiri bisa membelinya. Tapi jajanan ini bukan lagi tentang harga, bukan lagi tentang rasa, tapi tentang waktu, tenaga, dan kepedulian yang mereka sisihkan dari sibuk akademik dan dinamika berkeluarga. Inilah keluarga kami, keluarga #JWR49 yang satu.

Kamilah orang asing yang  tak tahu menahu apa-apa. Tidak mengerti soal sejarah dan asal mula. Tidak paham soal perkara dan peristiwa masa lalu. Tidak berhak ikut campur dan rembug tentang apa sikap dan tanggap di masa depan. Itu, mungkin dalam benak mereka. Kamilah orang asing yang sekedar numpang lewat tidak lebih dari 40 hari, maka tak layak mendamaikan pertarungan antar keturunan. Kamilah orang asing yang sok tau, tidak tau sudah hampir lebih sewindu riak-riak permusuhan mengambang di wilayah ini, di kaki-kaki tepian Bengawan Solo yang purba.

Bab inilah yang paling banyak memberikan kami santapan berharga tentang hidup dan kehidupan. Tentang urip kang sejati, yang seharusnya nguripake samubarang kang kudu urip lan diuripake. Tentang bagaimana bersikap diantara prasangka dan curiga. Tentang bagaimana menyaring pinta dan tuntut berbagai problem di desa. Tentang bagaimana bersikap objektif, bukan netral. Karena sungguh netral itu dekat dengan mengingkari kebenaran.

Ide dan niat awal adalah pengembangan SABS habis-habissan. Berbelok jadi mandat tanpa cacat dari sang Ketua KKN menjadi pengabdian di 2 desa. Maka kami rewrite “bahasa pemrograman” tentang pokok pengabdian kami menjadi luas dan lebih rinci. Dua desa, enam dusun, 6 kelompok, 49 orang. Fokus pendidikan diejawantahkan menjadi turut mengajar SD, TPA, dan SABS. Fokus pertanian diwujudkan dalam bentuk taman dan tetumbuhan hortikultura untuk masyarakat secukupnya. Fokus lingkungan menjadi bank sampah dan biopori tinggalan yang Insha Allah tepat guna.

Maka itulah orang asing, yang tempo hari diundang ke acara slametan para pemuda desa, yang sesekali di sms “mba ayo ngajar lagi disini, TPA nya sepi kalo ndak ada mba mba nya”, yang beberapa kali ditawari untuk menginap kapanpun kami butuh, yang bahkan salah satu dari kami tetap tegak lurus dengan niat menyelesaikan skripsi di tanah asing itu. Inilah kami orang asing yang selalu disambut dengan senyum dan harapan. Diandaikan dapat mengubah keadaan. (bersambung…)

Sutakwa

20141027 2216

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s