Sekolah Alam Bengawan Solo #4 – Anak, Nilai, dan Kepemimpinan


encrypted-tbn2.gstatic.com
encrypted-tbn2.gstatic.com

Beberapa waktu lalu telah dilantik 34 menteri hasil “hak prerogatif” Presiden Republik ini untuk 2014-2019. Jauh dari itu semua, dulu kala janji dan mahar politik diobral dipinggir-pinggir jalan, ada yang menjajikan 1 miliar untuk tiap desa, ada yang seolah ingin mengunggulu dengan redaksi “rata-rata 1,4 miliar” tiap desa. Uang sebanyak itu, mulai kami pikirkan, akan jadi ada di dua desa yang belum dewasa ini. Atau di desa-desa lain yang bahkan belum remaja. Tidakkah hanya lebih banyak mudharatnya?

Salah satu rencana tambahan kami disini – di tempat KKN – adalah membimbing warga menyusun RPJMDes (Rancangan Pembangunan Jangan Menengah Desa) yang pada akhirnya tidak sempat pula ami jalankan. Selain karena antusiame dan pengertian warga yang sedikit, beberapa pihak seolah ingin meredam niat kami untuk “ikut campur” dalam perkara RPJMDes ini. Padahal, tahun 2015/2016, dana ini akan turun. Dan sangat berpotensi menjadi ladang korupsi baru. Potensi konflik baru. Perebutan jabatan Kepala Desa, perangkat desa, hingga bayan desa. Entahlah, benarkah ini akan menyejahterakan?

Nilai. Unggah ungguh, hospitality, tepo seliro, entah sebenarnya masih ada atau hanya rekaan. Saat ini bankan kami menyaksikan secara laangsung, rakyat di tingkat ujung akar rumput pun terjebak oleh politik praktis dan pragmatis. Asal mulanya tentu alat tukar yang menyengsarakan, uang. Karena uang orang yang tidak menahu politik mencebur tanpa lirik kanan kiri. Karena politik, orang yang awalnya bisa hidup tanpa uang ikut tercampur jadi ketergantungan. Uang, bukan lagi alat tukar, tapi harta dan diberhalakan. Salah kaprah, sangat salah.

Disadari atau tidak, kami masuk ke dalam kehidupan anak-anak disini. Tempatku bernaung, dukuh Kedungpacul namanya. Tidak lebih dari 15 anak yang tinggal dekat dengan posko kami, katanya sih mencapai 60 anak saat TPA dimulai. Aku ingat pertama kali datang, kami disambur mereka yang berkejaran dengan mobil bak sewaan, cara kam memindah barang dari kecamatan ke induk semang. Aku ingat wajah malu-malu itu, wajah ingin tahu hal baru yang tidak setiap bulan akan mereka dapati. Aku ingat binar harapan anak-anak yang mungkin belum mengerti apa arti harapan.

Beberapa kali, kami kerap mengajak mereka melakukan hal baru. Menyusur sawah yang tiap hari hanya terlewat dalam rutinitas mereka. Membuat bingkai dari kertas kardus yaang sederhana. Dan menggambar, mungkin menjadi salah satu yang paling tidak mereka sukai, beberapa berkali-kali bilang “mbak nggak bisa nggambaarr…”. Begitulah. Bagiku semua orang pernah mengalami masa “tidak bisa menggambar” bahkan bagi mereka para pelukis mahsyur sekalipun.

Ada satu diantara mereka yang jika diistilahkan dalam amus jawa disebut kalem. Anak laki-laki, umur kelas 6 SD. Ia yang rutin memanikan peran muadzin tiap dhuhur dan ashar, ketika pada hari kerja mayoritan laki-laki berbasah lumpur di sawah. Dari wajah dan perawakannya, aku tahu dia akan tumbuh menjadi laki-laki yang tenang, bijaksana, dan bertanggung jawab. Ibu atau bapaknya memberi nama Danang. Dan dialah yang membuatku berpikir, bagaimana cara agar anak-anak disini bisa kuliah? Hingga sampai pada satu kesimpulan relevan, mencarikan beasiswa untuk mereka kuliah, dan mencarikan tempat singgah bagi mereka bernaung. Inilah anak-anak yang akan memegang tampuk kepemimpinan masa depan. Maka mereka harus didorong, harus ditopang.

Ada satu episode tentang kepemimpinan yang membekas di benakku. Mbah Guru, begitu ia biasa disapa. Pensiunan guru yang kini mengabdikan diri memasang dan merawat bendera, buah keterampilan dan pelatihan kemiliteran yang ia dapat di masa muda. Jika di-angka-kan, mungkin usianya sudah lebih 80 tahun. Ia banyak berkisah, tentang perjuangan di masa PKI, tentang jambore-jambore pramuka yang ia ikuti hingga ke pelbagai daerah di Indonesia. Dan yang paling sering ia kisahkan, tentang bendera besar dan lebar yang masih ada di rumahnya, tidak lagi dipakai karena sudah terlalu lusuh dan kotor. Yang tersisa sezaman dengan bendera itu adalah tiang setinggi 10-an meter. Tiang yang gagah, tentu saja tiang peyangga sang merah putih.

Kisah dan tutur sejarah oleh para pelaku sejarah memang sangat mengesankan. Bagiku yang sangat menggandrungi sejarah, adanya Mbah Guru dan Mbah Gito (induk semang kami) adalah harta yang baru kali ini aku temukan. Harta masa lalu, kepemimpinan dan kearifan para pelaku sejarah. (bersambung…)

Sutakwa

20141029 0321

Advertisements

Reply me, or Comply me. Or just leave me a message.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s